Situs berita bisnis, UKM, entrepreneurship, inspirasi sukses, dan industri kreatif di Indonesia

3 Provinsi ini Jadi Pasar Potensial Bisnis Properti

2 min read

Foto: ist

Read Time1 Minute, 57 Second

TOPRENEUR.ID – Prospek bisnis properti khususnya perumahan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) diyakini masih sangat besar. Hal ini dikatakan oleh Junaidi Abdillah selaku Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi). Apersi dengan jumlah anggota 2700 pengusaha properti, fokus pada pembangunan perumahan MBR.

Menurutnya, inisiatif Program Sejuta Rumah yang digagas pemerintah adalah sesuatu yang sangat baik. Program tersebut merupakan wujud niat pemerintah untuk menyejahterakan masyarakatnya. “Ini adalah terobosan bagus. Tapi masalahnya di lapangan masih banyak kendala, misalnya, harga jual tanah yang tinggi, harga material yang suatu saat naik, perizinan di daerah yang masih sulit. Di daerah, urusan pembangunan rumah MBR ini tidak bisa lebih mudah, lebih murah, dan cepat,” katanya.

Junaidi melihat komitmen pemerintah sudah cukup baik. Kecepatan dan kemudahan yang diberikan sudah baik. “Hanya saja pergerakan di daerah masih lambat. Yang pasti komitmen pemerintah daerah masih kurang,” ujar dia.

Sebagai pengembang perumahan bagi masyarakat, dirinya merasa bangga lantaran bisa ikut andil dalam mewujudkan rumah impian bagi masyarakat. Tapi seharusnya hal ini juga didukung dengan partisipasi daerah yang antara lain dengan kemudahan yang diberikan kepada para pengembang.  

Pada 2018, misalnya, Apersi menargetkan membangun antara 130 ribu hingga 150 ribu unit rumah. Sebarannya paling banyak di Jawa Barat, Banten, dan Jawa Timur. Tiga daerah ini menjadi andalan, sebab yang paling banyak dibangun rumah MBR oleh anggota Apersi.

“Sebenarnya kondisinya mulai berat. Kendalanya, saya melihat daya belinya menurun, lalu masyarakat yang bankable juga jumlahnya tinggal sedikit. Masyarakat berpenghasilan tetap yang bankable ini sedikit, sementara masyarakat kita itu yang paling banyak adalah yang non fix income. Mereka butuh rumah tapi tidak bankable,” sebutnya.

Ia mencontohkan, sebagian besar masyarakat yang tidak berpenghasilan tetap, misalnya, para pedagang. “Dia ada usaha tapi tidak ada izinnya. Data usaha tidak ada, meskipun perputaran uang tiap hari kelihatan. Ini lemahnya masyarakat kita, data kita lemah.”

Dengan kendala harga tanah yang tinggi, perizinan di daerah yang masih belum maksimal, dan daya beli masyarakat yang berkurang, dirinya pesimis bisa mencapai target. Ia melihat jika masyarakat saat ini lebih terkonsentrasi kepada pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari daripada membeli perumahan. Meskipun pemerintah sudah mendorong dengan sejumlah kemudahan seperti 1% uang muka, bantuan uang muka, dan lainnya.   

Di sisi lain, pelaku usaha di bidang properti terus bertumbuh. Kabar baiknya, tren pengembang yang menggarap rumah-rumah bersubsidi semakin banyak. Tren ini terjadi lantaran daya beli rumah nonsubsidi terjadi penurunan yang drastis. “Para pengembang banyak yang beralih dengan menggarap rumah subsidi.”

0 0

About Post Author

Muh Haikal

Editor
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *