Situs berita bisnis, UKM, entrepreneurship, inspirasi sukses, dan industri kreatif di Indonesia

7 Bisnis Paling Prospektif Menurut Yeheskiel Zebua

4 min read

Yeheskiel Zebua/Foto:ist

Read Time4 Minutes, 16 Seconds

Hidup susah dan mengawali bisnis dari nol, itulah yang dialami oleh Yeheskiel Zebua. Penulis buku Rocket Marketing dan owner perusahaan Volution Travel Provider ini dikenal pula sebagai public speaker. Poin penting yang digarisbawahinya, pilihlah bidang bisnis dari yang paling menguntungkan, bukan dari yang paling disukai.   

Perjalanan hidup pria berusia 25 tahun ini tidaklah mudah. Yeheskiel Zebua, dilahirkan dari keluarga sederhana, ibunya berasal dari Ambon sementara sang ayah dari Pulau Nias. Mereka menghuni rumah sederhana di Jakarta.

Saat Yeheskiel duduk di bangku SMA, ibundanya mengalami sakit kanker indung telur stadium akhir. “Saya ini orang susah, jarang sekali ke rumah sakit. Tapi sekali masuk rumah sakit, ibu saya langsung kena kanker. Ekonomi kami makin hancur. Pada akhirnya, ibu saya pun tidak tertolong, beliau meninggal dunia,” katanya.

Pasca ditinggal ibunda, Yeheskiel dipaksa untuk bisa hidup mandiri. Saat itu yang dilakukannya adalah dengan memulai berjualan. Diakuinya, ia menjual produk apapun dari pulsa, air oksigen, sampai membuat warung kaki lima. “Usia saya kira-kira masih 16 tahun. Jadi, kalau pagi saya sekolah, malamnya dipakai untuk berjualan,” aku dia.

Tanpa disadari oleh dirinya, justru hal itulah yang kemudian menggemblengnya untuk semakin mandiri dan piawai dalam berbisnis. Meskipun umumnya bisnis yang dijalaninya tidak berlangsung lama. Tapi pengalaman mencoba bisnis dari yang offline; mengasong, bisnis MLM, sampai bisnis online membuat Yeheskiel kian tangguh.

Lalu, dia mulai merambah ke bisnis agen properti, menjual buku, bisnis tanah, sampai seminar. “Segala sesuatu kan berproses. Bisnis yang saya lakukan banyak yang tidak bertahan lama. Nah, bisnis yang cukup bertahan itu, saat saya menjadi distributor case iPad. Di Indonesia kala itu sedang ramai-ramainya iPad. Saya ambil produknya dari Bandung, lalu saya kirim ke Surabaya, Kalimantan, dan beberapa daerah lain,” sebutnya.

Bahkan, peluang yang kian membesar, membuat Yeheskiel mencoba peruntungan lain dengan memasuki bisnis handphone. Di usianya yang masih belia, dirinya sudah sangat terlatih dalam menjual produk-produk terkini. Namun, pada akhirnya bisnis yang dilakukannya harus bernasib sama: bangkrut.

“Dari setiap kegagalan itu saya selalu belajar bahwa bisnis itu memerlukan proses. Semakin kita sering belajar maka semakin kita jago dalam mengatasi masalah. Oleh sebab itu, saya banyak invstasikan dana untuk mengikuti beragam seminar, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Dengan ikut seminar, keputusan-keputusan bisnis saya menjadi lebih baik dibanding sebelumnya,” ucapnya. Beberapa mentornya antara lain Tung Desem Waringin dan Ippho Santosa.

Dengan belajar dari para mentornya, membuat Yeheskiel juga akhirnya menguasai ilmu public speaking. Ia menjadi pembicara di berbagai kegiatan seminar sebelum kemudian dirinya membuat buku yang cukup fenomenal, Rocket Marketing. Ditulis dalam waktu 3 hari dari kumpulan materi-materi seminarnya, kabarnya buku tersebut saat ini telah terjual hingga 40 ribu eksemplar. “Saya ini kan senangnya bukan menulisnya, tapi jualannya. Jadi sebelum dijual di toko buku, saya jualin sendiri dulu. Dalam tempo 3 hari, buku itu terjual hingga 3.000 eksemplar.”

Yeheskiel juga bercerita terkait inti dari materi bukunya. Salah satunya adalah omset sebagai akibat. “Fokus saya di strateginya bukan di omsetnya. Karena omset adalah akibat, maka galilah faktor-faktor yang bisa melejitkannya. Misalnya, strategi yang bisa dijalankan, produk/jasa harus unik. Unik itu bisa dari 3 hal; produk, servis, dan harga,” ulas dia.

Sejak tahun 2014, Yeheskiel pun terjun ke bisnis travel dengan nama Volution Travel Provider. Perusahaan yang dirintisnya bergerak di penjualan ticketing, private tour, yang kemudian berkembang juga ke pembayaran PPOB (listrik, BPJS, pulsa, dan lainnya). Bahkan, rencananya akan dikembangkan ke sembako, dimana nantinya para agen bisa menjual aneka produk yang ada di minimarket.

Ketangguhan Yeheskiel dalam bisnis pun ditunjukkan di bisnis ini. Diakuinya, di tahun pertama dirinya mampu menjaring agen sebagai mitranya hingga 1.000 orang. Sampai saat ini, total agen yang dimilikinya telah mencapai 10.000 orang dan tersebar dari Aceh sampai Merauke.

Dirinya melihat jika prospek bisnis travel/pariwisata akan semakin baik. Meskipun dalam dua tahun terakhir ekonomi terlihat lesu, tapi industri pariwisata tetaplah moncer. “Salah satu bisnis yang sedang naik saat ini adalah pariwisata,” tukasnya. Selain menyasar sektor pariwisata, dirinya tetap menggarap pasar seminar dan training yang kini lebih difokuskan ke webinar (web seminar) melalui online. “Dengan dibuat online, pasarnya jadi makin semarak. Pesertanya lebih banyak dan lebih beragam dari berbagai daerah.”

Diakuinya, materi yang diberikannya lebih fokus ke sales dan marketing, strategi penjualan, sistem penjualan, pitching bisnis, dan lainnya. “Inti dari sales itu bagaimana sebuah produk atau jasa bisa laku kan? Tapi masalahnya orang itu tidak suka kalau terlalu jualan. Maka buat dulu orang percaya sama kita, sebab pondasi sales itu adalah trust. Bangunlah kepercayaan terlebih dahulu, jangan berjualan yang terkesan memaksa.”

Dengan track record bisnisnya, Yeheskiel pun berbagi kiat sukses dalam berbisnis. Baginya, penting memilih bisnis yang tepat saat start berwirausaha. “Jangan salah pilih bisnis awal. Memilih bisnis itu utamakan yang paling menguntungkan dulu. Dari yang paling menguntungkan itu, carilah yang paling mudah. Lalu, dari yang paling mudah itu, cari yang paling kita sukai. Nah, masalahnya sekarang banyak orang terjebak dengan memilih bisnis dari yang disukainya dulu,” ungkapnya.

Ayah dari dua anak ini juga mengungkap bidang bisnis yang paling prospektif untuk dijadikan bisnis. Menurutnya, ada 7 bidang bisnis yang antikrisis. Bidang ini juga yang banyak digarap oleh para orang kaya di Indonesia. Ketujuh bidang tersebut adalah sandang, pangan, papan, telekomunikasi, edukasi, transportasi, dan live event (kelahiran, ulang tahun, pernikahan, kematian, dan lainnya). “Carilah bisnis yang berkaitan dengan 7 bidang itu, sebab prospeknya sudah jelas,” demikian Yeheskiel.

0 0

About Post Author

Redaksi

Editor
0 %
Happy
0 %
Sad
0 %
Excited
0 %
Angry
0 %
Surprise

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *