Kreatifitas Pria ini Ubah Teriplek Bekas Jadi Tas Berkelas

Topreneur.ID – Kayu adalah dunianya sejak 20 tahun lalu. Dulu ia memanfaatkan limbah kayu untuk diaplikasikan ke mobil-mobil klasik hingga tampil lebih mewah. Di masa kini, dengan kreativitas tingginya, limbah kayu triplek yang dibuang itu ia sulap menjadi aneka tas yang memikat. Don bercerita, harga satu tas-nya bahkan ada yang mencapai Rp 15 juta! Padahal, itu terbuat dari bahan baku triplek ‘bodol’ alias rusak.

Don Gunarto, pria kelahiran tahun 1953 ini sudah sejak puluhan tahun lalu malang melintang di bidang perkayuan. Bahkan, ia sudah mengenal dunia kayu sejak ia masih kecil. Don berkisah, ketika ia masih hidup di kampung ia banyak berinteraksi dengan para pengrajin meubel kayu, yang salah satunya adalah keluarganya sendiri. Ia menyaksikan banyak kayu yang dibuang dari 1 produk yang dibuat. “Yang dibuang itu bisa sampai 90%-nya. Nah, dari situ saya punya gagasan dan impian, bagaimana bisa mengolah kayu sehemat mungkin tapi bisa dijual semahal mungkin,” katanya.

Sekitar 20 tahun lalu, Don pun mulai terjun ke dunia kayu, khususnya triplek. Tapi ia tidak memilih menjadi tukang kayu kebanyakan yang umumnya membuat produk meubel dan lain-lain, ia justru lebih tertantang untuk membuat sesuatu yang lebih dahsyat. Dengan bekal ijazah STM kelistrikan, Don pun membuat sebuah terobosan baru, sebuah konsep memanfaatkan triplek bekas dan disulap menjadi produk premium. “Sejak 20 tahun lalu, saya sudah mulai memanfaatkan triplek bekas ini. Awalnya saya aplikasikan ke media mobil-mobil klasik. Umumnya, mereka yang memakai jasa saya adalah para kolektor mobil klasik yang ingin mobilnya tampil lebih elegan,” sebut Don.

Tapi yang hebat dari Don adalah, kayu yang digunakan untuk menyulap mobil klasik agar tampil lebih mewah itu, justru adalah triplek rusak yang ia manfaatkan kembali. Menurutnya, ternyata triplek yang dipanggang bertahun-tahun di plafon rumah itu sangat kuat dan kering, sehingga cocok digunakan di mobil klasik. “Dan itu menjadi rahasia saya selama puluhan tahun. Dimana mereka para pemilik mobil klasik, tidak tahu jika panel kayu mengkilap yang dipasang di mobil mereka adalah triplek bodol, rusak.”

Diakuinya, dengan triplek rusak ia mendapatkan kemudahan dan keunggulan. Karena bahannya tersedia dimana-mana dan dianggap sebagai limbah. Bahkan, umumnya para pemulung sekalipun tidak mau mengambilnya, karena belum tahu manfaatnya. Don, selama 20 tahun itu, dengan triplek bekasnya, ia pun telah berkarya dengan menyulap banyak mobil klasik hingga tampil lebih keren dan mewah. “Ya, saya sudah banyak aplikasikan ke mobil-mobil klasik. Bahkan, sesekali saya juga pernah aplikasikan di kapal pesyiar dan private jet,” kata Don.

Kini, setelah 20 tahun berlalu, ia pun mulai ingin berbagi ilmu dengan seluruh masyarakat, jika triplek bekas ini sesungguhnya bisa dimanfaatkan dan dibuat menjadi produk premium. Untuk membuktikannya, belum lama ini ia juga membuat tas bernama Tridol Bag, yang terbuat dari triplek bekas. Jika melihatnya, pasti Anda tidak akan mengira jika bahan bakunya adalah triplek bekas. “Dalam setiap karya yanga saya buat, saya ingin agar bisa membumi. Kenapa tas? Karena tas proses pembuatannya lebih rumit dari pada interior mobil klasik. Artinya, jika triplek ini bisa dijadikan tas, maka pasti bisa dijadikan untuk membuat produk lain juga,” kilahnya.

Saat ini ia memang tidak memproduksi tas secara massal, hanya sesuai pesanan saja. Namun meski begitu, nyatanya tas cantik hasil produksinya diminati banyak orang walaupun harganya terbilang cukup mahal. Diakuinya, untuk harga memang ia memposisikannya untuk kelas menengah ke atas, dengan harga dari mulai Rp 1,5 juta sampai Rp 15 juta per unit.

Produk tas ini pun sebetulnya hanya ia jadikan sebagai contoh saja, agar masyarakat umum tertarik untuk sama-sama memanfaatkan limbah triplek. Terkait hal ini, Don pun menjelaskan, “Sebenarnya bukan tas-nya yang jadi tujuan, tapi gerakannya. Ya, yang saya inginkan adalah gerakannya, Tridol Act, agar semua lapisan masyarakat bisa memanfaatkan triplek bekas ini. Itu target saya,” ujarnya.

Ia berharap, agar aksinya dalam mengolah triplek menjadi tas yang memiliki daya jual tinggi ini bisa dicontoh oleh banyak orang. Atas dedikasi dan karyanya ini, belum lama ini Don pun dianugerahi menjadi pemenang dalam acara Smesco Festival di Jakarta. “Sebelumnya, memang saya tidak pernah mengikuti pameran. Sekali ikut pameran, saya bisa langsung jadi pemenang,” sahutnya.

“Untuk memproduksi tas ini masih memakai alat sederhana seperti pisau cutter, tidak ada mesin sama sekali. Membentuknya pun hanya memakai peralatan yang mudah didapat seperti panci dan ember. Saya memang menginginkan jika kelak sudah ada ipenyandang dana, yang melaksanakan juga tidak menyulitkan dalam prosesnya terutama dalam mengedukasi pada masyarakat luas.”

Ia bermimpi agar konsepnya ini bisa diterima oleh masyarakat luas, dan ia pun nantinya siap untuk memberikan berbagai pelatihan pembuatan produk berkelas dari triplek bekas ini. “Sekarang pelatihan masih belum. Nanti kalau pendanaan sudah siap, saya baru akan lakukan secara massal.”

Menurutnya, untuk membuat satu tas dengan kerumitan cukup tinggi, per satu orang bisa memakan waktu hingga 5 hari. Namun ia cukup optimis, jika konsepnya ini ke depan akan menjadi sebuah komoditas baru dalam industri manufaktur berbahan dasar triplek bekas. “Selama ini untuk bahan baku tidak sulit mencarinya, karena tersedia dimana-mana. Dalam setiap produk yang dibuat pun, saya selalu buat limited edition,” terangnya.

Gagasan di masa lalunya untuk mengolah kayu sehemat mungkin dan dijual semahal mungkin, terbukti sudah. “Kayu ini tergantung dimana kita menempatkannya. Kalau hanya ditempelkan di peralatan dapur seperti dijadikan cobek, ulekan, dan lainnya, pasti harganya murah. Lain halnya ketika kayu itu ditempelkan di Mercy atau dijadikan persneling mobil mewah, maka harganya bisa dipastikan melonjak berkali-kali lipat.” Dan ia meyakini jika potensi bisnis yang dijalankannya ini masih terbuka lebar dengan pasar yang cukup besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *