25 September 2021

Belajar Lebih Menarik dengan Laboratorium dan Perpustakaan Maya

3 min read

Istimewa

Bagikan:

Pusdatin Kemendikbudristek memiliki aplikasi pembelajaran berbasis teknologi yang bernama “Rumah Belajar” yang berisi berbagai macam fitur layanan pembelajaran, diantaranya adalah adalah “Laboratorium Maya” dan “Pustaka Maya”. Laboratorium Maya, memiliki daya tarik tersendiri karena merupakan bentuk tiruan dari sebuah laboratorium riil yang digunakan dalam aktivitas pembelajaran ataupun penelitian secara ilmiah guna menekankan sebuah konsep atau mendalami sebuah konsep-konsep tertentu.

Adanya fitur laboratorium maya dan Pustaka Maya pada portal Rumah Belajar dari Kemdikbudristek ini menjadi salah satu solusi yang dapat dimanfaatkan khususnya semasa pembelajaran jarak jauh saat ini.

Berdasarkan hal tersebut, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama GNLD Siberkreasi dan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengadakan webinar Digital Society bertema “Yuk Kenali Laboratorium dan Perpustakaan Maya: Cara Belajar Interaktif dan Menarik”, pada Kamis (29/7) dengan mengundang berbagai pakar untuk membahas mengenai pengenalan dan pemanfaatan Laboratorium dan Perpustakaan Maya sebagai salah satu cara untuk memudahkan tenaga pendidik dan peserta didik dalam pembelajaran yang memerlukan laboratorium di era digital.

Webinar dibuka dengan Keynote Speech dari Semuel Pangerapan, B.Sc (Dirjen Aptika Kemkominfo) dan Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd (Direktur Sekolah Dasar Kemdikbudristek).

Dalam sambutannya Semuel mengatakan dalam menghadapi perkembangan teknologi yang sangat cepat, literasi digital merupakan kunci dan fondasi utama yang harus kita semua miliki, Kemkominfo dan Siberkreasi berkomitmen akan terus melakukan upaya peningkatan literasi digital masyarakat lewat berbagai macam inisiatif kegiatan yang diharapkan dapat memfasilitasi dan semakin mendorong terwujudnya masyarakat digital Indonesia.

“Keadaan normal yang baru baik sekarang maupun pasca pandemi akan mempercepat proses digitalisasi di berbagai lini kehidupan kita, maka dari itu kita harus mempersiapkan SDM kita dengan keterampilan digital yang sesuai untuk menghadapi perubahan ini,” kata Semuel.

Melanjutkan Semuel, dalam menyikapi kondisi pandemi Covid-19 masih melanda, Sri Wahyuningsih, mengatakan bahwa sebagai konsekuensi pembelajaran jarak jauh, kompetensi pengajar sangat dibutuhkan.

“Kondisi ini perlu didukung kompetensi guru, orang tua serta tenaga didik lainnya yang mumpuni dalam menyiapkan strategi belajar yang dapat membangkitkan kreativitas dan inovasi anak-anak (didik) kita”, kata Sri.

Ainun Najib Alfatih, M.Ed (Guru IPA Sekolah Lentera Kasih Makassar) dalam paparannya menjelaskan tentang bagaimana proses pembelajaran menggunakan Laboratorium Maya, apa saja kemudahan yang ditawarkan serta tantangannya.

“Kemudahan dari laboratorium maya adalah membantu visualisasi dan demonstrasi konsep, petunjuk dan pengaturan yang mudah dipahami dan juga materi dasar serta latihan-latihan soal sudah tersedia di dalamnya,” tandas Najib.

Webinar dilanjutkan dengan pemaparan dari Andi Sulistiyono, S.Kom. (Pengembang Teknologi Pembelajaran Ahli Muda), Andi menjelaskan lebih banyak mengenai laboratorium maya sekaligus melakukan simulasi percobaan sains yang dapat dilakukan dalam platform tersebut. Andi juga menunjukkan contoh-contoh konten yang dapat diakses dalam Pustaka Maya.

“Eksperimen sains merupakan aktivitas yang menarik perhatian siswa untuk dapat lebih mendalami pemahaman fenomena sains yang abstrak. Kini, dengan Laboratorium Maya hal ini dapat dilakukan secara daring,” ujar Andi.

Narasumber selanjutnya, Dr. Khaeruddin, M.Pd. (Ketua Prodi. Pendidikan Fisika Universitas Makassar) dalam paparannya menjelaskan mengenai pentingnya penggunaan laboratorium dalam pembelajaran IPA. Khaeruddin menunjukkan beberapa riset yang membuktikan tingkat keefektifan Laboratorium Maya yang lebih baik daripada laboratorium riil. Contohnya pada uji coba perbandingan antara laboratorium riil dan Laboratorium Maya pada hukum Archimedes itu menghasilkan nilai perbandingan yang serupa.

“Ini menarik, artinya tingkat keakuratan laboratorium maya itu sama dengan kalau siswa itu menggunakan laboratorium riil,” tuturnya.

Khaeruddin menambahkan bahwa hikmah terbesar dari pandemi ini di dunia pendidikan khususnya adalah merupakan proses mempercepat peserta didik dan pendidik berada di dalam revolusi industri 4.0.

Sebagai pembicara terakhir, A. Riza Wahono, Msc, PhD. (Top 50 Finalists, Global Teachers Prize Varkley Foundation), memberikan saran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui Laboratorium dan Perpustakaan Maya sebagai alternatif sumber belajar.

“Kita akan bisa menggunakan Laboratorium dan Perpustakaan Maya ini dengan baik kalau library virtual lab ini sudah komplit semua subjeknya ada sesuai dengan kurikulum dan kompetensi di semua level kelas dan tentunya dalam bahasa Indonesia yang jelas dan mudah dipahami,” kata Riza.

Lebih lanjut Riza menyampaikan bahwa konsep dan tampilan grafis yang menarik akan sangat mempengaruhi minat siswa untuk mulai menggunakan virtual abs.

“Konsep yang bagus tentunya harus bisa dikembangkan dengan simulasi yang bagus dan menarik bagi siswa untuk bermain dalam virtual lab tersebut”, tambah Riza.

Kegiatan yang diikuti oleh para peserta yang umumnya adalah tenaga pendidik di seluruh Indonesia ini diadakan melalui aplikasi Zoom Meeting dan disiarkan melalui live streaming di channel Facebook Page Siberkreasi serta Youtube Channel: Siberkreasi, Kemkominfo TV, Pendidikan.id, dan Direktorat Sekolah Dasar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *