Bisnis Barang Seken, Segini Loh Untungnya!

Topreneur.ID – Keberanian dan mental kuat adalah syarat utama memasuki bisnis barang seken. Hal ini pula yang dilakukan oleh Muhammad Alimuddin yang sejak tahun 2008 menekuni bidang ini.

Sebelum terjun ke bisnis barang seken, M. Alimuddin berprofesi sebagai karyawan di sebuah perusahaan perlengkapan peralatan rumah tangga. Tiga tahun kemudian berhenti dan masuk ke perusahaan lelang selama lebih dari 10 tahun. Pada 2008, saat dirinya melihat potensi bisnis lelang, ia terinspirasi untuk menekuni barang seken.

“Di pelelangan saya melihat jika banyak barang bagus tapi dijual dengan harga murah dalam waktu cepat. Saya bukan pedagang, saat itu hanya bisa menganalisa saja. Saya pikir enak juga kalau coba tekuni, tapi modalnya darimana, tempatnya juga dimana? Dengan modal keberanian, saya putuskan untuk berhenti kerja dan beralih ke barang seken,” katanya.

Menurutnya, dalam bisnis barang seken setidaknya ada dua kategori: pedagang dan mediator. Alimuddin lebih tertarik untuk menjadi pedagang meskipun modalnya hanya keberanian. Modal secara finansial, diakuinya, kala itu dirinya memiliki dana sekitar Rp 10 juta.

“Dengan modal Rp 10 juta, saya pilih jalur sebagai pedagang. Pedagang itu artinya kita beli barang, lalu diangkut ke rumah, dan dijual secara eceran. Sementara mediator itu sebagai perantara saja, dia hanya mencari margin dari barang yang diperjualbelikan. Alhamdulillah dalam waktu satu minggu, saya bisa mendapatkan dana sekitar Rp 19 juta.”

Alimuddin bercerita, jika semua barang, meskipun bekas sekalipun, sebenarnya masih memiliki nilai, asalkan si pemilik barang memahaminya. Seperti dirinya saat pertama kali terjun ke dunia bisnis barang seken, ia lebih memilih tiga produk utama yang dijual, yaitu kulkas, televisi, dan dispenser.

Di tahun 2012 ia pun semakin fokus, sehingga pengalaman dan keberaniannya membuat dirinya semakin mengerti seluk-beluk bisnis barang seken. “Dalam bisnis ini saya tidak ada guru sama sekali. Yang membimbing saya adalah pengalaman. Terkadang saya beli barang tidak mengerti juga, harganya berapa, jual ke siapa, dan lain-lain. Tapi lama-lama akhirnya saya menjadi mengerti juga.”

Dalam memilih sumber barang sekennya, Alimuddin lebih tertarik barang-barang eks orang asing. Ada alasan dibalik pemilihannya tersebut. Sebab, menurutnya, barang eks orang asing kualitasnya masih bagus dengan harga yang lebih murah. Meskipun pada suatu saat, dirinya juga pernah mengalami tidak ada supply barang dari orang asing, sehingga ia beralih ke barang-barang bekas kantor.

“Ya, sumber utamanya memang isi rumah orang asing. Tapi saya pernah sampai tiga bulan orang asing tidak turunin barang, sehingga saya beralih di peralatan kantor seperti kursi, meja, dan lainnya. Tapi main di barang kantor harus pintar memilah juga, karena umumnya peralatan kantor kandijual lagi ke perkantoran. Nah, minusnya adalah, saat orang kantor pesan 10 meja, misalnya, tapi ketersediaan barang yang sama hanya ada 8 meja, mereka bisa tidak jadi beli. Sementara barang seken tidak bisa begitu, adanya 8 ya hanya segitu, karena barangnya memang tidak ada lagi,” ungkapnya.

Semua peralatan kebutuhan kantor yang dijualnya memang tidak di-repair tapi dijual dalam kondisi seadanya. Untuk segmen perkantoran, ia lebih banyak menjual aneka kursi dan lemari. “Lemari ini justru lebih laku dibeli oleh perorangan dan pengusaha laundry,” imbuhnya.   

Ilustrasi: ist

Bahkan agar usaha barang sekennya lebih berkembang, Alimuddin juga masuk ke komunitas, salah satunya Asosiasi Laundry Indonesia. Tak aneh, jika saat ini untuk penyerapan barang seken seperti mesin cuci dan dryer, lebih banyak diserap oleh anggota komunitas tersebut. Adapun barang yang dijualnya saat ini cukup beragam, ia tak mengkhususkan diri pada produk tertentu.   

Alimudin juga bercerita seputar kunci suksesnya dalam berbisnis barang seken. Menurutnya, kunci yang paling utama adalah mendapatkan barang yang semurah-murahnya dari penjual. Namun untuk mendapatkan hal ini tentu tidaklah mudah, karena dibutuhkan koneksi dan hubungan baik dengan berbagai pihak yang menjadi sumber barang.

“Saya sendiri kebetulan sudah terdaftar sebagai rekanan dan kerjasama dengan pihak terkait. Selain itu, saya juga mendapatkan info dari teman-teman, dan kadang saya juga mencarinya di internet. Banyak situs lelang yang bisa didapatkan di internet, termasuk lelang di kementerian.”

Dengan nilai beli yang murah, maka penjual barang seken pun bisa mendapatkan margin yang lebih besar saat menjualnya kembali. Seperti dirinya, jika mendapatkan barang kualitas bagus dengan harga murah, maka ia bisa memperoleh margin hingga 200%.

“Tapi keuntungan berdagang barang seken tidak bisa ditebak. Kalau dari sumbernya mahal, ya keuntungannya paling 20%. Dalam menjual barang, biasanya patokan saya adalah harga awal membeli, bukan harga baru produk tersebut. Sebelumnya, saya malah banyak tidak tahu berapa harga baru sebuah produk. Misal, saya jual mesin cuci kelas heavy duty seharga Rp 3,5 juta, tetap laku karena harga barunya bisa belasan juta,” katanya.   

Selain harga yang murah, kiat lainnya berbisnis barang seken adalah harus memiliki tempat yang luas untuk menampung barang. Sementara untuk modal, bisa memakai modal sendiri ataupun bisa kerja sama dengan investor. Namun yang juga penting adalah kejujuran terhadap konsumen.

Yang menarik dari bisnis ini adalah seni menaksir barang. Tidak semua orang memiliki kemampuan yang satu ini. Termasuk Alimuddin sendiri, dirinya mengakui jika untuk taksir-menaksir didapatkannya secara naluriah.

“Kalau pedagang berani beli, pasti dia menilai bisa untung. Saya pun terus belajar, misalnya, kursi model begini harganya di sekitar sekian, dan lain-lain. Nah, berapa harga jualnya lagi, itu pintar-pintarnya kita saja,” ulasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *