Situs berita bisnis, UKM, entrepreneurship, inspirasi sukses, dan industri kreatif di Indonesia

BPPT Mulai Laksanakan Operasi TMC Siaga Darurat Karhutla di Riau

4 min read

Istimewa

Read Time3 Minute, 51 Second

TOPRENEUR.id – Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC- BPPT) mulai terjunkan tim untuk melaksanakan siaga darurat kebakaran hutan dan lahan melalui operasi  Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di Provinsi Riau. Tim TMC yang didukung TNI AU akan mengoptimalkan potensi awan menjadi hujan guna pembasahan lahan-lahan gambut dan pengisian embung-embung penampungan air untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang lebih luas dan tidak terkendali.

“Pelaksanaan operasional TMC tahun ini merupakan salah satu tindakan pencegahan kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau. Berdasarkan historis fluktuatif jumlah titik hotspot meningkat pada Maret dan periode puncak pada Agustus hingga September,” ujar Tri Handoko Seto, Kepala BBTMC-BPPT di Riau, Rabu (11/3/2020).

Menurut Tri Handoko Seto, operasional TMC di Provinsi Riau bertujuan tidak hanya untuk mematikan titik api kebakaran hutan dan lahan sebagai sumber bencana kabut asap, tetapi juga untuk menjaga kelembaban tanah gambut agar tidak sampai menjadi kering.

“Faktor kelembaban tanah gambut menjadi hal yang penting untuk terus dipantau secara kontinyu guna mengetahui tingkat kekeringan yang dapat menjadi sinyal kerawanan bencana karhutla di suatu wilayah. Strategi pelaksanaan TMC dapat lebih difokuskan untuk membasahi atau re-wetting area gambut yang dinilai mempunyai tingkat kekeringan yang perlu diwaspadai. Dengan tetap terjaganya kelembaban tanah pada area lahan gambut, maka potensi terjadinya kebakaran di area lahan gambut akan semakin berkurang,” papar Seto.

Budi Harsoyo, Kepala Bidang Penerapan TMC BBTMC mengatakan untuk membangun sistem monitoring di area lahan gambut, BBTMC telah mengembangkan Sistem Monitoring Online Kandungan Air Lahan Gambut untuk Early Warning System Karhutla (SMOKIES) dengan menempatkan sejumlah instrumen ukur parameter cuaca dan hidrologi berupa Automatic Weather Station (AWS) dan Sensor Ultrasonik untuk pengukuran Tinggi Muka Air (TMA) lahan gambut. “Kedua instrumen ini berfungsi untuk mengukur parameter cuaca dan TMA lahan gambut hingga kedalaman 1.5 meter dan datanya secara real time ditransmisikan ke server di BPPT setiap 1 jam. Penempatan instrumen SMOKIES ini perlu diperbanyak lokasi pengukurannya agar memberikan gambaran monitoring tinggi muka air lahan gambut yang representative di beberapa provinsi rawan karhutla,” paparnya.

Posko TMC Karhutla Riau dipusatkan di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru dengan dukungan  pesawat TNI-AU CASA 212 milik TNI AU dari Skuadron 4, Malang.  “Kami akan memulai penerbangan pertama hari ini,” ujar Dwipa R.Soehoed, Koordinator Lapangan BBTMC. Pembiayaan pelaksanaan TMC Provinsi Riau bersumber dana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau.

Seperti diketahui, Provinsi Riau merupakan salah satu daerah yang paling rawan terkena dampak bencana kabut asap akibat karhutla. Bencana yang hampir terjadi setiap musim kemarau tersebut berdampak rusaknya keanekaragaman hayati dalam ekosistem hutan, gangguan kesehatan, juga berimbas terganggunya transportasi yang disebabkan kabut asap. Dalam beberapa tahun terakhir masalah kabut asap akibat karhutla di Indonesia bahkan menjadi sorotan negara-negara tetangga yang terkena dampak langsung maupun tidak langsung.

Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT Yudi Anantasena mengatakan pelaksanaan operasi TMC di Provinsi Riau sesuai Instruksi Presiden nomor 03 tahun 2020 tentang Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan tanggal 28 Februari 2020. Dalam hal ini,  lanjut Yudi Anantasena, BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) salah satunya mengemban tugas melaksanakan operasi modifikasi cuaca.  

Selain itu, kata Yudi, dalam Inpres nomor 03/2020 tentang Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan, BPPT juga mendapat tugas untuk mengembangkan Teknologi  Pembukaan Lahan Tanpa Bakar melalui inovasi Bio-Peat. “Inovasi BioPeat adalah inovasi untuk menyuburkan lahan gambut sehingga dapat dimanfaatkan untuk pertanian dan perkebunan, tanpa perlu pembakaran lahan. Ditujukan guna mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla),” ujarnya.

Pemanfaatan pupuk hayati BioPeat pada tanah gambut, lanjut Yudi,  mampu meningkatkan pH tanah dari semula rata-rata pH 3,9 menjadi sekitar pH 5. “Dengan meningkatnya pH tanah gambut, sehingga tanah gambut menjadi lebih subur.  Sehingga dapat ditanami tanpa membakar lahan,” ujarnya.

Sejak 2018, BPPT bekerjasama dengan PT. Riau Sakti United Plantations (PT.RSUP) telah membangun unit produksi Bio-Peat di di kawasan perkebunan PT.RSUP di Pulau Burung Kabupaten Indragiri Hilir. Produksi BioPeat terbukti dapat meningkatkan produktivitas tanaman Jagung sebesar 45 persen, buah Nanas grade A sebesar 31 persen, dan meningkatkan kadar kemanisan buah Naga hingga mencapai rata-rata Brix 15 persen, diatas nilai brix buah Naga di pasaran yang berkisar 11 persen. “Selain memperbaiki kualitas hasil panen, BioPeat juga mampu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama,” ungkap Yudi.

Sementara itu, menurut Sutrisno, Kepala Bidang Pelayanan Teknologi BBTMC selain antisipasi bencana karhutla, BBTMC-BPPT saat ini tengah mempersiapkan  kegiatan TMC di Daerah Tangkapan Air Waduk Citarum, Jawa Barat  dan di Daerah Aliran Sungai Brantas, Jawa Timur untuk melakukan pengisian Waduk, serta di Danau Towuti, Sulawesi Selatan dan Danau Toba, Sumatera Utara untuk menjaga cadangan air guna kebutuhan PLTA.

0 0

About Post Author

Redaksi

Editor
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *