Citarasa Camilan Lokal yang Mendunia

Topreneur.ID – Produk lokal tidak hanya berjaya di dalam negeri, tapi juga harus bisa merangsek pasar ekspor. Demikian semangat empat sekawan dalam melejitkan Timurasa di kancah global. Sejak berdiri pada 2017, Timurasa fokus pada penyajian camilan yang bukan hanya enak tapi juga menyehatkan. Erdi Rulianto bersama Martin, Arif Rahman, dan Sinta, mengembangkan beragam produk olahan dari makanan khas di Tanah Air.

Awalnya Timurasa hadir dalam rangka memenuhi kebutuhan ekspor untuk produk kacang kenari. Tak hanya ekspor, bersama rekannya, dirinya juga memikirkan bagaimana memasarkannya di pasar domestik. “Kami mulai bangun untuk pasar lokal. Tapi kendalanya, masyarakat kita masih belum banyak yang tahu kacang kenari. Sebab, kenari hanya hanya tumbuh di kawasan Maluku dan Kupang. Padahal, produk ini sangat potensial untuk dikembangkan,” kata Erdi.

Nah, cara agar kacang kenari bisa lebih dikenal, maka dibuatlah snack. Timurasa memokuskan diri di pemasaran, sementara untuk bahan baku bekerjasama dengan memberdayakan para petani lokal yang menjadi mitranya. Diakui Erdi, bidang pertanian itu problemnya adalah para petani tidak mengetahui potensial marketnya. “Kami tahu marketnya, kami sampaikan ke para petani jika peluangnya ada. Mereka produksi, kami yang menjualkan ke market.”

Timurasa berkomitmen agar kesejahteraan petani bisa semakin meningkat. Untuk itu, pihaknya terus mendorong agar para mitranya bisa scale up produksinya. “Kami membuka marketnya, sehingga para mitra kami bisa bertumbuh,” sambung Martin.

Selain kacang kenari, beberapa produk lain juga dikembangkan oleh Timurasa. Namun yang harus digarisbawahi, produknya fokus pada yang natural dan memiliki manfaat kesehatan yang tinggi. Misalnya, daun kelor yang saat ini ngetren lantaran manfaatnya bagi kesehatan tubuh. “Moringa ini memiliki nutrisi yang tinggi sehingga bermanfaat bagi kesehatan. Hal inilah yang terus kami sampaikan ke konsumen,” ujarnya.

Beberapa produk lokal lainnya seperti gula aren asal Jawa Barat, andaliman asal Medan, Sumatera Utara, dan vanilla. “Andaliman, semua orang belum tentu tahu tanaman ini, tapi ternyata memiliki manfaat yang baik bagi tubuh. Lalu, vanilla yang sedang naik daun di Indonesia. Hanya saja tata niaganya masih memerlukan pengelolaan yang lebih baik lagi,” sebut Erdi.

Lebih lanjut Arif mengurai beragam produk Timurasa lainnya. Dia menyebut ada kakao, keripik salak, sampai emping garut. Menurutnya, beragam produk tersebut didapat dari para mitranya yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. “Kacang kenari kami bermitra dengan petani di Maluku dan Kupang, sebulan kapasitasnya bisa mencapai 2 ton. Lalu gula aren dengan para petani di Garut, Cianjur, dan Sukabumi, seminggu bisa capai lebih dari 2 ton.  Lalu andaliman sebanyak 500 kg, vanilla antara 100—200 kg per bulan, dan moringa hingga 5 ton.”   

Terkait pasar Timurasa saat ini, Sinta mengungkapkan jika pihaknya lebih memilih dengan cara yang paling murah. Mulai dari komunitas sekitar lalu masuk ke berbagai marketplace yang ada di Indonesia. Selain itu, pihaknya juga menggunakan para reseller yang kini sudah berjumlah 52 reseller yang tersebar di 9 provinsi.

Menariknya lagi, selain merangsek pasar lokal, Timurasa juga sudah menembus pasar global, misalnya ke Finlandia,  Singapura, dan Jepang. Ke depan, untuk pangsa pasar ekspor ini, Timurasa berencana untuk masuk ke pasar Kanada dan Australia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *