Dahsyat! Omzet Miliaran dari Beternak Jangkrik

Topreneur.ID – Dengan kreativitas, ia mampu membuktikan jika jangkrik saja mampu menggelontorkan rupiah. Sejak beberapa tahun lalu bergelut dengan bisnis jangkrik, kini omzet bisnisnya sudah mencapai Rp 4 miliar setahun. Omzet ini ia dapat dari budidaya jangkrik 200 kg sehari (6.000 kg sebulan) dan telur jangkrik 8 kg sehari. Pasarnya pun sudah nasional. Hebat!

Bambang Setiawan, nyali bisnisnya memang besar. Sejak lulus kuliah dari Teknik Sipil ITB, ia sama sekali enggan untuk bekerja di kantoran. Ia lebih tertarik untuk merintis bisnis sendiri. Sejarah hidupnya mencatat, sebelum besar di bisnis jangkrik, ia sempat memiliki beberapa bisnis dari mulai menjual plastik sampai mainan anak-anak.

Pada 2010 dengan modal sebesar Rp 7 juta, ia mulai beternak jangkrik kecil-kecilan. Modal tersebut ia pakai untuk membeli 50 kotak jangkrik dan 2,5 kg telur jangkrik dari bandar jangkrik yang ada di daerahnya di kawasan Jamblang, Cirebon. Dari sanalah, kelihaiannya dalam mengembangbiakkan jangkrik mulai diuji.

Memang, pengembangbiakkan yang dilakukannya cukup bagus. Terbukti, jangkrik-jangkrik peliharaannya terus beranak pinak. Dari 1 kg telur, ia mampu menjadikannya 70 kg jangkrik. Namun, bisnis yang dilakukannya tetap dipandang sebelah mata, terutama oleh sang ayah yang seorang PNS. Bahkan, sang ayah awalnya menolak bisnis yang dilakukan oleh Bambang.

Tantangan bisnisnya bukan hanya tak mendapat restu orangtua, dalam mencari market pun, awalnya memang susah. Mencari market dilakukan Bambang, pasca bandar jangkrik yang mendistribusikan hasil panen jangkrik mengalami kebangkrutan.

Ia harus berjuang keras untuk mengawalinya lagi dari awal untuk mencari pasar potensial yang bisa menyerap jangkriknya. Ia pun terjun ke pasar-pasar burung, pasar ikan, dan para penggila mancing di Cirebon dan Bandung. “Jangkrik ini bisa untuk pakan burung, pakan ikan, dan untuk memancing sebagai pengganti cacing,” ucap pria pemilik Trust Jaya Jangkrik ini.

Agar lebih besar, kala itu ia menggandeng 29 peternak untuk membuat kelompok baru penjaja jangkrik. Namun, dalam perjalanannya, kelompok yang dibentuknya itu rontok dan tersisa separuhnya saja. “Butuh waktu tiga bulan untuk merintis pasar. Selama itu, kelompok kami tidak mendapat untung sama sekali. Untuk diketahui, dalam ternak jangkrik ini, untungnya setengah dari biaya produksi dan pemasaran.”

Dan perjuangan Bambang dkk terbalas, karena akhirnya ia mampu menembus pasar jangkrik di seantero Jawa. Khusus untuk telurnya, pasarnya sudah nasional dari mulai Aceh sampai Papua. Bahkan, kini ia terus berinovasi untuk membuat produk-produk turunan dari jangkrik, seperti kerupuk dan tepung jangkrik.

“Jangkrik ini kandungan gizinya baik, lebih baik dari ayam dan daging. Bahkan di beberapa Negara seperti di Vietnam dan Thailand, jangkrik ini sudah menjadi snack harian,” ujarnya.

Selain di pemasaran, untuk budidaya pun awalnya tak mudah. Apalagi memang ia tak ada basic dalam hal budidaya jangkrik. Namun dengan belajar dari pengalaman, akhirnya ia pun mampu membudidayakan jangkrik dengan baik. Buktinya, kini ia mampu membudidayakan jangkrik dengan hasil panen hingga mencapai 200 kg sehari atau 6.000 kg dalam sebulan.

Bukan hanya jangkriknya, ia pun mampu memproduksi telur jangkriknya 8 kg sehari. Untuk hasil tersebut ia menggunakan 4 gudang ukuran 25m x 15 m dan juga rumah para peternak jangkrik di lingkungannya.

Selama ini, untuk mengembangbiakkan jangkriknya, ia memang memberdayakan orang-orang di sekitarnya. Tapi untuk mencari tenaga kerja yang benar-benar concern di jangkrik juga awalnya tak mudah. Karena kebanyakan orang masih menganggap jika jangkrik tidak ada potensinya.

Saat ini, paling tidak ia sudah menggandeng 65 peternak lokal. Adapun harga jual jangkriknya, di pasaran 1 kg jangkriknya dibanderol antara Rp 45 ribu – Rp 50 ribu. Sementara untuk telurnya, per kg-nya dijual seharga Rp 450 ribu – Rp 500 ribu.

Bambang juga memproyeksikan jika pasar jangkrik di Indonesia masih luas. Bahkan, peluang untuk masuk pasar luar negeri pun terbuka lebar. Diakuinya, jika potensi pasar di Malaysia dan Singapura, yang memang memiliki budaya yang relatif sama, sangat besar.

“Ke depan, saya bisa masuk ke pasar-pasar di Negara ASEAN. Saya berencana yang akan didorong untuk masuk pasar mancanegara itu adalah telur jangkriknya.”

Menurut Bambang, dari segi spesies, jangkrik ini ada dua jenis, yakni jangkrik alam/sliring dan jangkrik genggong/kalung (ukuran lebih besar). Keduanya memiliki manfaat yang bagus untuk tubuh.

Di beberapa daerah, bahkan sudah ada produk untuk menambah stamina pria/wanita yang terbuat dari jangkrik. Karena itulah, ia optimis jika pertumbuhan bisnis jangkrik akan tetap bagus.

Dari pengalamannya selama beberapa tahun ini, setiap tahunnya ia mengalami pertumbuhan omzet hingga 60%. Tentu prosentase ini merupakan lonjakan yang sangat bagus bagi pertumbuhan perusahaan yang masih terbilang baru. Dan ia yakin jika dalam beberapa tahun ke depan, angka 60% itu akan tumbuh secara konsisten.

Dengan perkembangan yang baik tersebut, tak aneh jika omzet yang didapatnya dalam setahun juga terbilang besar. Diakuinya, dalam setahun, dari bisnis jangkriknya, ia mampu membukukan omzet hingga Rp 4 miliar. Bukan tidak mungkin, ke depan, dengan pertumbuhan yang stabil, ia akan mendapatkan omzet yang jauh lebih besar lagi.

Bambang menargetkan, jika budidaya jangkriknya ia konsentrasikan untuk memenuhi kebutuhan pasar di Jawa, sementara untuk telurnya untuk memasok permintaan dari luar Jawa, yang umumnya para peternak jangkrik juga. “Hal lain yang juga ingin saya lakukan adalah pendidikan budidaya jangkrik yang selama ini masih minim bahkan tidak ada. Padahal potensinya masih besar,” sebutnya.

Selain itu, ke depan ia juga akan terus menggenjot laju pertumbuhan penjualan, menambah channel pelanggan dan tidak menutup kemungkinan untuk menempatkan stokis jangkrik di berbagai daerah. Setelah rencana itu berhasil, ia juga berencana akan terus mengembangkan produk turunan yang lebih bervariasi.

“Produk turunan dari jangkrik ini, kalau di luar negeri sudah banyak sekali. Tapi di kita masih sangat minim, karena itulah saya akan kembangkan lagi,” imbuhnya lagi.

Sebagai pamungkas, ia juga memberi komentar, jika sebenarnya beternak jangkrik itu tidaklah susah. Oleh sebab itu, jangan takut jika tertarik untuk memulai bisnis ini. Pakan yang dibutuhkan pun tidaklah susah.

Yang susah itu, menurut Bambang, mencari pasarnya. “Tapi kalau sudah ketemu pasarnya, enak. Konsumen saya saat ini, ya para pedagang burung, pedagang ikan, dan tukang mancing. Mereka pasti membutuhkan jangkrik!” pungkasnya.

Source image: kompas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *