Polsek Semampir Surabaya mengalami kejadian unik saat menangani seorang tahanan bernama Fathur Rosi. Borgol yang dikenakan pada Fathur pada Senin (14/7) ternyata macet dan tidak bisa dibuka oleh petugas kepolisian.
Kejadian ini terjadi pada Selasa (15/7) siang. Karena kesulitan membuka borgol tersebut, pihak kepolisian terpaksa meminta bantuan petugas pemadam kebakaran (damkar) Kota Surabaya.
Kabid Pemadam Kebakaran Kota Surabaya, Wasis Sutikno, menjelaskan kronologi kejadian tersebut. Ia menyebutkan bahwa petugas damkar tiba di Mapolsek Semampir untuk membantu melepaskan borgol yang macet.
Proses pelepasan borgol memakan waktu hampir satu jam. Petugas damkar dengan hati-hati memotong baut pengunci borgol menggunakan gerinda. “Saat pelepasan di borgol tangan kiri tidak bisa dibuka karena grigi borgol macet,” ujar Wasis dalam keterangannya, Rabu (16/7), seperti dikutip Detik.
Wasis menambahkan bahwa proses evakuasi dinyatakan selesai dan kondusif pukul 13.45 WIB. Kejadian ini menyoroti pentingnya penggunaan dan perawatan alat-alat kepolisian, termasuk borgol, agar kejadian serupa tidak terulang.
Kejadian ini menimbulkan pertanyaan mengenai standar operasional prosedur (SOP) dalam penanganan tahanan di kepolisian. Apakah ada SOP khusus yang mengatur penanganan borgol yang macet? Apakah pelatihan rutin diberikan kepada petugas kepolisian mengenai penggunaan dan perawatan borgol?
Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab untuk memastikan keamanan dan keselamatan baik petugas kepolisian maupun tahanan. Kejadian ini juga menjadi pembelajaran penting bagi pihak kepolisian untuk selalu memastikan peralatan yang digunakan dalam menjalankan tugas dalam kondisi baik dan berfungsi optimal.
Meskipun terlihat sepele, kejadian ini menunjukkan betapa pentingnya detail dalam operasional kepolisian. Sebuah borgol yang macet dapat mengakibatkan situasi yang tidak terduga dan memerlukan bantuan dari pihak lain, seperti pemadam kebakaran dalam kasus ini. Semoga kejadian ini menjadi evaluasi bagi pihak kepolisian untuk meningkatkan kualitas peralatan dan pelatihan personelnya.
Kejadian ini juga menarik perhatian publik karena melibatkan petugas pemadam kebakaran dalam tugas yang tidak biasa. Biasanya, petugas damkar menangani kebakaran dan penyelamatan, namun dalam kasus ini, keahlian mereka dalam menggunakan peralatan khusus seperti gerinda terbukti sangat membantu.
Sebagai penutup, kasus ini menggarisbawahi pentingnya pemeliharaan peralatan dan pelatihan yang memadai bagi semua pihak yang terlibat dalam penegakan hukum, serta kerjasama antar instansi pemerintah dalam situasi darurat atau tak terduga.







