24 November 2020

DO dari Kampus, Syafii Efendi Jadi Miliarder

Foto: ist

Bagikan:

topreneur.id – Pria bernama lengkap Syafii Efendi kelahiran Medan, 04 Agustus 1991 ini adalah seorang motivator yang telah menginspirasi dan berbicara di hadapan sekira 1 juta audiens di seluruh Indonesia dengan rekor 28 kali seminar dalam 1 bulan untuk peserta 500-4000 orang.

Berkat konsistensinya di dunia motivasi, belum lama ini ia diganjar Rekor MURI urutan ke 8292 sebagai motivator muda dengan frekuensi seminar terbanyak, yakni 120 kali seminar dalam 3 bulan di 112 kota di Tanah Air.

Diakuinya, dirinya mulai memasuki dunia pembicara professional di usia 20 tahun. Sebelumnya, ia cukup makan asam garam dalam pergulatannya dengan dunia bisnis. Syafii juga sudah mengenal dunia bisnis sejak usianya menginjak 12 tahun. Kala itu dirinya berjualan es kelapa muda bersama sang ibunda di Medan, Sumatera Utara.

Di usia remaja, 18 tahun, Syafii melesat melebihi teman-teman seangkatannya. Ia terjun ke bisnis professional dengan main trading dan saham di bursa. Untuk menuruni bisnis tersebut, ia nekat menjual sepeda motor miliknya.

“Saya masih kelas 2 SMA. Jual motor untuk main saham di bursa. Seminggu, motor hilang, uang pun hilang. Saya kenal saham pun ikut-ikut saja, karena dari dulu saya rajin mengikuti beragam seminar bisnis,” kata dia.

Saat di bangku kuliah, geliat bisnisnya tidak pernah surut. Bahkan, Syafii pun berprestasi dengan terpilihnya sebagai ketua jambore entrepreneur se-Asean. “Saat itu usia saya kira-kira 19 tahun. Lalu di usia 20 tahun, saya masuk ke bidang pembicara professional,” ujarnya.

Karena kesibukannya berbisnis dan berorganisasi, Syafii pun akhirnya drop out (DO) dari kampus.

Baca Juga: Mantap Jiwa! Sagon Bakar ini Tembus Pasar Jerman dan Australia

Dalam bidang bisnis, jejak Syafii bisa terlihat dari bisnis properti yang telah dilakukannya. Bisnis propertinya dilakukan sekira tahun 2001, pasca dirinya di-DO dari kampusnya. Dirinya tengah menggarap proyek property, di antaranya berada di Banda Aceh.

Selain properti, beberapa bisnis lainnya juga dilakoninya, di antaranya mendirikan lembaga kursus bahasa Inggris bernama Orinem di Medan, Sumut. Ada juga Via Fashion, yang mengimpor berbagai produk fashion dari luar negeri. The Millenial Institute adalah lembaga yang didirikan untuk menyelenggarakan berbagai seminarnya di seluruh Tanah Air.

Baginya, bisnis yang dilakukannya adalah untuk menebar manfaat kepada khalayak. Jiwa bisnisnya, sedikit banyaknya diwariskan dari orang tuanya. Terkait hal ini ia berujar, “Dulu orang tua saya dagang karena kepepet miskin. Bagi saya, uang adalah nomor ke sekian setelah kepercayaan bisa dibangun, ketika nilai bisa dibangun, dan ketika kemampuan internal bisa dibangun. Ketika hal itu terjadi maka bisnis bisa tumbuh dengan sendirinya,” katanya.

Menurutnya, masalah utama dalam bisnis bukanlah modal melainkan mindset. Pasalnya, banyak fakta terjadi, orang memiliki modal tapi malah gagal berbisnis. Sebaliknya, ada orang yang tidak memiliki modal tapi justru berhasil menjalankan bisnisnya.

“Starting bisnis itu adalah people development. Bisnis nomor 2, orang nomor 1! Dengan kata lain, jika orangnya dibangun, maka bisnis akan berjalan dengan baik,” tandasnya. (Bagian 1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *