20 September 2020

Futri Zulya Savitri, Berdayakan Masyarakat Melalui Bisnis

Foto: IST

Bagikan:

Bakat berbisnisnya sudah mulai tumbuh sejak dirinya mengenyam bangku kuliah ITB. Pasca tamat kuliah, ia sempat bekerja di perusahan minyak asal Perancis, namun karena kuatnya keinginan untuk bisa membangun bisnis sendiri, akhirnya ia memutuskan untuk berhenti dan memilih jalan lain di bidang bisnis.

Di tengah kondisi perusahaan orang tua yang sedang goyah, dirinya menerapkan berbagai strategi agar perusahaan tersebut kembali berjaya. Hanya dalam beberapa tahun sejak 2011, kini ia bisa mengukir kesuksesan dimana perusahaannya mampu memproduksi kitchen ware hingga 25 ribu pieces.

Darah bisnis sang ayah, Zulkifli Hasan, rupanya ditularkan pada Futri Zulya Safitri. Dirinya mengaku jika sejak di bangku kuliah sudah senang dengan dunia bisnis. Kecintaan itu dibuktikannya dengan dirinya menjual aneka kain batik di usianya yang kala itu masih 20 tahunan.

Namun setelah lulus S1 dari School of Business and Management (SBM) ITB, kegiatan berbisnisnya sempat terhenti karena dirinya akhirnya menjadi karyawan kontrak di Total Oil.

“Saya sempat setahun bekerja di Total. Namun ketika saya ditawarin untuk menjadi karyawan tetap dengan gaji 2 digit, saya galau saat itu. Karena di sisi lain saya melihat bidang ini skupnya kecil, padahal mimpi saya besar. Saya ingin membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain dengan membuka perusahaan sendiri,” kata Futri.

Dengan penuh pertimbangan, akhirnya Futri pun memutuskan untuk mundur dan lebih memilih untuk melanjutkan bisnis orang tuanya yang bergerak di bidang kitchen ware yang sedang goyah.  Namun dengan kondisi perusahaan yang parah tersebut tak menyurutkan langkah Futri.

“Pada saat saya masuk pada 2011 kondisinya memang parah, hidup segan mati tak mampu, itulah keadaannya. Untuk memperbaikinya, saya akhirnya beranikan diri untuk pinjam modal bank sebesar Rp 500 juta. Dengan modal kerja tersebut, alhamdulillah perusahaan tersebut kembali bisa bernafas,” kata Presiden Direktur PT Batin Eka Perkasa ini.   

Di tangan Futri Zulya, produsen peralatan rumah tangga merek Haneda Cookware ini pun mengalami pertumbuhan yang cukup baik dari tahun ke tahun. Diakuinya, saat ini ada banyak produk rumah tangga yang dibuat di perusahaannya dari mulai panci-panci, oven, sampai vakum cleaner dengan harga antara Rp 700 ribu hingga Rp 2 jutaan.

Untuk menjualnya Futri memilih menerapkan cara direct selling dimana dirinya langsung menjualnya ke end consumers, baik secara cash maupun kredit. Saat ini tak kurang dari 200 sales di area Jabodetabek yang telah bermitra dengan perusahaannya.

“Saya memang masih fokus untuk menggarap pasar di Jabodetabek, karena di sini pun pasarnya masih besar. Tahun depan mudah-mudahan saya bisa ekspansi ke daerah lain. Dengan cara kredit yang kami lakukan, ternyata respon pasar cukup baik hingga kami mengalami pertumbuhan yang cukup besar.”

Baca Juga:

Top! Demi Meraih Sukses, Wanita Cantik ini Tahan Banting Meski Bangkrut Berkali-kali

Menurut Futri, saat ini kapasitas produksi pabriknya yang berada di kawasan Bogor, Jawa Barat, antara 24 ribu – 25 ribu pieces setiap tahunnya. Namun dirinya juga tak menampik jika persaingan di bisnis ini juga sangat besar, apalagi dengan dibukanya keran MEA yang membuat produk-produk luar bebas masuk ke dalam negeri.

“Saat ini kalau dibilang berat, ya berat lah. Secara umum memang pasar saat ini sedang mengalami kelesuan. Di bidang ini (kitchen warered) persaingannya besar sekali, karena merek lokal pun banyak. Begitu juga dengan merek luat yang mulai membanjiri pasar Tanah Air. Tapi kami terus berusaha agar konsumen tetap bisa loyal dengan produk kami.”

Futri melanjutkan, “Cara yang kami lakukan, salah satunya dengan memberikan layanan yang baik ke konsumen, misalnya dengan pengantaran barang, demo masak gratis, dan memberikan edukasi pada masyarakat tentang manfaat produk kami, dimana dengan produk ini mereka bisa mulai berbisnis makanan. Intinya, kami tetap tawarkan produk lokal dengan kualitas bagus dan harga yang murah,” sebutnya.       

Dengan potensi yang ada terutama untuk pangsa pasar kredit, akhirnya menuntun Futri untuk mengembangkan bisnis lainnya di bidang bank perkreditan rakyat (BPR) yang diberi nama BPR Haneda Mitra Usaha.

“Di BPR ini kami fokus untuk memberikan kredit untuk modal kerja. Ini pun berangkat dari pengalaman kami di kitchen ware yang ternyata nilai kreditnya jauh lebih besar dari pada yang membelinya secara cash. Selain itu, banyak juga permintaan dari para pemilik usaha kecil mikro yang membutuhkan pendanaan untuk memulai usaha. Nah, kami fasilitasi mereka dalam hal pendanaan,” ungkap wanita kelahiran 13 Mei 1988 ini.  

Lebih lanjut Futri menambahkan, “Tujuan kita menghimpun dan menyebarkan dana, cakupannya buat mikro. Kalau bank-bank konvensional kan tidak merambah sampai ke bawah. Di BPR kita bisa memberikan dana-dana pinjaman mulai dari Rp 5-25 juta. Jadi memang jangkauan kita untuk pasar menengah ke bawah dan usaha mikro. Nasabah kita sekarang sudah mencapai ratusan, termasuk UMKM yang kita bina,” ungkap Futri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *