Situs berita bisnis, UKM, entrepreneurship, inspirasi sukses, dan industri kreatif di Indonesia

Hati-hati, DM Jadi Penyebab Kematian No 4 Terbanyak di Dunia. Apa Terapinya?

3 min read
Read Time3 Minutes, 31 Seconds

TOPRENEUR.id – Diabetes melitus (DM) menjadi masalah kesehatan masyarakat yang sangat serius. Bahkan, WHO menempatkan DM sebagai penyakit nomor empat penyebab kematian terbanyak di dunia setelah penyakit kardiovaskular, kanker, dan penyakit pernafasan kronis.

Berbagai penelitian epidemiologi memperkirakan jumlah  penyandang DM akan terus meningkat di seluruh penjuru dunia.

Di Indonesia, berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2013 menunjukkan terjadinya peningkatan prevalensi diabetes dari 1,1 persen di tahun 2007 menjadi 2,1 persen di tahun 2013.

Nah, dari jumlah tersebut, sekitar 95 persen dari total kasus DM global adalah DM tipe 2. Terapi terstandar untuk DM tipe 2 ini meliputi perubahan pola hidup penderita yang dapat berlanjut ke terapi medikamentosa (obat).

Dalam pengukuhan sebagai Doktor dalam Ilmu Biomedik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr. dr. Karina, SpBP-RE, mempertahankan disertasinya yang berjudul “Efek Pemberian Platelet-Rich Plasma terhadap Angiogenesis Adipose-Derived Mesenchymal Stem Cell Penderita Diabetes Melitus Tipe 2: Tinjauan  In Vitro pada VEGF”.  

Penelitian mengenai efek pemberian Platelet-Rich Plasma terhadap Angiogenesis Adipose-Derived Mesenchymal Stem Cell kepada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 tersebut, memiliki makna yang besar bagi dunia kedokteran di Indonesia.

“Keseluruhan terapi DM tipe 2 ini difokuskan untuk mencapai target glikemik, di mana pemeriksaan laboratorium berupa angka HbA1C dipakai sebagai acuan. Sayangnya, walaupun target glikemik dapat tercapai, para penderita DM tipe 2 tetap memiliki risiko komplikasi penyakit vaskular (pembuluh darah), yang dapat menimbulkan berbagai gejala seperti penyakit jantung, gagal ginjal, luka diabetes, dan lainnya,” kata dr. Karina.

Terapi Stem Cell pada Penderita DM

Pemanfaatan stem cell (sel punca) pada terapi DM sudah banyak dilakukan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Berbagai jurnal tentang peran stem cell pada DM, serta berbagai uji klinis pada berbagai fase, sudah banyak dipublikasikan.

Sayangnya, banyak riset menyatakan bahwa potensi stem cell pada DM menurun, sehingga diduga akan terjadi penurunan efektivitas terapi bila menggunakan stem cell autologus (dari tubuh pasien sendiri) pada DM.

Meskipun demikian, penggunaan stem cell autologus untuk aplikasi klinis masih dianggap layak karena stem cell dapat diperoleh dalam jumlah banyak dengan mudah dari jaringan lemak tubuh pasien, serta meniadakan reaksi penolakan dari tubuh pasien.

“Upaya perbaikan perlu dilakukan agar efek terapi stem cell autologus menjadi maksimal, terutama saat digunakan untuk pembentukan pembuluh darah baru guna perbaikan penyakit vaskular akibat DM,” ujarnya.

Sebagai seorang klinisi bedah plastik yang bertanggung jawab atas pengambilan lemak dari tubuh pasien sebagai bahan sumber terapi stromal vascular fraction (stem cell tanpa kultur) autologus, Dr. dr. Karina, SpBP-RE mencermati adanya perbedaan dari sel stromal pasien DM dibanding dengan pasien non DM.

Walaupun dilakukan dengan tehnik liposuction yang sama, jumlah sel stromal pasien DM jauh lebih sedikit dibandingkan dengan dari pasien non DM. Hal inilah yang membuatnya terbiasa mengambil lemak pasien DM lebih banyak, walaupun pada sebagian kasus, hal ini sulit untuk dilakukan.

Itulah yang pada akhirnya menimbulkan keingintahuannya untuk mendalami lebih jauh, apakah selain dari jumlahnya yang menurun, kualitas dari stem cell DM pun juga menurun. Terutama untuk melihat dari fungsi angiogenesis yang tentunya sangat dibutuhkan untuk keberhasilan terapi bagi pasien DM.

Penelitian pun dimulai dengan membandingkan platelet rich plasma (PRP) dari donor sehat, donor DM, dan darah PMI yang sudah dianggap kadaluarsa, mengingat penelitian ini akan membutuhkan PRP dalam jumlah banyak sehingga lebih memungkinkan bila PRP diproses dari darah PMI.

“Di dunia medis, PRP sudah banyak digunakan untuk terapi kecantikan, anti aging dan penyembuhan luka, namun mengingat bahwa PRP yang diproses dengan baik adalah sumber berbagai faktor pertumbuhan (growth factors), maka dipikirkan untuk mencoba melakukan penambahan PRP dengan berbagai konsentrasi ke dalam medium kultur stem cell.”

Efek yang diharapkan terjadi adalah peningkatan jumlah dan kualitas stem cell, baik dari daya ketahanan hidup (survival), daya memperbanyak diri (proliferasi), ekspresi penanda stem cell, serta kemampuan stem cell untuk membentuk melakukan angiogenesis yang dilihat di Matrigel.

Mengingat begitu banyak growth factors yang terdapat di dalam PRP, Dr. dr. Karina, SpBP-RE memfokuskan diri ke Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF), yang merupakan salah satu growth factor utama dalam angiogenesis.

Menariknya, ternyata darah vena pasien DM dan darah PMI,  mengandung kadar VEGF dalam trombosit yang lebih tinggi dari pasien non DM.

Pada akhir penelitiannya diketahui bahwa pemberian PRP 15 persen ke dalam medium kultur stem cell, dapat meningkatkan kemampuan angiogenesis stem cell DM yang dilihat secara in vitro (di luar tubuh manusia), sehingga menjadi sebanding dengan stem cell non DM, namun dengan waktu pembentukan pembuluh darah yang lebih panjang.

2 0

About Post Author

Redaksi

Editor
50 %
Happy
0 %
Sad
0 %
Excited
0 %
Angry
50 %
Surprise

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *