Situs berita bisnis, UKM, entrepreneurship, inspirasi sukses, dan industri kreatif di Indonesia

Ilham Habibie Bicara Problem Kewirausahaan Nasional, Apa Katanya?

3 min read

Foto: istimewa

Read Time3 Minutes, 6 Seconds

TOPRENEUR.id – Dr. -Ing. Ilham Akbar, MBA atau dikenal dengan Ilham Akbar Habibie merupakan anak pertama dari Presiden RI ketiga, Bacharuddin Jusuf Habibie.

Pria kelahiran Jerman, 16 Mei 1963 ini memulai pendidikannya di Elementary School Windmuehlenweg, High School Hochrad, dan  Technical University of Munich, Jerman. Di Universitas Munich inilah, Ilham menuntaskan gelar insinyur hingga doktor dalam teknik penerbangan dengan hasil membanggakan, summa cum laude.

Kini Ilham dikenal sebagai seorang pengusaha andal di Indonesia. Dirinya mengembangkan perusahaan Ilthabi Rekatama Group yang bergerak di beragam bidang bisnis, antara lain manufacturing, pertambangan, properti, jasa keuangan, dan beberapa bidang lainnya.  

Keterlibatan Ilham di Ilthabi Rekatama dimulai pada 2002 sesaat setelah dirinya resign dari PT Dirgantara Indonesia. Ilthabi sendiri sudah dirintis sejak tahun 1991 yang dijalankan oleh para professional di bidangnya. Berbekal beragam ilmu bisnis dan teknik pesawat, Ilham menjalankan bisnisnya dengan cemerlang.

Sebagai seorang pengusaha yang sudah malang melintang di jagat bisnis Tanah Air, ia melihat jika perkembangan kewirausahaan nasional berjalan relatif stabil. 

“Secara makro, kita sama-sama tahu, dari tahun ke tahun perkembangannya relatif sama. Buat dunia usaha itu tidak cukup. Menurut saya, harus ada pertumbuhan yang lebih besar lagi. Kalau kita ingin menjadi Negara dengan pendapatan menengah atas, tentunya diperlukan pertumbuhan  yang lebih besar lagi. Yang paling utama untuk digenjot adalah pertumbuhan di industri manufaktur,” katanya.

Ilham menamsilkan, jika ingin memperkuat sektor primer di bidang pertanian, maka harus dilakukan mekanisasi dan industrialisasi dalam skala besar. Dengan demikian para pelaku di sektor pertanian dan segmen lain yang terkait akan berpindah ke sektor sekunder, yakni manufaktur.  

“Kalau ingin memajukan pertanian, misalnya, konsekuensinya adalah industrialisasi dan mekanisasi. Dan, salah satu dasar penting untuk menunjang hal tersebut adalah infrastruktur. Harus diakui, infrastruktur itu membuat peluang bagi para pelaku usaha untuk semakin berkembang,” ujar Ilham.

Ilham juga melihat pentingnya menciptakan nilai tambah bagi sebuah produk atau jasa. Sebab, ia melihat fakta jika lebih dari 50% ekspor dalam negeri masih dalam kondisi mentah. 

“Jadi pengusaha itu jangan menjual produk seadanya. Harus bisa ciptakan nilai tambah. Dulu komoditas diekspor mentah karena pertumbuhannya bagus, tapi sekarang kan komoditasnya turun. Kita harus ke manufaktur,” sebutnya.

Ia menyitir, diketahui saat ini masyarakat di Indonesia masih tergolong pada kelompok yang berpenghasilan menengah ke bawah, yakni masih berada di angka USD 3 ribuan per tahun. Sementara Tiongkok sudah di antara 5 ribu—6 ribu dan Malaysia di angka 10 ribuan. 

“Pada tahun 2030 semoga kita menjadi Negara berpendapatan menengah ke atas. Kita harus bisa naik kelas dari Negara berpendapatan menengah bawah menuju Negara berpendapatan menengah atas.”

Nah, agar cita-cita tersebut bisa terwujud, diperlukan keterlibatan para pengusaha yang masuk ke sektor sekunder, bahkan tersier (jasa). Menurutnya, bisnis jasa terbaik adalah yang melayani perusahaan-perusahaan dari sektor sekunder. 

“Kita harus punya industri di sektor sekunder dan terlayani oleh jasa yang diperlukan,” tukas dia.  

Pria yang menyabet penghargaan Bintang Satyalancana Wira Karya dan Adikarsa Pemuda ini menyebut beberapa faktor penghambat bagi dunia wirausaha nasional. 

Pertama, ketidakstabilan regulasi, dimana banyak sekali peraturan yang berubah. Kedua, terkait kepastian hukum. Ketiga, pendidikan yang masih rendah.

“Kalau kita berperkara, masuk ke pengadilan dan telah diputuskan, maka hasil dari proses pengadilan itu mesti ada kepastian. Di sisi lain, ini terkait dengan pendidikan masyarakat kita. Sebanyak 60% pekerja di Indonesia hanya tamatan SD dan SMP, jelas itu tidak cukup. Sebab, yang diperlukan perusahaan adalah orang-orang yang memiliki pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan tersebut,” ucap jebolan S-3 Technical University of Munich, Jerman ini.

Ilham menambahkan, dirinya seringkali membaca di surat kabar jika pada 2030 Indonesia bakal masuk 7 negara terbesar dalam bidang ekonomi. “Bagi saya itu bisa terjadi tapi dengan catatan; 115 juta pekerja kita sudah terdidik. Kalau masih seperti sekarang, itu hanya prediksi saja. Menjadi 7 negara besar itu ada prasyarat yang harus dilakukan, harus ada upaya dalam mendidik masyarakat di Tanah Air.”   

2 0

About Post Author

Redaksi

Editor
0 %
Happy
0 %
Sad
0 %
Excited
0 %
Angry
0 %
Surprise

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *