Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang di Jawa Tengah semakin memperkuat posisinya sebagai pusat pertumbuhan industri manufaktur di Indonesia. Hal ini terlihat dari apresiasi positif yang diterima dari Komisi VII DPR RI dalam kunjungan kerja mereka baru-baru ini. Kesiapan infrastruktur, kemudahan investasi, dan kolaborasi kuat antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku industri menjadi kunci keberhasilan KEK ini.
Apresiasi tersebut menunjukkan bahwa KEK Industropolis Batang menjadi contoh nyata keberhasilan hilirisasi industri di Indonesia. Pendekatan kolaboratif yang diterapkan menjadi faktor kunci dalam pengembangan kawasan ini.
Kesiapan Infrastruktur dan Kemudahan Investasi
Ketua Tim Komisi VII DPR RI, Erna Sari Dewi, memberikan pujian atas kesiapan infrastruktur modern dan lengkap di KEK Industropolis Batang. Ia menekankan semangat kolaboratif sebagai faktor penting yang mendorong pertumbuhan kawasan ini.
Potensi besar KEK Industropolis Batang dalam menciptakan nilai tambah dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar juga disoroti. Ibu Erna Sari Dewi mendorong agar pelibatan masyarakat lokal terus diperkuat dalam setiap tahapan pembangunan.
Direktur Utama PT Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Ngurah Wirawan, menjelaskan bahwa KEK Industropolis Batang dibangun bukan hanya sebagai lokasi industri semata. Kawasan ini dirancang sebagai ekosistem terintegrasi yang mampu memenuhi kebutuhan investor dan menjamin keberlanjutan bisnis.
KEK Industropolis Batang difokuskan untuk menjadi ruang tumbuh bagi industri masa depan. Investor tidak hanya memperoleh kemudahan berinvestasi, tetapi juga rasa percaya diri atas keamanan investasi mereka.
Dukungan dari Anggota Komisi VII DPR RI
Anggota Komisi VII DPR RI, Dina Lorenza Audria, menyampaikan kekagumannya terhadap kemajuan KEK Industropolis Batang. Ia menyatakan bahwa semua kebutuhan industri, mulai dari infrastruktur dan lahan hingga perizinan, telah terintegrasi dengan baik.
Ibu Dina Lorenza juga menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat sekitar agar dapat ikut menikmati pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut. Hal ini menunjukkan komitmen untuk pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif.
Novita Hardini, anggota Komisi VII DPR RI lainnya, melihat KEK Industropolis Batang sebagai simbol optimisme Indonesia di kancah global. Kawasan ini memberikan rasa aman kepada investor karena terintegrasinya rantai pasok dari hulu hingga hilir.
Keberadaan KEK Industropolis Batang membuktikan kemampuan Indonesia untuk bersaing di pasar internasional. Ibu Novita Hardini mengajak lebih banyak investor untuk berinvestasi di Batang.
Pengembangan Berkelanjutan dan Masa Depan Industropolis Batang
Yoyok Riyo Sudibyo, anggota Komisi VII DPR RI sekaligus mantan Bupati Batang, mengungkapkan kebanggaannya atas perkembangan pesat daerah kelahirannya. Beliau menilai bahwa KEK Industropolis Batang telah menghidupkan potensi daerah dan membuka banyak peluang kerja bagi masyarakat.
Hingga Juni 2025, sebanyak 31 tenant telah bergabung di KEK Industropolis Batang dengan total pengembangan mencapai 4.300 hektare. KEK ini tidak hanya berperan sebagai kawasan industri, tetapi juga sebagai poros kemajuan nasional.
Kunjungan Komisi VII DPR RI ini menguatkan pesan pentingnya sinergi antara negara, industri, dan masyarakat untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang merata. KEK Industropolis Batang menjadi bukti nyata bahwa pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif dapat terwujud.
KEK Industropolis Batang terus berbenah dan berkomitmen untuk menjadi pusat pertumbuhan industri manufaktur yang unggul dan berkelanjutan di Indonesia. Dengan kolaborasi yang kuat dan visi yang jelas, kawasan ini akan terus berkembang dan berkontribusi besar bagi perekonomian nasional.







