20 September 2020

Inovasi Kemasan Ramah Lingkungan dalam Industri Horeka

Foto: istimewa

Bagikan:

Industri makanan dan minuman di Tanah Air semakin berkembang. Seiring dengan hal itu, kebutuhan terhadap kemasan pun terus bertumbuh. Dengan perkembangan teknologi saat ini, teknologi kemasan juga memiliki beragam kemajuan. Terlebih, gaya hidup era masa kini banyak dimudahkan dengan serab online. Termasuk memesan makanan via online.

Atas dasar itulah Shivan terinspirasi untuk masuk ke industry kemasan. Dirinya melihat semakin banyak orang yang memerlukan packaging yang baik. “Di bidang horeka (hotel, resto, catering –red), kemasan banyak digunakan. Di pasaran jenisnya juga banyak, ada yang terbuat dari plastic yang ekonomis dan tahan air, ataupun dari bahan lainnya seperti kertas,” sebutnya.

Namun Shivan melihat sisi lain sebagai dampak buruknya, yakni penggunaan kemasan plastik yang jika dibuang akan memerlukan waktu antara 500—1000 tahun untuk bisa diurai. Artinya, butuh waktu yang sangat lama agar timbunan sampah plastik bisa diurai. “Kami fokus pada sampah plastic yang dibuang, sebab ada juga plastic yang didaur ulang. Nah, kalau dibuang ke tempat pembuangan sampah, ini akan jadi masalah. Dalam hal ini, perilaku manusia untuk sadar dengan tidak buang sampah plastik memiliki peran yang sangat penting.”

Shiva berharap semakin hari akan semakin banyak orang yang sadar untuk tidak membuang sampah plastic sembarangan. Dan untuk menanggulangi hal itu, melalui perusahaan yang dibangunnya, Ecorasa, dirinya mengembangkan teknologi kemasan yang ramah lingkungan. Adalah oxium, teknologi karya anak bangsa yang sudah dipatenkan di Amerika dan mendapatkan beragam penghargaan inilah yang dipakai Ecorasa untuk membuat kemasan ramah lingkungan.

Dengan teknologi ini kemasan plastik yang dibuang dapat diurai hanya dalam waktu 5 tahun saja. “Teknologi oxium ini sudah dipakai juga di beberapa Negara.  Teknologi ini sudah dibuktikan di pasar dan telah lulus beberapa sertifikasi serta berstandar nasional dan internasional. Bagi kami ini adalah solusi atas masalah sampah plastic saat ini, sambil terus melakukan edukasi kepada masyarakat terkait sampah dan bagaimana pengolahan sampah yang baik,” ujar Shivan.

Dengan hanya memerlukan waktu urai hanya 5 tahun, maka ini adalah solusi bagi Indonesia sebagai Negara kepulauan. “Ada yang bilang juga kenapa sih tidak dibuat bulanan saja? Sebetulnya sih bisa, tapi kami harus mempertimbangkan beberaa hal, karena sebuah produk itu setelah diproduksi kana da proses pengiriman, lalu masuk ke gudang, dan lain-lain. Nah, kalau waktunya terlalu pendek, dikhawatirkan kemasan akan rusak saat masih di gudang,” imbuhnya lagi.

Shivan melihat jika prospek bisnis packaging di Indonesia cukup besar. Bahkan, gaya hidup orang yang ingin serba mudah dan instan, semakin menambah ceruk pasar yang ada. Makan siang tidak perlu keluar, cukup pesan via online. Makanan pun datang. “Tapi kita ini memerlukan kemasan yang aman, bukan asal kemasan. Butuh kemasan yang bagus, yang tahan panas, tahan dingin dan yang pasti harus food grade.”

Diakuinya, Ecorasa sendiri mulai menyasar pangsa pasar di Indonesia pada November 2018. Saat ini kemasan Ecorasa terdiri dari 6 model untuk makanan dan akan dikembangkan untuk kemasan minuman. “Ini produk ramah lingkungan, pengunciannya juga keras sehingga tidak usah takut tumpah. Keunggulan lainnya, ada eco label dari Kementerian Lingkungan Hidup,” sahutnya.

Adapun pasar Ecorasa adalah mereka para pelaku usaha yang bergerak di industri makanan dan minuman yang ingin menggunakan produk kemasan berkualitas. “Masih ada kemasan yang sebenarnya bukan untuk makanan dan minuman tapi karena harganya murah, pelaku usaha pakai itu. Padahal kemasan makanan itu, ya harus food grade. Segmen kami dari berbagai kalangan yang mengapresiasi produk-produk ramah lingkungan.”

Adapun produk Ecorasa saat ini telah tersebar di beberapa kota di Indonesia dari Jabodetabek, Medan, Palembang, Bali, Kediri, dan Surabaya. Terkait harga, Shivan memastikan bersaing dengan produk sejenis lainnya. “Kalau ketebalannya sama, ukurannya sama dan food grade, harga kami hampir sama. Tapi kalau ada produk dengan ukuran sama tapi tidak food grade, tentu harga kami bisa lebih mahal. Kalau dikalkulasi per pcs kena Rp870 termasuk ongkir. Minimal pembelian 1 dus @500 pack.”

Lalu, bagaimana dengan persaingan di bidang ini? “Kelihatannya cukup ketat. Demand-nya ada, produsen kemasan jadi banyak. Tapi kalau yang menggunakan oxium yang mudah terurai, rasanya kami baru satu-satunya. Ke depan saya yakin akan semakin banyak pelaku usaha yang menyediakan produk-produk ramah lingkungan. Saya tahu pasar Indonesia ini sangat besar, tidak mungkin kami sendiri yang lakukan.”

Sementara untuk produksinya, Shivan juga berkolaborasi dengan pabrik. Menurutnya, kapasitas produksinya bisa tidak terbatas tergantung demand yang masuk.

Dari dua bidang, makanan dan minuman, ia melihat secara kuantitas peluangnya lebih banyak di sektor minuman. Ke depan ia komitmen untuk semakin memantapkan diri di bidang kemasan horeka dan akan berinovasi dengan menggunakan bahan baku dari sumber terbarukan. Bahan baku terbarukan yang dibidiknya adalah singkong. “Plastik singkong, ecoplast, ini yang akan dikembangkan. Nanti sedotan dibuat dari singkong. Kami ingin kembangkan ini dengan memberdayakan para petani singkong di Bogor, Jawa Barat.”

Dengan pengalamannya di bisnis ini, Shivan memberikan kiat-kiat suksesnya. Baginya, yang terpenting adalah mengidentifiaksi masalah atau kebutuhan yang ada, lalu ciptakanlah solusinya. “Kalau kita buka usaha, pastikan bisa memberikan solusi atas masalah yang terjadi di lingkungan kita. Berikan solusi itu seefisien mungkin dengan harga yang terjangkau. Saat ini teknologi kemasan banyak yang bagus, tapi karena saking bagusnya, harganya jadi mahal sekali dan tidak terjangkau oleh masyarakat,” sebutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *