23 Oktober 2020

Inspirasi Era Soekamto, Kampanyekan Budaya Lewat Kebaya 

Istimewa

Bagikan:

TOPRENEUR.id – Dalam pandangan Era Soekamto, sosok Kartini adalah seorang figur wanita yang sangat kritis dan mindful, mencintai Tuhan, bermimpi besar (co-creator).

Ide, gagasan, dan pemikiran Kartini masih tetap hidup di tengah – tengah kita.  Berupaya memperbaiki nasib rakyat dan bangsanya, khususnya kaum perempuan. 

Era Soekamto, seorang batik and culture prodigy, aktif mengkampanyekan budaya lewat perempuan berkebaya. Ia percaya bahwa nilai-nilai Kartini yang mencintai budayanya, menggunakan kebaya, kain batik, dan sanggul sebagai  pakaian sehari-harinya.

Era Soekamto pernah mengusung koleksi “Smargaloka”, yakni konsep desain dari busana etnik, perpaduan Jawa dan Bugis kreasinya. 

Warisan budaya kerajaan Bugis dan Jawa ditafsirkan melalui koleksi busana siap pakai yang feminin dan modern.

Menurutnya, kebaya dengan perpaduan kain tradisional, bisa menjadi tren yang memberikan inspirasi baru gaya busana. Misi untuk mengawinkan dua budaya dalam satu balutan busana tak berhenti sampai di Jawa dan Bugis.

Masih banyak kain tradisional dan budaya nusantara lainnya yang bisa digali dan dieksplorasi menjadi rancangan yang unik, berbeda, sarat tradisi, dan tentunya tetap mempercantik perempuan Indonesia dengan gaya yang lebih dinamis dan modern.

Dia adalah seorang tokoh perempuan modern. Dia melihat adanya kesamaan situasi antara kehidupan Kartini pada masa lalu dengan kehidupan saat saat ini. 

Di mana pada masa pandemi ini, yaitu “lock down”, atau dirumahkan. Kartini menggunakan sebagian besar waktunya untuk membaca, menuliskan semua pemikirannya, visi dan cita-cita besarnya melalui surat kepada temannya di Belanda, yang menceritakannya tentang harapan dan kesetaraan pendidikan untuk perempuan di Indonesia.

Era Soekamto mengajak sahabat-sahabat dengan satu visinya untuk bergerak dari rumah masing-masing, membuat impact yang besar dengan cara yang sangat sederhana. “Kami menghidupi semangat Kartini dengan membuat sebuah video yang bercerita tentang filosofi Kartini yang sangat populer, “Habis Gelap Terbitlah Terang” dengan pengalaman dan interprestasi masing-masing,” sebutnya.

Mereka adalah Happy Salma, Wulan Tilaar, Maudy Koesnaedi, Aura Kasih, Andien Aisyah, Susan Bachtiar, Alena Wu, Amanda Gratiana, Janna Soekasah Joesoef, Kristy Syarfuan Humphrey Djemat, serta penggerak komunitas Women 9.0 by Abhanuraga Nusantara yang dibentuk olehnya sebagai wadah untuk berdialog antar kultur dan agama, dengan tujuan untuk menemukan jati diri yang sejati dan pemberdayaan manusia sehingga bermanfaat bagi banyak orang lainnya.

Sebuah langkah dengan niat mulia ini diharapkan dapat menginspirasi banyak perempuan di Indonesia.  

Menurutnya, legacy yang diturunkan oleh Kartini, yaitu ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ adalah wujud dari pencerahan diri, bahwa terang itu adanya di dalam diri manusia dan semua ini terjadi untuk bangkit secara individu dan kolektif, dan bangsa ini bangkit dalam kesadaran Tuhan yang hakiki.  “Bangkit peradaban dalam cinta dan kasih sayang, serta kembali kepada budaya Nusantara Adi Luhung,” jelasnya.

Wulan Tilaar, pengusaha di bidang spa dan kecantikan yang meneruskan legacy sang ibunda Martha Tilaar mengatakan, semboyan Ibu Kartini adalah ‘Aku Bisa’. Dua kata yang sangat ringkas ini memampukan beliau untuk melewati segala tantangan dan masalah di masanya. 

Semboyan ‘Aku Bisa’  dapat mengeluarkan energi positif, keberanian dan juga kepercayaan diri, sehingga dengan kemauan yang kuat, bisa melalui segala tantangan hari-hari yang sulit dengan lebih baik. “Katakan ‘Aku Bisa dan Aku Mau’ sebagai kalimat afirmasi yang bisa kita ucapkan setiap hari untuk melalui hari-hari kita dengan positif,” kata Wulan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *