Situs berita bisnis, UKM, entrepreneurship, inspirasi sukses, dan industri kreatif di Indonesia

Inspirasi Yoshi Yunasha dkk Lewat Brand Fashion Afrakids

4 min read
Read Time3 Minute, 41 Second

TOPRENEUR.ID – Lima sekawan (Hisyam, Mola, Yoshi, Doni, dan Bono –red) sukses membangun brand fashion yang khusus untuk kalangan anak-anak muslim. Afrakids, demikian namanya, dibangun oleh mereka sejak tahun 2013.

Yoshi Yunasha bercerita, brand ini didirikan berangkat dari keinginan mereka untuk berbuat kebaikan dengan menyebarkan nilai-nilai agama. Lantaran bukan ustadz, maka cara lain yang dipilihnya adalah dengan berdakwah melalui kaus yang dibuatnya.

Dari kaus yang diproduksinya itu, berbagai ajakan kebaikan disebarkan kepada khalayak terutama anak-anak. Pesan moral seperti ajakan sedekah, shalat, berdoa sebelum makan, dan lain-lain, termaktub di setiap kaus yang dibuat.

“Kenapa kami pilih pasar anak-anak, sebab kalau remaja ke atas proses membentuk karakternya sudah terlewat. Selain itu, kalau dari sisi bisnisnya, anak-anak itu pakai baju tidak lama, pasti akan cepat ganti. Dengan demikian prospeknya lebih bagus,” kata Yoshi.

Dengan niat berbagi nilai kebaikan yang dikemas dengan cara berbeda, akhirnya kaus Afrakids pun diperkenalkan ke publik. Di awal-awal, hanya ada 20 desain yang dibuat dengan jumlah total 2.000-an pieces yang diproduksi. Tak disangka, respon pasar cukup luar biasa, sehingga hal tersebut semakin mendorong Yoshi dkk untuk membuat beragam terobosan lainnya.  

“Dengan modal yang ada, kami buat produksi secara mandiri. Dari mulai beli bahan baku, memotong kain, menjahit, sampai menjual dilakukan secara mandiri oleh tim yang kami buat. Tidak banyak model yang dikeluarkan, hanya sekira 20 model setiap tahunnya,” ujarnya.

Namun, belakanga seiring dengan pertumbuhan bisnis yang dilakukannya, desain pun akhirnya disesuaikan dengan kebutuhan dan tren pasar. Menurutnya, saat ini Afrakids telah memiliki lebih dari 200 desain kaus berisikan berbagai konten kebaikan.  

Yoshi cukup berbangga lantaran Afrakids saat ini sudah semakin berkembang dan tersebar ke berbagai daerah di Indonesia. Adapun strategi marketing yang dilakukannya adalah dengan menjaring para agen dan reseller di berbagai wilayah. Agen dan reseller inilah yang menjadi garda terdepan dalam penjualan produk-produk dari Afrakids.

Diakui Yoshi, dengan produksi kaus anak antara 80 ribu hingga 100 ribu pieces setiap bulannya, produknya tersebar di Jabodetabek dan Pulau Jawa sekira 60%, selebihnya berada di luar Jawa dari Nanggroe Aceh sampai Papua.  

Keberhasilannya dalam menyasar pasar nasional tidak terlepas dari keistimewaan produknya. Meski persaingan di bidang ini cukup tinggi, namun inovasi yang dilakukan ditambah dengan kualitas yang baik, membuat Afrakids tetap bertahan di level terbaik.

“Kami punya inovasi dalam desain, misalnya, kaus yang diterapkan aplikasi 4D, sehingga gambarnya bisa hidup. Bahan baku juga kami pilih kualitas yang baik,” tukasnya.

Sejujurnya, produk serupa di pasaran sudah sangat menjamur. Pemain serupa yang meniru produknya juga banyak ditemukan di pasaran. Tapi baginya, itu bukanlah sebuah ancaman, melainkan sebagai bukti jika produknya telah memberikan inspirasi bagi yang lain. “Kalau produk kita sudah ada yang meniru, itu artinya produk kita sudah punya nilai jual. Mereka boleh menjual dengan harga yang lebih murah, tapi kami masih punya kualitas bahan dan sablon yang bisa diandalkan.” Diketahui, kaus Afrakids dibanderol dari harga Rp65 ribu hingga Rp112 ribu per pieces.  

Sebagai diversifikasi produk, akhirnya Afrakids tidak hanya menjual aneka kaus anak-anak saja, tapi juga telah merambah ke produk lainnya seperti tas anak, kemeja, baju koko, celana, sampaia kerudung anak. “Produk kami terus bertambah dengan pangsa pasar anak-anak,” jelas Yoshi.

Menurutnya, dalam berbisnis fashion, musim ramainya adalah ketika Ramadan dan menjelang Lebaran Idul Fitri. Selain itu, di setiap akhir tahun dan tahun ajaran baru, penjualan juga biasanya melonjak cukup tajam.

“Dengan spesifikasi kami di pasar anak muslim, yang pasti menjelang Lebaran seperti sekarang pasti ramai. Banyak agen dan reseller yang melakukan pembelian di bulan-bulan ini,” ucapnya.     

Selain pasar dalam negeri, ke depan Yoshi juga ingin menyasar pasar mancanegara, misalnya di kawasan ASEAN seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. Pasar di Timur Tengah dan Bangladesh juga dinilainya memiliki potensi yang cukup baik. Saat ini sebetulnya Afrakids juga telah memiliki agen dan reseller di Malaysia dan Singapura, tapi pengembangannya masih banyak terkendala soal logistik.

“Sebelum masuk ke luar negeri, kami akan perkuat di dalam negeri. Bagaimana pun, pasar Indonesia ini sangat besar. Beragam produk luar banyak menyerbu kita, artinya pasar kita dengan 262 juta penduduk masih menjanjikan. Andaikan, dari jumlah tersebut anak-anaknya sekira 25% saja, artinya ada lebih dari 60 juta-an anak yang menjadi target pasar Afrakids.”

Atas kesuksesannya di bidang ini, Yoshi tak sungkan berbagi kiat suksesnya. Menurutnya, hal utama yang harus dilakukan oleh setiap pelaku usaha di bidang fashion adalah inovasi, tidak hanya model tapi sampai ke detail warna. Lalu, lakukanlah secara konsisten.

“Dalam berbisnis, naik-turun itu sangat wajar. Jangan hanya melihat enaknya saja, tapi pasti ada masa-masa sulit yang harus dilalui. Jangan lupa berdoa dalam setiap langkah yang dilakukan,” pungkas dia.

0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *