Inspiratif! Anak Penjual Es Lolos ITB SNBP, Raih Mimpi Tanpa Beasiswa

Redaksi

Inspiratif! Anak Penjual Es Lolos ITB SNBP, Raih Mimpi Tanpa Beasiswa
Sumber: Kompas.com

Avan Ferdiansyah Hilmi, pemuda 19 tahun asal Ponorogo, Jawa Timur, berhasil mewujudkan mimpinya kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia diterima melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Prestasi akademik Avan memang luar biasa. Namun, perjalanan menuju ITB penuh tantangan bagi anak penjual es keliling ini.

Meskipun telah mengumpulkan lebih dari 100 piala dan trofi juara sejak Taman Kanak-Kanak (TK), Avan belum pernah mendapatkan beasiswa dari pemerintah daerah. Dukungan justru datang dari beberapa donatur dan lembaga swadaya masyarakat yang tergerak oleh kegigihannya.

Rumah Penuh Trofi, Bukti Kerja Keras Avan

Rumah sederhana Avan di Kelurahan Mankujayan, Kecamatan Ponorogo, menjadi saksi bisu perjuangannya. Ruangannya penuh dengan ratusan piala dan trofi yang tertata rapi. Bukan furnitur mewah yang memenuhi rumahnya, melainkan bukti nyata kerja keras Avan sejak TK hingga SMA.

Pada kunjungan ke rumahnya, terlihat lemari kayu sederhana di ruang tamu berukuran 3×4 meter penuh sesak dengan trofi. Bahkan, beberapa trofi lainnya menumpuk di atas lemari. Meja dan kursi tamu pun berhimpitan dengan dinding untuk memberi ruang bagi kasur dan meja belajar kecil di tengah ruangan.

Dukungan Orang Tua dan Semangat Belajar yang Tak Pernah Padam

Kisah sukses Avan tak lepas dari dukungan orang tuanya. Ibunya, Umi Latifah, berjualan minuman dingin di alun-alun. Ayahnya, Eko Yudianto, berjualan es keliling. Pendapatan mereka pas-pasan, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sederhana.

Sejak kecil, Avan menunjukkan minat yang luar biasa pada angka dan huruf. Sebelum masuk SD, ia sudah lancar membaca dan berhitung. Ia gemar mengamati gambar dan poster abjad serta angka. Hobinya membaca buku pengetahuan juga turut membentuk kecerdasannya.

Umi Latifah menceritakan, Avan sangat menyukai buku bergambar “Why”, yang harganya cukup mahal, sekitar Rp 100.000 per buku. Namun, demi mendukung minat baca Avan, mereka rela membelinya. Ketekunan Avan dalam belajar dan mengikuti berbagai perlombaan juga didukung penuh oleh kedua orang tuanya.

Umi Latifah dan Eko Yudianto selalu mengantar Avan ke berbagai perlombaan, bahkan hingga ke luar kota seperti Madiun dan Kediri. Mereka selalu mendukung penuh Avan, meskipun terkadang harus mengorbankan waktu berjualan.

Tantangan Ekonomi dan Kegigihan Meraih Mimpi

Meskipun prestasinya gemilang, termasuk meraih juara Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat nasional, Avan tak pernah menerima beasiswa dari pemerintah daerah. Keluarga Avan juga tidak terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), sehingga mereka kesulitan mengakses layanan BPJS Kesehatan.

Ayahnya selalu berupaya meringankan beban biaya sekolah dengan meminta keringanan biaya ke sekolah. Mereka juga pernah menerima bantuan seragam, buku, dan keperluan sekolah dari beberapa yayasan, namun hanya sampai jenjang SMP. Ketiadaan BPJS menjadi kekhawatiran utama keluarga Avan, terutama ketika ia akan kuliah di luar kota.

Avan sempat gagal meraih beasiswa kuliah di ITB melalui Olimpiade O2SN tingkat nasional. Ia hanya sampai tingkat provinsi. Namun, kegagalan itu tak membuatnya patah semangat. Ia bangkit kembali dan berjuang melalui jalur SNBP.

Setelah diterima di ITB melalui jalur SNBP, Avan mengajukan permohonan keringanan biaya kuliah. Beruntung, permohonan tersebut diterima oleh Paragon, sebuah lembaga penyedia beasiswa untuk siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. Tim ITB bahkan mengunjungi rumah Avan untuk memvalidasi kondisi ekonominya. Mereka terkejut melihat banyaknya piala yang menghiasi rumah sederhana Avan.

Kisah Avan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Anak penjual es keliling ini membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih prestasi dan mimpi setinggi langit. Ketekunan, kerja keras, dan dukungan keluarga menjadi kunci keberhasilannya. Semoga kisah ini menginspirasi generasi muda Indonesia untuk terus berjuang dan mengejar cita-cita.

Also Read

Tags

Topreneur