Ratusan piala berjejer rapi di ruang tamu rumah keluarga Eko Yudianto dan Ummi Latifah di Ponorogo, Jawa Timur. Bukan sekadar koleksi, piala-piala tersebut menandai perjalanan panjang Avan Ferdiansyah Hilmi, putra sulung mereka, dalam meraih prestasi akademik dan non-akademik.
Perjuangan Avan membuahkan hasil gemilang. Ia diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB), kampus impiannya, melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2025. Kisah inspiratif Avan ini menjadi bukti bahwa kerja keras dan kegigihan dapat membawa seseorang mencapai cita-citanya.
Dari Piala Pertama hingga ITB: Jejak Prestasi Avan
Avan Ferdiansyah Hilmi, lahir di Ponorogo pada 6 April 2006, merupakan lulusan SMA Negeri 1 Ponorogo. Ia berhasil diterima di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB.
Keberhasilannya ini diraih setelah mengumpulkan sekitar 100 prestasi, sebagian besar di bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). ITB telah lama menjadi kampus impian Avan sejak kelas 10.
Avan mengaku terkejut sekaligus bahagia saat pengumuman penerimaan SNBP 2025. Ia tak menyangka perjuangannya selama bertahun-tahun akan membawanya ke kampus bergengsi tersebut.
Perjalanan Panjang Menuju OSN Nasional: Ketekunan dan Kegagalan
Minat Avan pada bidang kebumian tumbuh sejak mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN). Ia memulai perlombaan sejak kelas 2 SD, meskipun belum pernah menang.
Partisipasinya dilandasi keinginan untuk melatih keberanian. Keberhasilan pertama diraih saat kelas 5 SD.
Perjalanan Avan di OSN tidak selalu mulus. Di tingkat SD, ia hanya mencapai tingkat kabupaten/kota dalam bidang Matematika.
Pada jenjang SMP, ia mengikuti OSN bidang IPA, namun hanya sampai tingkat provinsi. Prestasi nasional baru diraihnya di SMA.
Avan memilih bidang kebumian di SMA dan berhasil mencapai tingkat nasional. Pengalaman ini sangat berkesan baginya.
OSN tingkat nasional menjadi pengalaman tak terlupakan. Avan bertemu dengan pelajar-pelajar berprestasi dari seluruh Indonesia.
Dukungan Keluarga dan Perjuangan dalam Keterbatasan: Sumber Inspirasi
Di balik kesuksesan Avan, terdapat peran penting orang tuanya. Ayah dan ibunya berdagang es keliling.
Meskipun hidup sederhana, mereka selalu memberikan dukungan penuh kepada Avan. Mereka menyimpan ratusan piala Avan sebagai kenang-kenangan.
Ibu Avan, Ummi Latifah, merasa bangga atas pencapaian putranya. Ia berharap Avan dapat menyelesaikan kuliahnya dengan baik.
Avan juga mengapresiasi peran Pusat Prestasi Nasional, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Sistem Informasi Manajemen Talenta (SIMT) sangat membantunya.
SIMT memudahkan pendataan prestasi akademik dan non-akademik. Prestasi di ajang seperti OSN dan OPSI tercatat dan dapat diakses.
Avan menerapkan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dalam kesehariannya. Ia bangun pagi, beribadah, belajar, dan tidur tepat waktu.
Kesehatan dan penyelesaian studi tepat waktu menjadi prioritasnya. Ia juga berharap orang tuanya selalu sehat.
Avan menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukungnya. Ia juga memberi pesan kepada pelajar Indonesia.
Pesan Avan kepada pelajar Indonesia: jangan takut mencoba hal baru untuk menemukan potensi terbaik. Kisah inspiratif Avan menjadi bukti bahwa usaha gigih akan membuahkan hasil.
Dari seorang penjual es keliling hingga mahasiswa ITB, perjalanan Avan Ferdiansyah Hilmi merupakan contoh nyata bagaimana kerja keras, dukungan keluarga, dan pemanfaatan sistem yang tepat dapat mengantarkan seseorang meraih kesuksesan. Kisahnya menjadi inspirasi bagi para pelajar untuk terus berjuang meraih mimpi.







