Situs berita bisnis, UKM, entrepreneurship, inspirasi sukses, dan industri kreatif di Indonesia

KAN & ESMA Teken Kerjasama Terkait Ekspor Produk Halal ke UEA

2 min read
Read Time2 Minutes, 3 Seconds

Topreneur.ID – Perdagangan produk pangan Indonesia ke pasar Uni Emirat Arab (UEA) masih terkendala karena persyaratan yang mengharuskan bahwa sertifikat halal yang sudah dikeluarkan dari Lembaga Sertifikasi yang terakreditasi oleh Badan Akreditasi dan Emirat oleh Otoritas Otorita untuk Standardisasi dan Metrologi / ESMA.

Jika hal tersebut tidak dilakukan maka produk-produk seperti Uni Eropa, biskuit, mi instan, produk olahan daging, permen dan jelly, dan rasa dan bahan makanan akan terhambat.

Nah, dalam rangka memfasilitasi perusahaan Indonesia agar dapat melakukan eskpor ke wilayah UEA, Badan Standardisasi Nasional / BSN melalui Komite Akreditasi Nasional / KAN melakukan kerjasama di bidang akreditasi lembaga sertifikasi halal dengan ESMA.

Pengembangan kerjasama BSN / KAN dengan ESMA dituangkan dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandangani oleh Kepala BSN selaku Ketua KAN Bambang Prasetya dan Direktur Jenderal ESMA, Abdulla Abdelqader Al Maeeni, Senin (23/7/2018) di Jakarta.

Penandatanganan kerjasama juga dihadiri oleh wakil dari Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, BPJPH-Kementerian Agama, Delegasi ESMA, LPPOM MUI dan Perusahaan produk pangan di Indonesia.

Dalam isi perjanjian tersebut bahwa ESMA pengakuan sertifikat halal yang diterbitkan oleh lembaga sertifikasi yang diakreditasi oleh KAN berdasarkan persyaratan standar UEA. Negara-negara yang ingin dapat mendorong para produsen Indonesia untuk memperluas pasar ke UEA. Tarif akan meningkatkan nilai ekspor Indonesia.

“Dengan kerjasama yang ditandatanganinya, maka KAN selanjutnya akan melakukan akreditasi terhadap lembaga sertifikasi halal untuk produk yang diekspor ke UAE dan melakukan pengawasan terhadap lembaga sertifikasi yang untuk menjamin integritas halal yang sudah diterbitkan,” ujar Bambang.

Perlu, produk perdagangan halal di dunia. Akan diperlukan untuk hasil dari survei yang dilakukan oleh Global Islamic Economic Gateway. Survei tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2015 pasar global untuk produk pangan halal mencapai 16,6% dari pasar global (1,173 milyar USD) dan diperkirakan akan meningkat menjadi 18,3% di tahun 2020 dengan jumlah penduduk Muslim yang diperkirakan akan mencapai 20% dari jumlah total populasi seluruh dunia. Hal ini menunjukkan bahwa perdagangan produk halal akan menjadi peluang investasi yang signifikan dan berkembang.

Dalam survei itu ada, ada 5 (lima) negara pengekspor produk pangan halal yang besar tetapi tidak ada anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI), yaitu Brasil, India, Argentina, Rusia dan Perancis. Sedangkan 5 (lima) negara pengimpor terbesar adalah Arab Saudi, Malaysia, UAE, Indonesia dan Mesir (Laporan Ekonomi Islam Global 2016/2017).

Indonesia memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan industri halal mengingat jumlah penduduk Muslim yang mencapai 85,2 persen atau sebanyak 221 jiwa dari total penduduk 260 juta jiwa penduduk, yang memasukkan Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Hal ini juga seiring dengan dan semakin berkembangnya usaha baik tingkat kecil maupun skala besar yang terkait dengan produk pangan.

0 0

About Post Author

Muh Haikal

Editor
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *