Keren, Aplikasi ini Bawa Kuliner Masuk ke Pasar Digital  

Topreneur.ID – Terobosan yang dilakukan Anthony Gunawan di bidang kuliner boleh dibilang top. Sebab, aplikasi yang dibesutnya bernama Wakuliner menjadi satu-satunya marketplace yang khusus menyajikan berbagai kuliner Nusantara dan aneka oleh-oleh khas. Ia mendirikan perusahaan ini berawal dari pengalaman susahnya mencari kuliner yang diinginkannya, terutama di daerah non perkotaan.

Anthony menghabiskan pendidikannya di Amerika Serikat, dari jenjang S-1 sampai S-2 dilaluinya  di Chicago, AS. Pasca tamat S-2 ia pun sempat bekerja di negeri Abang Sam sebagai programmer selama empat tahun, lalu kariernya meroket hingga menjadi project manager yang berlangsung tiga tahun berikutnya. Kemudian keluarganya di Malang, Jawa Timur, memanggilnya untuk kembali ke Tanah Air. Anthony pun akhirnya pulang setelah 13 tahun bermukim di Amerika.

Orang tuanya di Malang memiliki bisnis pabrik mie dan menjadi supplier supermarket dan resto. Tapi Anthony tidak melanjutkan kiprah orang tuanya di bisnis tersebut, sebab orang tuanya juga mengarahkannya untuk lebih bisa mandiri. “Setelah di Indonesia, saya sempat keliling dari Jawa Tengah sampai Jawa Timur. Untuk di kota-kota kecil, saya merasa kesusahan untuk mencari kuliner Nusantara. Lalu, ada ide untuk membuat marketplace khusus kuliner,” katanya.

Ide itu pun lalu diimpelementasikan dengan pembuatan aplikasi Wakuliner sebagai e-commerce yang mengusung tema kuliner. Ia memiliki visi untuk menjadikan usahanya menjadi e-commerce kuliner pertama terbesar dan terlengkap d Indonesia. “Saya menggagasnya pada akhir 2015, pada Juli 2016 mulai buat aplikasinya, dan operasional baru dilakukan pada Januari 2017,” imbuh pria berusia 33 tahun ini.

Image: istimewa

Wakuliner sendiri pada awalnya mengusung kuliner secara umum, tapi belakangan ia lebih memusatkan untuk kuliner khas Nusantara beserta oleh-oleh khas daerahnya. Sejak diluncurkan, diakuinya, Wakuliner disambut sangat positif oleh banyak orang. Namun, meskipun respon pasar bagus, sebagai brand baru, kendala utama yang dihadapinya tetap ada di branding.

“Kami lakukan semaksimal yang kami bisa. Sebagai startup dengan kondisi modal terbatas, agak susah untuk lebih memperkenalkan diri pada khalayak. Masih banyak yang belum tahu apa itu Wakuliner. Ke depan, kami juga merencanakan untuk melakukan presentasi ke beberapa investor. Belum lama ini kami juga sudah register di Indigo, tinggal tunggu presentasi. Ya, semoga sambil berjalan kami bisa mendapatkan pendanaan sehingga marketplace ini bisa semakin besar.”

Menurut Anthony,  saat ini jumlah user Wakuliner berada di posisi 13 ribu-an. Sementara jumah tenant (penjual/pelapak –red) kuliner ada sekira 4.000 orang dari yang siap saji, resto, depot, foodcourt, sampai UMKM dari para ibu rumah tangga yang menjual keripik, kue, rendang, dan aneka masakan lainnya. “Semua ada dan siapapun pada dasarnya bisa mendaftar secara free. Hanya 7 menit bisa langsung online dan bisa berjualan.”

Sementara dari transaksi yang dicatat, sebulan Wakuliner bisa bertransaksi hingga 1.000 kali transaksi di beberapa daerah terutama di kawasan Jabodetabek. Dirinya menargetkan setiap bulannya bisa mendapatkan hingga 300 pedagang kuliner yang menjadi membernya dengan penambahan user sampai 10 ribu per bulan. “Transaksi masih relatif kecil, tapi itu karena belum ada promo yang dilakukan. Bukan tidak mungkin, nanti ada kupon free ongkir atau promo menarik lainnya yang dilakukan, pasti bisa memantik ketertarikan orang untuk membeli di Wakuliner,” imbuhnya.

Sejumlah Tantangan

Ia menyadari jika bisnis startup di Indonesia masih memiliki sejumlah tantangan klasik yang harus dilewati. Misalnya, ia menyebutkan, yang terkait dengan kepercayaan dari masyarakat kaena branding yang masih lemah. “Branding lemah, maka kepercayaan masyarakat akan lambat tumbuhnya.” Lalu, di sisi lain ada masalah yang harus dihadapinya, yakni pendanaan. Ini juga menjadi kendala bisnis startup.

Image: ist

Tantangan berikutnya adalah terkait dengan talenta (SDM). Startup yang baru tumbuh dan belum kelihatan hasilnya, lebih cenderung susah mencari SDM yang berkualitas, sebab mereka akan lebih memilih untuk masuk ke perusahaan yang sudah lebih mapan. “Yang tertarik bekerja di startup yang baru tumbuh kecil, mereka lebih pilih bekerja di perusahaan yang sudah lebih besar,” katanya. Saat ini Wakuliner sendiri baru memiliki 12 karyawan.

Namun, di tengah segala tantangan yang harus dihadapinya itu, ia tetap optimis jika bisnis yang ditekuninya itu berada di posisi yang tepat. Wakuliner menjadi satu-satunya marketplace kuliner di Indonesia. “Ini kelebihannya. Dengan jumlah merchant yang makin banyak, fitur yang kian lengkap, orang nantinya akan terbiasa, kalau kepikirankuliner, ya Wakuliner.”

Di bawah bendera PT Big IT Republik Aplikasi, ia juga merangsek ke bisnis lain yang masih berbasis kuliner. Misalnya, Anthony mengembangkan ke bidang katering. Dirinya juga membuka jalur kerja sama dengan berbagai pihak. Yang sudah dilakukannya, misalnya, kerja sama dengan pengelola rest area, kerja sama dengan premium outlet dan handle food court. “Intinya, kuliner apapun akan kami garap, sebab kami punya teknologi disitu. Kami berusaha untuk memberikan solusi lengkap untuk bidang kuliner,” tegas dia.

Anthony bermimpi untuk menjadi yang terbesar di bidangnya. Dengan dukungan founder lainnya, Tung Desem Waringin, ia bahkan merencanakan agar Wakuliner bisa menembus pasar internasional.  “Saya akan fokus membesarkan kuliner dulu.  Harus bisa go international. Ekspansi saya masih akan tetap di kuliner. Tidak akan keluar dari zona kuliner dulu agar konsentrasi saya tidak pecah,” pungkas Anthony.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *