18 September 2020

Kroket Singkong ini Sukses Tembus Kafe dan Hotel

Foto: ist

Bagikan:

topreneur.id – Labodine yang memproduksi makanan serba singkong, sukses membuat penganan tradisional ini digandrungi masyarakat. Dikemas dan dapat disajikan lebih praktis, membuat Labodine sukses di pasaran.

Nila Hamid selaku pemilik Labodine menyebutkan, setiap bulan dirinya mampu memproduksi hingga 1.500 pack dan saat ini produknya tersebar di seantero Jabodetabek. Sementara itu, diakui Nila, untuk bahan baku dalam sebulan bisa menghabiskan sebanyak 450 kg singkong.

Dalam hal penjualan, Nila lebih banyak mengandalkan para resellernya. Saat ini jumlah para resellernya sudah di angka puluhan orang dan tersebar di berbagai wilayah. Umumnya mereka adalah para ibu rumah tangga yang berjualan online.

Dalam bisnis ini, untuk kroket singkong, dirinya merasa belum ada penantang lain. Sementara untuk singkong bumbu dan combro, produk sejenis di pasaran memang sudah banyak beredar. Hal ini membuat tensi persaingan cukup ketat. “Harga kami juga bersaing, produk-produk LaBodine dibanderol dari mulai Rp17 ribu hingga Rp40 ribu per pack.”

Salah satu pengembangan pasar yang akan dilakukannya adalah penetrasi ke hotel dan kafe. Sebab, peluang ini masih terbuka sangat lebar. Menurutnya, orang yang familiar dengan singkong adalah mereka yang berusia 30 tahun ke atas. Di tempat-tempat seperti kafe dan hotel, makanan tradisional seperti singkong ini sangat dirindukan.

“Ya, mereka cenderung ingin kembali ke nuansa tradisional. Sebab di hotel dan kafe, umumnya makanan yang tersedia adalah kuliner-kuliner umum, baik dalam maupun luar negeri. Nah, ketika makanan tradisional disajikan di sana, ini akan menimbulkan kenangan tersendiri. Pasar kami memang bukan dari generasi milenial, anak sekarang sudah tidak tahu lagi jenis-jenis makanan tradisional.”

Ke depan, makanan khas lokal ini, bukan tidak mungkin untuk diberi inovasi lain, misalnya rasa, yang saat ini masih fokus ke asin dan gurih. Jika di Bogor ada talas yang dibuat cake, maka singkong juga berpotensi demikian. “Hanya saja, untuk saat ini saya akan maksimalkan pasar yang ada terlebih dahulu. Ke depan pasti masih banyak peluang yang bisa ditembus.”

Labodine sendiri sudah mengantongi kelengkapan izin P IRT dan Halal dari MUI. Terkait hal ini, Nita mengaku difasiltasi oleh pemerintah kota setempat. Pemkot juga mengajarinya bagaimana membuat label yang baik sehingga bisa memenuhi syarat untuk masuk ke pasar ritel.

Dirinya berharap, selain akan meningkatkan produksinya, ke depan ia juga akan berusaha untuk meluaskan marketnya. Tidak hanya di Jabodetabek, tapi juga menyasar daerah-daerah lain di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *