Laba Licin Budidaya Belut dengan Pasar Ekspor 40 Ton Sehari

Topreneur.ID – Jangan sepelekan potensi bisnis belut! Pasar ekspor belut masih menganga lebar, dan kebutuhan pasar yang terpenuhi baru di angka 10%. Salah satu pembudidaya belut, Ruslan Roy, menyebutkan jika saat ini ia baru bisa menyuplai permintaan belut 40 ton sehari sementara permintaan pasar baik lokal maupun ekspor terus melonjak. Maka bisnis budidaya belut patut Anda pertimbangkan.

Ruslan Roy boleh dibilang menjadi salah satu pelopor penggiat budidaya belut, khususnya di Jakarta. Ia sudah terjun riset secara otodidak mengenai seluk beluk belut sejak tahun 1987. Ia tertarik dengan dunia perbelutan karena potensinya yang bagus dan juga tetap profitable. Saat ini, ia telah menjadi ‘guru’ bagi ribuan peternak belut di seluruh Tanah Air. “Di Indonesia, saya ada sekitar 20 ribu mitra binaan belut, di mana kami berikan pelatihan ke desa-desa tentang manfaat beternak belut. Potensinya sangat bagus, dan pasarnya masih sangat luas,” ucapnya.

Menurutnya, beternak belut itu sangat simple dan praktis, sehingga bisa dilakukan di lahan sempit sekalipun. Selain itu, penyuka belut di Tanah Air juga terbilang banyak, karena belut memang dikenal mengandung gizi yang tinggi. Saat ini, aneka olahan makanan berbahan dasar belut pun semakin menjamur, mulai dari abon belut, dendeng, balado, keripik serba belut, minyak belut, dan lain-lain.

“Ya, budidaya belut ini bisa dilakukan di lahan sempit. Malah di satu tong pun bisa. Produksi belut kita masih belum bisa memenuhi kebutuhan konsumsi yang dibutuhkan. Padahal, pasarnya sangat luas, dari mulai untuk kebutuhan olahan kuliner sampai untuk pengobatan alternatif. Untuk pengobatan, belut ini bisa dipakai untuk menekan diabetes, vitalitas pria dewasa, menekan menopause, penyubur ASI, dan lainnya,” terang Roy.

Foto: ist

Saat ini, melalui PT Dapetin Global Mandiri yang didirikannya, ia terus bergerak untuk bisa  memenuhi kebutuhan pasar belut secara nasional dan ekspor. Sebagai contoh, permintaan ekspor dari Cina saja sehari bisa mencapai 60 ton. Belum lagi dari Korea dan Taiwan, Kanada, Australia sampai Eropa yang banyak meminta produk olahan belut seperti keripik.

“Kemampuan produksi kita masih sangat terbatas. Kapasitas kita baru bisa banyak kalau musim hujan saja, selebihnya kita masih kekurangan. Belum banyak orang yang tertarik untuk budidaya belut, mungkin karena ketidaktahuan pasar. Padahal pasarnya, seperti saya tadi bilang, masih terbuka lebar,” tandasnya.

Dari segi spesies, dikatakan Roy, belut ini ada tiga jenis: belut sawah (umumnya bentuknya kecil), belut rawa dan belut sungai (ukurannya besar).  Saat ini, produksi per harinya, dari binaan sebulan baru bisa 30 ton, dan dari mitra lain sekitar 200 ton belut sebulan. “Itu pun kalau cuacanya lagi bagus. Padahal target kami, minimal bisa ekspor 600 ton. Ya, kami baru bisa penuhi sekitar 10%-nya.”

Roy pun berbagi tips untuk beternak belut dari rumah. Cukup sediakan lahan beberapa meter atau kalau pun tidak ada cukup di tong, lalu dikasih lumpur dan pakan yang bisa dibuat sendiri, dari mulai cacing, bekicot, keong, dan lainnya. Masa panen belut pun cukup singkat, antara 3 – 5 bulan saja. Soal harga jual, saat ini per kilogramnya bisa mencapai Rp 35 ribu – Rp 45 ribu. “Untuk yang ekspor biasanya yang besar, sekilo isi 10 ekor. Harganya cukup tinggi, manfaatnya besar, dan pakan pun tidak susah, jadi budidaya belut ini sangat bagus dilakukan.”

Memang, diakuinya, pembibitan belut tidak semudah seperti pembibitan ikan. Ada trik khusus yang semi iptek dalam membibitkannya. Tapi jika telaten dan concern, serta ditambah ilmu pengetahuan mumpuni dalam budidaya ini, maka bukan hal sulit untuk bisa menjadi peternak belut sukses. Jika sudah demikian, maka laba licin dari hewan berlendir ini sudah bisa Anda raih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *