18 September 2020

LaBodine Bawa Singkong Naik Kelas

Foto: ist

Bagikan:

topreneur.id – Singkong, makanan tradisional ini sudah semakin dilupakan oleh anak-anak zaman now. Makanan popular tempo dulu ini telah digantikan oleh makanan genre baru, kue-kuean dan kuliner modern lainnya. Tapi jangan khawatir, saat ini singkong siap saji juga sudah ada. LaBodine berhasil mengangkat singkong naik kelas!

Surya Nila Astuti Hamid adalah orang yang terinspirasi untuk membuat aneka olahan singkong. Diakuinya, awal mula dirinya terjun dengan usaha aneka singkong ini, lantara dirinya dana keluarganya sering mengonsumsi singkong di rumahnya. Secara kebetulan dirinya juga hobi membuat inovasi makanan berbahan baku singkong, seperti combro dan kroket singkong.

Di sisi lain dirinya juga melihat peluang di sekitarnya, banyak ibu rumah tangga yang suka singkong tapi tidak ada waktu untuk mengolahnya. Oleh sebab itu, penyajian singkong yang lebih praktis menjadi alternatif pilihan.  “Nah, lalu saya buat singkong yang siap saji dalam bentuk frozen. Praktis, tinggal goreng,” kata Nila.

Usahanya ini sendiri dimulai sejak 2015. Modal awalnya juga tidaklah besar, hanya bermodal uang Rp200 ribu. Modal tersebut ia pakai untuk membeli 10 kg singkong, diolah lalu disimpan di freezer lemari es rumahnya.

Baca Juga: Nasi Gonjleng, Kuliner Khas Asal Banten

“Saya tawarkan via WA, ternyata responnya bagus. Saya buat dalam sajian yang bervariasi, dari olahan yang tradisional banget berupa singkong bumbu sampai olahan yang lebih modern seperti kroket singkong isi ayam, daging, wortel, sosis keju, keju lumer, dan lainnya.”

Dilabeli dengan nama LaBodine, saat ini Nila membuatnya dalam 6 varian olahan singkong, di antaranya singkong bumbu, combro, dan kroket singkong. Sejauh ini yang paling diminati oleh konsumen adalah kroket ayam, combro dan singkong bumbu. “Kroket ini laku untuk konsumen dari kafe dan hotel, sementara untuk rumahan yang laku adalah singkong bumbu dan combro.”

Dengan menyasar pasar rumah tangga, terlebih singkong juga dikenal sebagai makanan yang menyehatkan, LaBodine diproduksi tanpa pengawet dan MSG. “Pelanggan kami ada juga dari kafe dan hotel-hotel. Selebihnya para ibu rumah tangga yang jualan online,” sebutnya.

Dalam sebulan LaBodine mampu memproduksi hingga 1.500 pack dan saat ini produknya tersebar di seantero Jabodetabek. Sementara, diakui Nila, untuk bahan baku dalam sebulan bisa menghabiskan sebanyak 450 kg singkong. “Untuk singkong kami ada supplier, kami terima dalam kondisi sudah dikupas.”

Ke depan, ia akan mengembangkan lagi peluang untuk masuk ke kafe dan hotel. Sebab, di tempat-tempat seperti kafe dan hotel, makanan tradisional seperti singkong ini sangat dirindukan.

“Mereka itu cenderung ingin kembali ke nuansa tradisional. Sebab di hotel dan kafe, umumnya makanan yang tersedia adalah kuliner-kuliner umum, baik dalam maupun luar negeri. Nah, ketika makanan tradisional disajikan di sana, ini akan menimbulkan kenangan tersendiri. Pasar kami memang bukan dari generasi milenial, anak sekarang sudah tidak tahu lagi jenis-jenis makanan tradisional,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *