Situs berita bisnis, UKM, entrepreneurship, inspirasi sukses, dan industri kreatif di Indonesia

Mantap Jiwa! Sagon Bakar ini Tembus Pasar Jerman dan Australia

2 min read

Foto: IST

Read Time2 Minute, 9 Second

TOPRENEUR.ID – Irma Husnul Khotimah, wanita berusia 43 tahun ini merintis bisnis sagon bakarnya dari nol. Dengan modal hanya Rp200 ribu, dengan penuh keyakinan dan sejumlah inovasi, Irma kemudian sukses mengangkat citra sagon sebagai penganan tradisional yang hampir sirna kembali ke pentas nasional.

Cerita dimulai pada 2013 saat dirinya mulai fokus dengan sagon bakar. Diproduksi secara rumahan dengan kemasan sederhana, awalnya Irma hanya menjual sagon bakar buatannya ke saudara dan para tetangganya.

Sekilas tak ada beda dengan sagon pada umumnya. Namun Irma menggarisbawahi pembedanya, “Jika sagon yang dikenal di masa lalu, umumnya pakai bahan kelapa gongseng, kami inovasi dengan kelapa muda sehingga lebih lembut,” sebutnya.

Bisnis sagon bakar Irma pun mulai tercium oleh pemerintah daerah setempat. Akhirnya, Irma mulai dibina dengan mengikuti beragam pelatihan dan sejumlah fasilitas legalitas; dari P-IRT, halal, sampai HKI.

Bahkan, produknya juga dijadikan sebagai oleh-oleh khas Tangerang Selatan. “Pemkot Tangsel menjadikan sagon bakar menjadi salah satu oleh-oleh khas daerah. Sagon yang saya produksi tidak hanya disukai anak-anak, tapi juga para remaja dan orang tua.”

Irma juga berkisah awal mula dirinya memilih bisnis sagon bakar. Pasca ditinggal suami, ia berusaha untuk bisa hidup mandiri. Cara yang ditempuhnya adalah memulai berwirausaha dengan membuat aneka kue kering untuk kebutuhan lebaran.

“Nah, sagon bakar ini menjadi salah satu camilan khas lebaran. Dengan modal minim dan tidak ada karyawan, produksi juga dipastikan tidak bisa banyak. Saya memasarkannya sendiri ke tetangga dan warung-warung,” sebutnya.

Dengan mengikuti beragam pelatihan termasuk packaging, kini sagon bakarnya makin dikenal luas masyarakat. Tak hanya di sekitar Tangsel dan Jakarta, produknya semakin meluas ke berbagai daerah di Tanah Air, termasuk dua Negara lain; Jerman dan Australia.

Sagon Bakar Bu Irma, demikian nama produknya, juga merupakan Binaan Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPUD) LP2M ITI, Serpong.

Dalam hal produksi, Irma juga sudah mampu melipatgandakan jumlahnya. Saat ini produksi hariannya bisa mencapai hingga 100 kaleng atau menghabiskan bahan baku sagu 15 kg. varian produknya juga beragam, dari original, moka, green tea, sampai sugar free.

“Targetnya, saya ingin membuat camilan sehat. Oleh sebab itu, saya buat yang sugar free sehingga aman buat penderita diabetes. Produk lainnya, saya sedang mengembangkan produk lain berbahan tepung singkong, Sultana Kismis. Ukuran sagon bakarnya juga beragam, dari saset kecil-besar, boks kecil-besar sampai curah per 1 kg dengan harga mulai Rp3.000 sampai Rp120 ribu.”

Di dalam negeri, kini produknya bisa ditemukan di beberapa ritel modern, restoran dan kafe, hotel, dan minimarket bandara. Selebihnya, bisa didapatkan pula secara online melalui marketplace.

 “Alhamdulillah, saya merasa jika sagon bakar ini semakin bertumbuh. Ke depan, saya ingin menargetkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Jika ada kesempatan untuk kembangkan ekspor, itu lebih baik lagi,” tukasnya.

0 0

About Post Author

Redaksi

Editor
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *