Mau Bisnis Bengkel? Berikut ini Peluang dan Caranya!  

Foto: ist

Topreneur.ID – Perkembangan pesat industri otomotif nasional berdampak pada kebutuhan bengkel sebagai sarana untuk merawat kendaraan. Pertumbuhan jumlah kendaraan belum diimbangi dengan jumlah bengkel yang memadai, sehingga sering terjadi antrean panjang kendaraan yang membutuhkan perawatan atau perbaikan. Maka, bisnis di bidang perbengkelan saat ini masih cukup menjanjikan untuk ditekuni.

Berdasarkan data BPS, pada 2015 saja jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 121,39 juta unit. Dari angka tersebut yang paling banyak adalah sepeda motor dengan jumlah 98,88 juta unit (81,5 persen). Diikuti mobil penumpang dengan jumlah 13,48 juta unit (11,11 persen), kemudian mobil barang 6,6 juta unit (5,45 persen), serta mobil bis dengan jumlah 2,4 juta unit (1,99 persen) dari total kendaraan.

Terkait masih minimnya jumlah bengkel ini diamini oleh Euis Saedah, Dirjen Industri Kecil dan Menengah Kementrian Perindustrian RI. Menurutnya, saat ini bengkel hanya bisa melayani sekitar 60% dari kebutuhan layanan purnajual kendaraan. Kondisi ini sekaligus menunjukkan jika masih ada peluang bisnis perbengkelan yang cukup besar. “Usaha bengkel sangat prospektif mengingat pertumbuhan industri otomotif dan populasi kendaraan yang terus meningkat, sebab jumlah bengkel masih terbatas,” katanya.

Yayat Ruhiyat, Ketua Umum Asosiasi Bengkel Kendaraan Indonesia (Asbekindo) terkait pertumbuhan industri otomotif ini mengatakan, jika peluang bengkel, khususnya untuk kendaraan roda empat, banyak diantisipasi oleh para Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM) dengan mendirikan bengkel-bengkel resmi. Sementara bengkel-bengkel non ATPM masih terbatas jumlahnya. Di sisi lain, bengkel umum juga banyak menemui kendala terutama yang terkait dengan teknologi terbaru.

“Begitu garansi habis, para pemilik kendaraan mulai membutuhkan bengkel untuk merawat dan memperbaiki kendaraannya. Ini juga diantisipasi oleh ATPM dengan mendirikan bengkel resmi mereka. Sayang, bengkel umum lainnya tidak bisa mengikuti teknologi yang ada, sehingga banyak pemilik kendaraan yang akhirnya lebih memilih bengkel resmi dari pada bengkel umum. Yang maju pesat, lebih banyak bengkel milik ATPM,” kata Yayat.

Menurut Yayat, bisnis bengkel masih berpeluang menjanjikan apabila bengkel tersebut memiliki empat hal berikut. Pertama, ketersediaan man power yang harus bisa di-upgrade skill-nya sesuai dengan teknologi terbaru kendaraan. Kedua, tool, yakni peralatan bengkel yang juga harus disesuaikan dengan zaman. Ketiga, bengkel juga disarankan untuk bisa lebih informatif  dengan melakukan transparansi alur kerja, data konsumen, dan lainnya. Keempat, bengkel harus memiliki akses jaringan ke industri.  “Dalam hal ini, mau tidak mau, bengkel-bengkel umum harus mampu bekerjasama secara baik dengan ATPM,” tandas dia.

Diakuinya, industri bengkel memang sarat persaingan. Namun sejauh ini tensi persaingan masih dalam taraf yang masih wajar, sebab pertumbuhan kendaraan yang cukup tinggi. Agar bisa bersaing dengan sehat, ia menyarankan agar setiap bengkel umum menguasai empat hal yang telah diungkapkannya. Selain itu, secara lokasi, kondisi bengkel juga harus memadai. “Kalau menghadapi persaingan, masing-masing bengkel memiliki strateginya sendiri. Tapi yang harus ditekankan adalah, tempatnya harus memadai dengan pelayanan yang baik. Yang juga harus diingat oleh para pemilik bengkel, jagalah hubungan personal dengan konsumen, karena dengan demikian besar kemungkinan mereka akan menjadi langganan bengkel yang kita kelola,” tukasnya lagi.

Sejauh ini memang ada kendala terbesar yang dihadapi oleh para pemilik bengkel. Kendala tersebut berupa kesadaran para pemilik kendaraan untuk servis yang menurun. “Harus diakui, di Indonesia ini beli mobil/motor sangat mudah, bisa kredit dengan DP kecil. Tapi sebetulnya kemampuan mereka secara ekonomi belum terlalu baik. Karena itulah, kendaraan yang dibelinya jarang diservis. Kalau sudah rusak, mereka lebih memilih untuk menjualnya dan kredit yang baru. Ini yang menjadi masalah,” keluhnya.

“Hal ini diperparah dengan fakta, kendaraan apapun, laik jalan atau tidak, masih bisa beroperasi di jalanan. Sebetulnya kalau aturan semua kendaraan harus laik jalan, dijalankan dengan baik, bisnis bengkel sangat menjanjikan. Yang terjadi, masih banyak kendaraan yang tidak laik jalan, yang harusnya masuk bengkel, masih tetap saja beroperasi di jalanan. Ini juga masalah,” imbuhnya.

Sebagai informasi, bengkel juga sebenarnya memiliki klasifikasi, sesuai dengan aturan Menteri Perindustrian pada tahun 2000. Klasifikasi tersebut berdasarkan sertifikasi yang diberikan oleh Sucofindo. “Kriteria yang dinilai itu berdasarkan man power, sarana, equipment, dan keterbukaan informasi. Dari situ lalu klasifikasinya akan muncul, bengkel tersebut termasuk dalam kategori mana,” jelasnya.

Kebutuhan modal finansial untuk memasuki bisnis bengkel, katanya, memang sangat tergantung pada besar-kecilnya bengkel yang akan dibangun. Bengkel body repair, bengkel yang hanya melayani servis, dan lainnya, tentu besaran modal yang dibutuhkan jumlahnya akan berbeda. Termasuk dalam hal keuntungan yang didapatkan setiap bengkel, itu pun sangat beragam.

“Bengkel ini keuntungannya dari dua hal: jasa dan sparepart. Keuntungan dari jasa itu tidak terlalu besar juga, hanya di kisaran 30% saja. Bagi mereka, harga jasa itu yang penting bisa untuk operasional. Sementara kalau keuntungan darisparepart, itu juga disesuaikan alat apa yang dibeli. Kalausparepart yang fast moving, untungnya kecil. Tapi kalau yang slow moving, agak besar keuntungannya.”

Foto: ist

Asbekindo sendiri saat ini menaungi ratusan bengkel yang tersebar di tujuh provinsi di Indonesia. Yang paling berkembang berada di provinsi Jawa Barat, dimana anggota asosiasinya mencapai 240 bengkel. Sementara di DKI Jakarta sendiri hanya menaungi 145 bengkel, dan di  provinsi lainnya di angka 50-an bengkel.  “Dulu kami berpusat di Jakarta, sekarang Asbekindo berada di Bandung, Jawa Barat. Sebagai asosiasi kami berfungsi sebagai jembatan antara para pemilik bengkel dan pemerintah. Kami juga berkewajiban untuk menyosialisasikan aturan-aturan baru yang diterbitkan pemerintah yang terkait dengan perbengkelan.”

Yayat sendiri saat ini tengah menggagas agar setiap bengkel bisa menjadi green company, yang ramah terhadap lingkungan dan tidak mencemarinya. Gagasan tersebut telah diwujudkan dengan keterlibatannya dalam membina sekira 50 bengkel di Bandung yang bekerjasama dengan Pemerintah Daerah. “Ke depan saya harapkan agar setiap bengkel bisa mengembangkan konsep green company. Ini diawali dengan 50 bengkel yang ada di kawasan Bandung,” demikian Yayat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *