20 September 2020

Mau Bisnis Lele Seperti Kaesang Putra Jokowi? Pelajari Dulu Hal ini

Foto: ist

Bagikan:

TOPRENEUR.ID – Bisnis budidaya lele memiliki prospek yang cukup menjanjikan. Pasar yang besar dengan pelaku usaha yang masih sedikit, membuat bisnis ini layak ditekuni.

Hal ini pula yang menarik Kaesang Pangarep putra Presiden Jokowi terjun ke bisnis lele. Nah, lalu apa saja yang harus dipersiapkan agar bisa sukses di bisnis lele?

Ibnu Subroto dari Asosiasi Pembudidaya Lele Indonesia (Aplesi) menjelaskan, para pelaku usaha di bidang ini memerlukan manajemen usaha yang baik.

Oleh sebab itu, pihaknya berkomitmen untuk mendorong agar manajemen usaha para pembudidaya lele bisa lebih profesional.

Menurutnya, budidaya lele menuntut tata kelola yang baik juga, dimana para pelaku usaha harus melakukan planning, organizing sampai controlling.

Ia merasa bangga karena sebagian pembudidaya sudah ada yang teredukasi untuk membuat tata kelola yang baik. Di beberapa lokasi kolam, misalnya, bahkan ada yang sudah dilengkapi dengan bangunan yang terbuat dari rangka baja.

Harapannya adalah tentu agar bisa memanen lele yang lebih maksimal. “Ya, usaha ini juga perlu direncanakan, pembibitan & pembesaran  bagaimana, dalam pelaksanaannya harus dikontrol, lalu setiap ada transaksi juga harus dicatat. Minimal itu yang bisa dilakukan,” ujarnya.

Ibnu juga mengingatkan hal yang terkait dengan perizinan usaha. Untuk skala kecil, katanya, minimal pembudidaya harus mengantongi izin dari RT/RW setempat. Namun untuk yang skala industri, izinnya berada di Dinas Kelautan & Perikanan (DKP).

“Budidaya lele ini kan terkait dengan perikanan budidaya air tawar, pembinanya ada di DKP. Di setiap kabupaten/kota pasti ada, tugas DKP adalah melakukan pembinaan ke seluruh petani perikanan. Kalau skala usahanya sudah besar dan sesuai standar pemerintah, untuk urusan izin pasti akan mudah,” terangnya.

Ibnu juga tak menampik jika budidaya lele ini memiliki sejumlah persoalan. Tak hanya pakan, masalah lainnya seperti yang berhubungan dengan rendahnya harga jual karena mata rantai penjualan yang panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *