22 September 2020

Melihat Beragam Jenis Herbal di Toga Sekar Utami

Bagikan:

TOPRENEUR.ID – Kecintaannya pada tanaman obat, akhirnya membuat Markus memutuskan untuk membangun perusahaan berbadan hukum di 2014. Jauh sebelumnya, ia adalah pegiat tanaman obat sejak tahun 2012 silam.

Diakuinya, usaha yang dinamai Toga Sekar Utami ini terinspirasi dari banyaknya tanaman obat yang telah dimanfaatkan dan dibuktikan khasiatnya oleh para nenek moyang.

“Saya selama 20 tahun bekerja di Perbankan, dan di waktu itu pula banyak keliling Indonesia. Salah satu kisah menarik, saya bertemu dengan Bapak Winarto, seorang lulusan IPB yang pernah sakit dan sembuh gara-gara mengonsumsi tanaman obat,” katanya.

Dia pun mulai mengumpulkan berbagai jenis tanaman obat dan mengikuti pameran, sehingga semakin banyak orang yang tertarik untuk mengonsumsinya.

“Nah, secara kebetulan istri saya, Prapti Utami, juga seorang dokter. Dia senang dengan herbal, lalu membuat ramuan dari herbal. Istri saya juga banyak menulis buku tentang pengobatan herbal,” ucap Markus.

Ada sekira 40 jenis tanaman yang digunakannya untuk kemudian diekstrak menjadi obat herbal. Tanaman-tanaman tersebut didapatkan dari para petani yang ada di luar kota seperti Lampung, Solo, Yogyakarta, Temanggung, dan lainnya.

Beberapa jenis tanaman yang populer adalah kunir putih, pegagan, dan kelor. “Kunir putih itu berfungsi sebagai antikanker, pegagan berguna untuk revitalisasi sel, sementara kelor memiliki nutrisi yang sangat tinggi sehingga baik dikonsumsi oleh siapapun,” jelasnya.

Diungkapkan Markus, produknya terdiri dari dua macam, berstandar Badan POM dan ada juga yang dikemas dengan standar PIRT. Selain memproduksi sendiri, dirinya juga menerima produk titipan dari para mitranya seperti VCO dan gula aren.

“Total produk yang dijual sudah ratusan jenis. Yang jenis kapsul ada sekira 30 jenis, selebihnya dalam bentuk godokan dan produk lain. Sebaiknya, bagi yang ingin berobat secara herbal, harus cek lab dulu dan kondisi penyakitnya seperti apa.”

Menurutnya, selama ini peminat herbal racikannya berasal dari Jabodetabek dan luar Jawa. Keberhasilannya menyasar konsumen berkat edukasi yang dilakukannya melalui grup chat yang anggotanya dari berbagai daerah di Indonesia.

Satu hal yang harus dipastikan, penggunaan obat herbal juga harus pas secara takaran sehingga hasilnya lebih terukur. Yang juga penting dilakukan adalah mengatur pola makan agar pengobatan yang dilakukan bisa lebih maksimal.   

Terkait harga jual, produknya dibanderol antara Rp35 ribu hingga Rp 45 ribu untuk kemasan kapsul. Dari seluruh produknya, ia mengaku bisa membukukan omzet hingga Rp25 juta sebulan.

“Kami ini masih home industry, bukan perusahaan besar, meskipun secara sistem kami sudah ready. Dr Prapti masih memiliki concern di herbal, dimana ia banyak meresepkan obat herbal untuk para penderita penyakit.”   

Markus menilai jika prospek industri herbal kedepan sangat besar. Ia juga lebih senang berjejaring dengan pegiat herbal di daerah untuk mendapatkan jenis tanaman tertentu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *