27 Oktober 2020

Melirik Bisnis Olahan Tempe Organik Agus Priyanto

FOTO: IST

Bagikan:

TOPRENEUR.ID – Agus Priyanto atau lebih tersohor dengan sebutan Agus Tempe, begitu pria usia 62 tahun ini dipanggil. Sejak tahun 2012 dirinya sudah fokus untuk mengembangkan kacang koro pedang sebagai bahan baku produksi tempe. Menurutnya, kacang jenis lokal ini memiliki kandungan nutrisi yang sama dengan kedelai. “Tempe itu awalnya dari kacang-kacangan. Tidak identik dengan kedelai. Tanaman koro pedang ini bagus dijadikan tempe,” kata dia.

Tempe yang diproduksi Agus pun kemudian dilabeli sebagai produk organik. Kecintaannya terhadap dunia pertanian organik sudah tidak bisa diragukan lagi. Sebelumnya, ia pernah menjadi pendamping para petani di Majalengka, Jawa Barat, untuk mengembangkan berbagai hasil pertanian termasuk kacang koro.

“Kacang koro ini banyak. Agar ada added value, jangan langsung dijual tapi sebaiknya diolah dahulu. Akhirnya saya berpikir untuk menjadikannya tempe, meskipun pada awalnya banyak trial and error. Coba-coba sendiri saja sampai kemudian berhasil menjadikan koro sebagai tempe,” sebut Agus.

Perjalanan hidupnya kemudian menggiringnya masuk pada komunitas organik, sehingga kecintaannya terhadap bidang tersebut semakin kental.  Bahkan, dari komunitas tersebut, ia pun ditawari untuk mengikuti pameran produk serba organik. Tapi Agus tak langsung mengiyakan, sebab ia belum terlalu percaya diri dengan produk tempe yang dibuatnya. “Saya masih ragu, tempe koro ini bakal laku atau tidak. Bisa diterima masyarakat atau tidak. Begitu pikiran saya kala itu. Tapi setelah diyakinkan, akhirnya saya ikut pameran tersebut. Hasilnya, respon masyarakat terhadap tempe ini sangat bagus. Tiap hari selama tiga hari mengikuti pameran, tempe saya selalu habis lebih cepat,” ujarnya.

Bahkan, pasca event tersebut, berbagai order tempe pun terus mengalir. Setelah dua tahun Agus memproduksi tempe berbahan kacang koro, sebagai langkah inovasi, hal ini juga disesuaikan dengan banyaknya permintaan pelanggan, ia pun menambah varian tempe lain dari kacang hijau, kedelai kuning, dan kedelai hitam. Sampai saat ini keempat jenis tempe itu masih diproduksinya.

Berbagi Sehat, No Profit Oriented

Dalam bisnis yang dilakoninya, Agus memiliki konsep mulia, yakni untuk berbagi sehat dengan sesama. Dengan kata lain, ia tidak sekadar mengejar omzet dan profit oriented. Sebagai bukti hal tersebut, diakuinya, selama dua tahun, dirinya tidak pernah menaikkan harga tempe yang dibuatnya. “Saya ingin berbagi sehat, karena tempe ini sebagai super food. Bahkan, di luar negeri tempe lebih mahal daripada daging. Saya awalnya pakai koro, tapi ternyata tidak mudah mengubah kebiasaan dari kedelai ke koro. Perlu edukasi lebih agar tempe koro ini bisa memasyarakat,” terangnya.

Menurutnya, tempe sebagai makanan yang memiliki kandungan prebiotik dan probiotik yang dibutuhkan oleh tubuh. Tempe organik buatannya, rerata dikonsumsi oleh para penderita autoimun, salah satunya penderita lupus. Demikian juga dengan penderita autis. “Mereka butuh makanan organik, dan selama ini tempe tidak ada masalah.”  

Dibranding dengan mana Agus Tempe, produksi tempenya dalam sebulan hanya sekira 200—300 potong. Untuk pembuatan itu ia hanya mengandalkan mesin penggiling kacang dan peralatan sederhana lainnya. Tempe dibuat tradisional. “Sejujurnya, respon pasar sih sangat baik. Saya sering kewalahan tenaga, karena tidak mudah mencari SDM yang baik. Dengan kemampuan yang ada, saya baru bisa produksi sebanyak itu. Pengiriman pun saya lakukan sendiri ke beberapa daerah di Jabotabek,” aku Agus. 

Ada beberapa reseller yang turut memasarkan produk Agus. Mereka adalah toko-toko organik, baik yang berbasis offline maupun online. Dari para reseller itulah, banyak produknya yang menyebar ke daerah lainnya. Adapun harga tempe yang dijualnya, dibanderol dari harga Rp4500 sampai Rp7000. Terkait bahan baku, Agus mengaku tidak ada masalah karena stoknya yang berlimpah.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *