19 September 2020

Mengais Rupiah dari Kaleng Bekas

Foto: ist

Bagikan:

TOPRENEUR.ID – Siapa sangka jika kaleng bekas bisa diberdayakan menjadi produk berkualitas. Ya, kaleng bekas yang biasanya menjadi sampah, di tangan Lani Cahyaningsari, ternyata mampu diubah menjadi kucuran rupiah. Sejak tahun 2000, produk yang dinamai Kaleng Lani ini, sudah merangsek pasar domestik bahkan mancanegara.

Pada tahun 2008, Lani Cahyaningsari memulai usaha ini dari skill-nya di seni lukis. Ketika itu, ia mengawalinya dengan melukis di media dasar kayu. Seiring berjalannya waktu, style lukis Lani bergeser ke dunia anak-anak, karena itulah ia mencoba dengan menggunakan media kaleng bekas. Tak disangka, respon masyarakat begitu bagus. Setiap kali produknya dipajang, selalu habis diborong pembeli.

Lani pun makin mantap untuk menggunakan kaleng sebagai bahan dasar karya lukisnya. Di kaleng, gaya melukisnya terasa lebih artistik dan hidup. “Saya menggunakan media kaleng itu pada tahun 2000. Awalnya, media yang saya pakai adalah kayu dan keramik. Di tahun 2000 itulah, saya menamai karya lukisan saya dengan Kaleng Lani,” ucapnya.

Karena berbahan dasar kaleng bekas, tentu modal yang digunakan pun tak terlalu besar. Lani mengaku, untuk memulai usaha ini ia hanya menggunakan modal uang sebesar Rp 500 ribu. Kini, selain dari kaleng bekas, ia juga memakai kaleng baru untuk produk customize, sesuai pesanan pembeli. Soal bahan baku, sampai saat ini ia tidak pernah kekurangan.

Setelah lebih dari 10 tahun berkarya, saat ini Kaleng Lani makin fenomenal, meski sesungguhnya usaha ini masih bisa dibilang usaha kecil. Buktinya, produk buatannya kini tidak hanya mempercantik setiap interior rumah di dalam negeri saja, sejumlah negara di dunia pun sudah disinggahi Kaleng Lani. Di antara negara-negara yang pernah membeli produk suvenir darinya adalah, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Belanda.

Sementara di dalam negeri sendiri, produknya sudah dipasarkan ke hampir setiap wilayah, dari mulai Jawa, Sumatera, Bali, Sulawesi, dan Kalimantan. Lani mengaku, sampai kini jumlah produknya tidak kurang dari 40 item dengan beragam ukuran dan bentuk. “Kebanyakan sih produk souvenir, seperti tempat tisu, vas bunga, dan lainnya. Kami mengerjakan semua produk ini hand made. Saya sendiri yang membuat seluruh polanya, sedangkan pewarnaan dan packing dibantu karyawan,” tegasnya.

Meski hand made, saat ini dalam sebulan setidaknya ia mampu produksi lebih dari 250 buah. Dan dari setiap produknya itu, ia membaderol harga dari mulai Rp 20 ribu sampai yang termahal di angka Rp 650 ribu. Untuk yang termahal ini, biasanya ukurannya lebih besar dan pengerjaannya yang memakan waktu cukup lama. Menurutnya, kebanyakan pembeli memesan produknya untuk keperluan ulang tahun.        

Lani menambahkan, perkembangan usahanya masih cukup bagus. Mengingat persaingan di bidang ini pun masih sangat terbatas. Karena skill yang langka inilah, ia pun sering diminta untuk memberikan berbagai pelatihan di berbagai kota seputar pemanfaatan sampah dan barang bekas.

“Pesaing masih jarang, bahkan banyak yang meminta pelatihan pada saya. Tapi saat ini workshop kami masih belum memungkinkan. Potensi usaha ini masih bagus, apalagi pemerintah menggalakan program untuk mencegah global warming. Ke depan, selain menjadi pelopor, mudah-mudahan saya tetap menjadi yang terdepan di bidang ini.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *