21 Juni 2021

Mengenal Sigit Tanoko yang Sukses dari Investasi Bitcoin dan Peer to Peer Landing

3 min read

Istimewa

Bagikan:

Mata uang kripto belakangan ini menjadi topik perbincangan karena nilainya yang terus melonjak seiring juga dengan pertumbuhan teknologi dan banyaknya kampanye terkait dengan adopsi massal mata uang ini di masyarakat.

Diketahui, kepopuleran mata uang kripto ini berawal dengan melonjaknya harga Bitcoin (BTC) di tahun 2017 hingga mencapai Rp270.000.000 per BTC. Namun, siapa sangka nilainya turun menjadi sekitar Rp55.000.000 pada tahun berikutnya.

Hari ini, harga bitcoin kembali melejit dan berada di kisaran 906 juta per BTC.

Hal yang menyebabkan Bitcoin turun adalah fluktuasi harga Bitcoin yang masih cukup tinggi, apalagi beberapa tahun silam Bitcoin masih dianggap sebagai aset berisiko tinggi dan belum banyak dipercaya oleh sebagian orang.

Salah satu yang sukses mengelola aset digital Bitcoin ini adalah Sigit Tanoko. Dirinya dikenal sebagai sosok investor Bitcoin yang berhasil mengelola aset digital tersebut hingga berhasil membeli sebuah mobil dari dana tersebut.

Diakuinya, dirinya mengenal Bitcoin sejak tahun 2016 silam lewat sebuah permainan. Dari permainan tersebut ia berhasil mendapatkan 9 BTC dan kemudian menjadi 12 BTC sebelum akhirnya ia jual ketika harga 1 BTC masih berada pada kisaran Rp8.000.000 per BTC.

Lalu, Sigit Tanoko terus memantau harga Bitcoin di pasaran. Kemudian, ia pun melihat pergerakan harga naik yang sangat cepat, yang semula 1 BTC bernilai sekitar Rp8.000.000 naik menjadi Rp15.000.000 dan tidak lama menyentuh nilai Rp35.000.000 per BTC.

Nah, ketika Bitcoin menyentuh harga Rp35.000.000, Sigit Tanoko akhirnya memutuskan untuk membelinya kembali. Ia kemudian mempelajari lebih terkait dengan aset digital ini. Dirinya percaya kenaikan nilai tersebut bukan tanpa alasan, Bitcoin memiliki nilai layaknya emas dengan sifat-sifat dasarnya atau malah melebihi dari nilai emas itu sendiri.

“Dasar sifat inilah dan juga sifat Bitcoin yang terdesentralisasi yang menjadikan saya mulai mencoba mengelola dana pada aset digital ini,” ucapnya.

Menurutnya, dengan menggunakan metode Dollar Cost Averaging, ia mulai menginvestasikan dananya pada Bitcoin. Ia berusaha mengalokasikan dananya dengan jumlah tertentu setiap bulannya untuk membeli Bitcoin. Lalu, ketika Indikator RSI dan Moving Average 200-Weekly menunjukkan nilai yang rendah ia justru membeli dengan jumlah yang banyak.

Dari cara tersebut, Sigit Tanoko berhasil menyiapkan dana sebesar Rp300.000.000 lebih. Namun, Sigit memilih untuk membagi dana tersebut dengan membeli sebuah mobil dan juga menyisihkan dana lain untuk kembali diinvestasikan. “Tentunya, investasi tersebut tidak hanya berpusat pada Bitcoin, tetapi juga pada altcoin lain seperti Ether,” jelas dia.

Selain itu, Sigit Tanoko juga melakukan transaksi peer-to-peer (P2P) agar keuntungan yang didapatkan semakin besar. Dengan melakukan transaksi ini, ia berhasil mengambil keuntungan sebesar 15% darinya. Trik ini dilakukan dengan mengambil jeda harga Bitcoin di luar negeri dan di Indonesia.

Biasanya ia melakukan ini ketika harga Bitcoin di Indonesia terbilang cukup mahal ketimbang luar negeri, dengan platform P2P yang memberikan akses tidak hanya dalam negeri, ia berhasil mendapatkan Bitcoin dengan harga lebih murah ataupun menjual dengan harga lebih mahal di pasaran.

Atas keberhasilannya, pemilik akun YouTube Sigit Tanoko ini juga merilis buku terkait Bitcoin berjudul “Bitcoin 101”.

Menurut Sigit, modal yang dibutuhkan untuk melakukan investasi Bitcoin adalah 10 Bitcoin dan membutuhkan waktu trading bitcoin sekitar 3 sampai 6 bulan lamanya untuk dapat membeli mobil Wuling Almaz miliknya. Sigit melakukan withdraw untuk mencairkan Bitcoin menjadi rupiah, melalui platform exchange lokal.

Dari kiat-kiat dan tips yang diberikan oleh Sigit, dia menjelaskan bahwa sebelum berinvestasi atau melakukan trading Bitcoin, trader harus paham betul apa itu Bitcoin. “Maraknya penipuan Bitcoin dikarenakan banyak orang belum mengerti betul apa itu Bitcoin dan asal membeli Bitcoin di beberapa exchange yang kurang terpercaya. Selain itu, bagi para pemula banyak kesalahpahaman, mereka kira harus membeli 1 bitcoin, padahal bisa mulai dari 20 ribu rupiah,” jelasnya lagi.

Sigit menjelaskan, ketika sedang melakukan trading, trader harus sabar dan sesuai dengan rencana trading yang sudah ditetapkan. “Harga Bitcoin atau mata uang crypto lainnya memang fluktuatif yang membuat para trader harus sabar dalam rentang waktu yang tak menentu ketika hendak menjual kembali Bitcoin dengan harga tinggi,” pungkas pria yang juga membuka kelas edukasi pengenalan cryptocurrency di marketplace webinar ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *