25 November 2020

Mengintip Peluang Bisnis Kopi Daring Bagi UMKM, Seperti Apa?

Ilustrasi. Sumber: https://bit.ly/2lYPtcU

Bagikan:

Keberadaan dagang-el di Indonesia membuka banyak peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk turut memasarkan produknya secara daring dengan ragam produk yang memberikan kepuasan bagi pembeli. Salah satunya ialah produk-produk kopi yang juga bisa dijadikan peluang usaha bagi pelaku UMKM karena penjualannya yang potensial.

Telunjuk.com melalui Compas.co.id merangkum data penjualan kopi bermerek dan non-merek yang terjual di tiga e-Commerce raksasa Indonesia (Shopee, Bukalapak, Tokopedia) dan mencatatkan penjualan kopi Kapal Api menjadi kopi bermerek dan Kopi Hitam Tanpa Merek menjadi kopi non-merek terlaris di dagang-el. 

Banyaknya kopi bermerek lainnya memberikan pilihan bagi pembeli tergantung dari preferensi  rasa para penikmatnya. Kopi merek Kapal Api mendominasi penjualan kopi bermerek di pasar daring dengan produk-produk unggulannya, antara lain Kapal Api Spesial Mix, Kapal Api Mantap, dan Kapal Api Signature: Original Black Coffee. Kopi Kapal Api sendiri berhasil mencatatkan 59.889 transaksi. Menariknya, dari total transaksi tersebut, 99,14% berasal dari non-official store di dagang-el, sehingga hal tersebut menunjukkan bahwa kopi bermerek lebih laris dibeli dari penjual yang skala usahanya lebih kecil. Menyusul kopi Kapal Api, kopi merek ABC dan Nescafe juga mencatatkan penjualan yang tinggi dengan 13.850 transaksi (ABC) dan 12.263 transaksi (Nescafe) dengan penjualannya yang juga terjual tinggi dari non-official store. 

Pada kategori kopi non-merek, Kopi Hitam Tanpa Merek menjadi yang favorit dicari dengan 3.729 transaksi disusul oleh kopi legenda Kopi Liong yang berhasil mencatatkan 1.856 transaksi. Kopi Hitam Tanpa Merek terdiri dari berbagai jenis kopi, diantaranya ialah Kopi Hitam Cap Kupu-Kupu. Berdasarkan lokasi penjualnya, Kopi Hitam Tanpa Merek didominasi oleh penjual di Pulau Jawa meskipun penjualannya di e-Commerce juga tersebar di seluruh Indonesia dan penjual Kopi Liong hanya berada di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Tentu hal ini juga membuka peluang bagi pelaku usaha di luar daerah tersebut untuk mengambil kesempatan karena disusul oleh larisnya produk-produk tersebut di pasar daring. Meski dua nama tersebut menunjang transaksi tertinggi, Kopi Aceh Gayo juga tetap laris diburu pembeli dengan menghasilkan setidaknya 1.000 transaksi hanya dalam tiga bulan. 

“Berdasarkan data yang telah kami himpun, penjualan kopi masih didominasi oleh kopi bermerek meski banyak jenis kopi Nusantara yang kini beredar di pasaran secara online. Hal itu sebetulnya juga bisa menjadi peluang bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk bisa menjajaki penjualan kopi bermerek agar mendapatkan keuntungan, atau justru mengambil celah usaha dengan menjual kopi nusantara karena masih terbatasnya jumlah seller yang bergerak untuk menjual produk tersebut,” jelas Philip Olivari selaku Head of Customer Acquisition & Engagement Telunjuk.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *