Motivator Muda ini Alami Jatuh Bangun dalam Berbisnis

Topreneur.ID – Edvan Muhammad Kautsar, pria asal Tasikmalaya, Jawa Barat ini merupakan seorang motivator muda yang cukup berpengalaman dalam dunia bisnis dan public speaking. Diakuinya, perjalanan bisnisnya telah dimulai ketika dirinya masih berusia 14 tahun. Saat itu Edvan mulai bisnis dengan menjual baju bola dan sandal. Tak cukup sukses, akhirnya ia mencoba peruntungan lain di bisnis MLM. Sampai usianya menginjak 16 tahun, Edvan mampu ekspansi ke bisnis lain di industri jual-beli lahan batubara di Kalimantan Barat.

Gairah bisnisnya makin membara ketika dirinya mendirikan rumah produksi. Edvan didapuk sebagai produser, tapi kemudian bisnis tersebut berakhir gagal. Tak kapok, ia kemudian merintis beberapa bisnis di bidang jasa, antara lain lembaga konsultasi dan rumah bidan. “Tapi bisnis ini pun tidak berhasil, akhirnya saya tutup. Sampai di usia saya ke 20, saya bergerak ke bisnis kuliner dengan mendirikan Kautsar Dimsum,” katanya. Bisnis ini berkembang bagus hingga Edvan bisa membuka 18 outlet di Jabodetabek dan Tasikmalaya.

Seiring dengan bisnis yang dilakoninya, ia pun terus mengembangkan kemampuannya dalam seni berbicara. Bahkan, ia akhirnya memahami jika public speaking adalah bidang yang paling disukainya. Oleh sebab itu, ia memilih fokus dan mendirikan lembaga training Kautsar Management. Melalui lembaga ini, ia juga menjaring pembicara lain dengan spesialisasi yang berbeda-beda. Tak kurang dari 12 pembicara dengan spesialisasi di bidang spiritual, sell, internet marketing, jurnalistik sampai pendongeng, yang saat ini bernaung di lembaganya.

Foto: ist

Menurutnya, dunia motivasi masih memiliki peluang bisnis yang masih besar. Sebabnya, jumlah penduduk Indonesia sangat banyak dan orang yang membutuhkan motivasi juga banyak. “Misalnya, orang bekerja tapi bekerjanya tidak bahagia atau orang berjualan tapi tidak bisa mencapai target, mereka kan harus dimotivasi. Jadi, peluangnya masih sangat besar,” ujarnya.

Besarnya pasar training ini dirasakan sendiri oleh Edvan. Setiap bulan hampir setiap harinya terisi untuk memberikan berbagai pelatihan dan seminar di berbagai daerah. Diakuinya, satu kali seminar peserta yang terlibat mencapai 1.000—5.000 orang. “Seminar itu kan menggiring orang dari yang tidak tahu menjadi tahu, pesertanya ribuan orang per sekali seminar. Lain halnya dengan pelatihan, maksimal pesertanya 300 orang. Pelatihan harus efektif, karena melatih orang dari yang semula tidak bisa menjadi bisa.”

Selama kiprahnya sebagai motivator muda, ia telah mengisi pelatihan antara 300—400 kali. Ia juga bangga karena berbagai feed back positif diterimanya dari para peserta yang telah mengikuti sesinya. “Yang membahagiakan itu kalau mereka kasih feed back yang baik. Mereka lebih termotivasi dan lebih bahagia hidupnya setelah ikut pelatihan saya,” sebutnya.

Sebagai seorang pengusaha, bisnis yang dilakoni Edvan pun sangat gemilang. Meski sebelumnya dirinya mengalami 9 kali gagal bisnis, namun ia berhasil bangkit dari keterpurukannya. Kautsar Dimsum, misalnya, di tahun pertama saja mampu membukukan omzet hingga Rp1 miliar. “Dimsum ini dulu konsepnya resto tapi kemudian berakhir tutup. Lalu saya buka dengan konsep baru, fokus produksi dan dijual butiran. Saya distribusikan ke hotel, restoran, dan sejumlah mitra yang telah bekerjasama. Alhamdulillah cara ini mampu bertahan sampai sekarang,” ujar lulusan UIN Jakarta ini.

Di bawah payung Kautsar Group, Edvan juga mengelola sejumlah usaha lain yang tidak terbranding di bidang properti dan perkebunan di kawasan Bogor, Jawa Barat. Ia juga merupakan seorang penulis produktif yang telah menulis beberapa buku, antara lain Dreams Come True, Be A Passionpreneur, dan Bahagia Bekerja – Bekerja Bahagia.

Foto: ist

Dengan banyaknya kegagalan yang dialaminya, ia mendapatkan pelajaran berharga. Bisnis itu harus fokus pada bidang yang disukai. “Ya, kita harus bisnis sesuatu yang kita sukai. Sebab, meskipun gagal, kita tidak akan mudah menyerah. Beda halnya kalau bidang bisnisnya kurang disukai, sekali gagal, pasti nyerah. Dulu saya buka rumah bidan, bukan minat saya. Nah, ketika terjadi masalah, langsung bubar. Sekarang saya lebih fokus ke bidang public speaking. Kalaupun buka bisnis di bidang lain, kita tidak perlu terlibat langsung. Caranya bisa kerjasama, bermitra atau cukup menjadi investor.”

Terkait kesuksesan yang kini digenggamnya, Edvan sejak awal memang memiliki komitmen yang kuat untuk meraih sukses lebih awal. Ia bertekad untuk bisa sukses sebelum tamat kuliah. Hal itu pun mampu dibuktikannya. “Saya kerjakan semua bersamaan; kuliah, bisnis dan buka kelas training. Sampaia kemudian lembaga kami sering dipakai oleh beberapa travel umroh,” tukas dia. Berkat menjadi pembicara, ia pun bisa berkeliling Indonesia, Negara-negara di ASEAN, Dubai (Uni Emirat Arab), dan Arab Saudi.

Bagi para pengusaha pemula, Edvan memberikan kiat suksesnya. Yang jelas, pastikan bisnis yang dijalani sesuai dengan passion yang dimiliki. Lalu, jadikan bisnis yang dibangun sebagai solusi dari permasalahan yang ada. “Lembaga training yang saya bangun, misalnya, ini adalah solusi bagi perusahaan yang ingin bertumbuh,” tegasnya.

“Menjadi pengusaha itu, yang terpenting itu bukanlah modal. Modal itu posisinya paling terakhir setelah kita menemukan ide bisnis, produk, dan memahami apa yang akan dibangun. Masalahnya, banyak orang yang mencari modal dulu, baru ide usaha dicari kemudian. Yang terjadi akhirnya bisnisnya gagal. Padahal, dengan kita menemukan ide bisnis lebih dulu, maka modal bisa dicari dengan lebih mudah; cari investor, bermitra, atau ke perbankan. Intinya, modal akan datang ketika ide usaha sudah matang,” jelas Edvan.

Ke depan, ayah satu anak ini bermimpi untuk semakin mengembangkan bisnisnya di bidang properti. Bahkan, ia bermimpi untuk membangun kota swasta seperti yang telah dilakukan oleh para pengembang besar di Tanah Air.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *