Pomade, Cara Jitu Memikat Wanita

Topreneur.ID – Di usianya yang masih muda, ia telah sukses menjadi seorang pebisnis yang cukup tangguh. Dengan pangsa pasar yang cukup besar, bisnis pomade-nya yang dirintis sejak 2013 ini terus menjalar ke seluruh Tanah Air. Untuk memenuhi permintaan pasar, kini sebulan ia produksi hingga 700 kaleng dengan harga di atas Rp 100 ribu per kaleng. Tak ayal jika omzet yang dalam sebulan bisa mencapai Rp 60 juta.

Namanya Pringgondani, pria yang baru berusia 28 tahun ini sejak kecil memang sudah gemar berbisnis. Beberapa bisnis di masa kuliah pernah dilakukannya tapi selalu berakhir gagal. Kini dengan kecintaannya pada pomade (minyak rambut –red), ia meretas jalan baru dengan mencoba untuk produksi sendiri. Terkait hal ini ia mengaku, “Sebelumnya, saya ini memang penggemar pomade juga. Karena menggemari, akhirnya saya coba pasarkan pomade dari luar negeri. Responnya cukup baik juga. Saya pikir ini bisa menjadi bidang bisnis yang cukup bagus,” sebutnya.

Tapi, Igo, begitu ia akrab disapa, tak ingin terus-terusan menjual produk luar negeri. Ia tertantang untuk bisa membuat produk sendiri, hingga akhirnya terwujud pada pertengahan tahun 2013. Tapi untuk membuat produk sendiri juga tentu tak mudah. Igo harus berkali-kali melakukan percobaan yang tak jarang berakhir gagal. “Saya lakukan trial and error. Tapi saya tak menyerah, saya lihat formulanya di ingredients yang tertulis di pomade luar negeri. Dan pada akhirnya saya bisa mendapatkan formula yang cocok,” katanya.

Untuk percobaannya itu, diakui Igo, awalnya ia hanya menggunakan modal sekitar Rp 1 juta. Dari jumlah uang tersebut, ia mampu produksi pomade antara 30-40 kaleng. Dengan merek Mr Prabs, minyak rambut besutannya itu lalu ia pasarkan melalui online. Karena termasuk pomade lokal pertama di Indonesia, respon pasar atas kehadiran Mr Prabs cukup bagus. Hanya dalam waktu 5 hari, pomade buatannya habis diserbu para penggemarnya. “Ya, ini adalah salah satu produk lokal pertama. Dengan harga cukup murah saat itu, hanya Rp 75 ribu per kaleng, respon para penikmat pomade atas kehadiran Mr Prabs sangat antusias. Setelah habis, lalu saya produksi lagi dan lagi.”

Pada Januari 2014, Mr Prabs pun diproduksi massal. Pelan tapi pasti, berbagai orderan pun terus berdatangan hingga membuat dirinya merasa kewalahan dalam pelayanan. Saat ini Igo telah memproduksi pomade-nya sebanyak 5 varian seperti sexy heavy, sexy shine, sexy hold, water grease medium dan super dengan kapasitas produksi hingga mencapai 700 kaleng sebulan. Untuk produksinya sendiri dilakukan di Bandung, karena lebih dekat dengan supplier bahan bakunya. Igo bercerita, dari 700 kaleng yang diproduksi, yang diserap pasar bisa sampai 500 kaleng atau sampai sold out semua. “Kami produksi di Bandung karena lebih dekat dengan bahan baku. Di bagian produksi ini kami mempekerjakan 4 karyawan saja,” ucapnya.

Sedangkan untuk pemasarannya, Igo menggunakan sistem online dan tim reseller di 30 kota di Indonesia. Menurutnya, sampai saat ini ia telah menggandeng 40 reseller yang dinamainya dengan DHM teamworks untuk menjualkan produk Mr Prabs yang tersebar di seluruh wilayah dari Aceh sampai Papua. “Salah satu penentu kesuksesan kita karena dibantu oleh tim reseller yang cukup solid. Meskipun pada kenyataannya, dari 40 reseller tersebut, yang aktif mungkin hanya separuhnya saja. Biasanya mereka order dalam 2-3 minggu dengan jumlah order dari puluhan sampai 200 kaleng. Saat ini pasar terbesar kami ada di Pekanbaru,” tuturnya.

Foto: internet/ist

Salah satu strategi yang dibangun untuk mengembangkan produk pomade-nya adalah dengan membentuk brand image rasa percaya diri tinggi untuk menghadapi kehidupan. Igo selalu menekankan pentingnya mimpi, dan berjuang untuk meraih kemenangan. Dan cara tersebut terbukti ampuh menyedot para konsumen untuk menjadi pelanggan Mr Prabs.


Dengan bahan baku yang terus menanjak, kini di pasaran Mr Prabs pun dijual dengan harga antara Rp 105 ribu – Rp 125 ribu per kalengnya.“Sekarang semua barang-barang naik, termasuk harga bahan baku untuk pembuatan pomade. Untuk bahan baku kami memang pakai yang berkualitas. Karena itulah, saat ini produk kami di pasaran harganya sudah di atas Rp 100 ribu. Tapi harga tersebut sepadan dengan kualitas yang diberikan.”

Terkait keunggulan produknya, Igo mengaku bisa dilihat dari beberapa sisi, dari mulai desain produk, wangi, sampai warna. Menurutnya, pomade ini identik dengan orang-orang ‘rebel’. Untuk itulah produknya digambar dengan karakter tengkorak dengan gaya rambut rockabilly dan undercut. Dari sisi aroma juga terbilang tidak neko-neko, “Wanginya segar dan disukai masyarakat Indonesia terutama oleh para wanita. Karena itulah kami memiliki tagline ‘Penakluk Biduan’, karena memang aromanya disukai para wanita.”

Namun dirinya tak menampik jika saat ini persaingan di bisnis ini terbilang ketat. Seiring waktu, saat ini pun telah bermunculan produk-produk lokal lain yang mencari peruntungan di bisnis minyak rambut. Tapi ia mengaku tak khawatir, karena pada akhirnya konsumen sendirilah yang akan menilai dan memilih dari setiap produk yang beredar di pasaran. Selain itu, sejak awal memang ia telah membidik pasar komunitas yang saat ini telah menjadi bagian dari pelanggannya. “Dengan komunitas yang ada dan produk yang berkualitas, meski persaingan makin ke sini makin kencang, saya sih tidak masalah,” tukasnya.

Ia juga meyakini, jika di masa depan bisnis ini akan tetap bertahan. Karena sebetulnya komunitas penikmat dan pemakai pomade ini masih banyak, dan pomade adalah produk yang sudah ada sejak 1800-an lalu. “Saya kira bisnis ini tidak bakal mati. Karena para penggemarnya masih banyak yang setia dan terus bertumbuhan. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di luar negeri. Karena saya sendiri sebetulnya banyak permintaan dari luar negeri, tapi saya belum bisa kirim karena masih belum mengerti cara kirim dan aturan terkait lainnya.”

Saat ini dengan kapasitas produksi antara 500-700 kaleng sebulan, dari sisi omzet yang dihasilkan pun cukup lumayan. Ia mengaku, dalam sebulan omzet dari penjualan pomade antara Rp 35 juta – Rp 60 juta. Untuk meningkatkannya lagi, ke depan ia berencana untuk bisa mengoptimalkan para reseller-nya yang ada di daerah. Ia berkeinginan untuk bisa menambah jumlah para reseller-nya dari jumlah yang ada saat ini, agar penjualan semakin maksimal.

Selain menyolidkan lagi para reseller-nya, Igo juga berencana untuk melakukan pengembangan usaha dengan cara membuka barbershop dengan nama Mr Prabs. “Saya ingin nantinya selain menjual pomade, dengan buka barbershop, saya juga bisa menjual produk barber lainnya. Saya kira potensinya masih besar dan potensial untuk dijalankan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *