Situs berita bisnis, UKM, entrepreneurship, inspirasi sukses, dan industri kreatif di Indonesia

Randiawan Saputra, Juragan Lilin dengan Pasar Ekspor

4 min read

Foto: Ist

Read Time3 Minute, 48 Second

TOPRENEUR.ID – Randiawan Saputra, menghabiskan masa pendidikannya di ibu kota Jakarta. Di saat ia tengah menjalani kuliah di UPI YAI, pada 2008 orang tuanya hijrah ke kota Bandung. Ketika itu, ayahnya adalah seorang distributor beberapa produk seperti kosmetik dan lilin. Sementara Randi, begitu ia disapa, lebih memilih untuk tetap tinggal di Jakarta.

Setahun kemudian, Randi pun dipanggil orang tua untuk tinggal bersama di Bandung dan membesarkan bisnis yang dirintisnya. Randi tak menolak, ia pun pergi ke Bandung. Mahasiswa jurusan desain grafis itu, akhirnya menjajal bisnis untuk memasarkan produk kosmetik. “Sebelumnya, selain kuliah saya juga pernah nyambi menjadi marketing freelance kaos distro dan percetakan. Akhirnya, saya dapat kesempatan untuk menjadi distributor kosmetik,” sebutnya.

Tidak lama kemudian, ia juga masuk menjadi distributor lilin di kawasan Jawa Barat. Produk lilinnya ia ambil dari produsen di Surabaya, Jawa Timur. Meski awalnya ia sempat ragu untuk berbisnis lilin, toh respon pasar sangat luar biasa. Bahkan, ketika ia memutuskan hubungan dengan distributor lilin di Surabaya, permintaan lilin tak pernah surut.

“Semula saya ingin concern ke kosmetik saja. Tapi ternyata orang lebih mengenal saya sebagai distributor lilin. Permintaan pun banyak. Ya sudah, saya coba saja membuat lilin sendiri secara otodidak. Saya belum bisa beli mesinnya, karena harganya mahal sekitar Rp 60-70 juta per unit. Akhirnya, saya pelajari mekanisme kerja mesin tersebut dan mencoba untuk membuat mesin sendiri,” katanya.

Namun, setelah mesin pembuat lilin itu berhasil ia rakit, nyatanya pasar tak selalu berjalan mulus. Beberapa bulan berjalan, pemasaran lilinnya sepi. Tapi Randi tak patah semangat. Ia berpikir keras untuk membuat sebuah terobosan baru, dan terpikirlah untuk membuat lilin dekoratif untuk kebutuhan peribadatan, interior, dan lainnya. Selain itu, system pemasarannya yang semula konvensional ia ubah dengan menggunakan internet marketing. Hasilnya mengejutkan, karena pasar merespons positif.

“Ya, di saat kondisi bisnis sedang tidak baik itu, saya menjadi berpikir untuk membuat lilin dekoratif. Jadi, lilin tidak hanya bisa dipakai saat mati lampu, tapi di saat tidak mati lampu pun, lilin masih bisa dipergunakan. Pemasarannya juga saya pakai internet, dengan membuat website dan blog.”

Trik tersebut ternyata cukup ampuh dalam menjaring konsumen.  Dalam waktu yang relatif singkat, bisnis yang dilakoninya kian berkembang. Dengan modal awal sekitar Rp 15 juta, kini Randi telah memiliki sekitar 30 unit mesin pembuat aneka lilin.

180 Ribu Batang Lilin Sehari

Banyaknya permintaan lilin dari berbagai daerah, membuat bisnis CV Anugrah Jaya Indonesia ini semakin menggurita. Karena pesanan yang terus membludak itu, tak aneh jika jumlah produksi lilin pun terus melambung. Diakui Randi, saat ini dalam sehari paling tidak bisa memproduksi lilin hingga 180 ribu batang. Jumlah tersebut bisa didapatkan dalam waktu kerja mulai pukul 04.00 WIB sampai 24.00 WIB. “Kalau dalam jumlah karton, sekitar 12 ribu-an,” kilahnya.

Jumlah itu baru produksi lilin mati lampu. Belum ditambah dengan produksi lilin dekoratif, yang juga menjadi idola para konsumennya. Untuk lilin jenis ini, ia buat secara customize atau sesuai pesanan. Artinya, ia hanya memproduksinya ketika ada pesanan datang. Namun hebatnya, lilin dekoratif ini sudah bisa menembus pasar manca negara, seperti Afrika, Perancis, dan Jepang.

Dikatakannya, biasanya para importir lilin dari negara tersebut, menggunakan lilin asal Bandung ini untuk kegiatan peribadatan dan interior. Mereka pesan lilin dalam jangka waktu 3-4 bulan sekali. Di dalam negeri, lilin dekoratif berfungsi untuk dekorasi hotel atau apartemen. “Secara bisnis, lilin dekoratif ini menguntungkan karena pemainnya masih terbilang sedikit. Berbeda halnya dengan jenis lilin mati lampu, yang memang pesaingnya cukup banyak. Jadi, ketika penjualan lilin mati lampu turun, saya bisa dibantu dengan lilin dekoratif,” akunya.

Pria berusia 27 tahun ini menyadari, jika persaingan di bisnis ini cukup sengit. Karena itulah, ia selalu memberikan inovasi pada bisnisnya. Di Indonesia, lilin yang dilabeli nama ‘Dua Beruang’ ini sudah menyasar seluruh pulau, dari mulai Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan lainnya. Tak aneh jika omzet yang didapatkan pun sepadan dengan jumlah produksinya. Randi mengaku, saat ini omzetnya sudah di atas Rp 1 miliar.     

Di bisnis lilin, boleh dibilang Randi sudah menguasai pasar di Indonesia. Meski begitu, bukan berarti di bisnis ini lepas dari tantangan dan hambatan. Jauh sebelum kesuksesan ini diraihnya, di awal-awal merintis usaha, ia sering mengalami kerugian karena penipuan beberapa pelanggannya. “Benar, saya pernah alami itu. Barangnya dikirim, tapi uangnya tidak ada. Saya rugi!”

Duka lain di bisnis ini adalah ketika memasuki musim kemarau. Biasanya, di musim ini omzet penjualan menurun drastis hingga 30 persen. Di musim penghujan pun, omzetnya tidak seketika membaik. “Material bahan baku lilin itu pakai kelapa sawit. Nah, kalau hujan terus perkebunan sawit juga kurang bagus. Apalagi, kabarnya konsumsi sawit itu lebih banyak diserap oleh luar negeri. Karena itulah, harga sawit ditentukan oleh kurs dollar. Sekarang dollar naik, otomatis harga sawit jadi selangit. Saya juga terkadang kesulitan dengan bahan baku,” kisahnya.

0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *