Situs berita bisnis, UKM, entrepreneurship, inspirasi sukses, dan industri kreatif di Indonesia

Riyadin, Sukses dengan Bisnis Sari Kedelai

3 min read

Foto: IST

Read Time3 Minutes, 34 Seconds

TOPRENEUR.ID – Sejak usia belia, ia memang tipikal orang yang pantang menyerah. Lulus dari SMK pada 1998, ia langsung mencari penghasilan sendiri dengan membuka usaha sablon yang dirintis bersama 3 temannya. 10 tahun kemudian, tepatnya pada 2008, ia mengembangkan bisnisnya dengan merintis bisnis susu kedelai.

Riyadin namanya. Pria sederhana kelahiran Jawa Tengah ini, sejak usia SMP memang sudah bertekad ingin membuka usaha. Kala itu ia berkeinginan untuk tidak bekerja di perusahaan orang lain. Tekad itu terwujud, pasalnya pada 1998 pasca ia lulus dari SMK, krisis moneter melanda Indonesia. PHK besar-besaran terjadi di berbagai perusahaan. “Saat itu, yang terjadi bukan perekrutan karyawan, tapi PHK besar-besaran, sehingga sangat sulit untuk mencari kerja. Ya sudah, momennya seperti pas dengan tekad saya,” ucapnya.

Di masa SMA, Riyadin memang sudah kreatif. Ketika itu ia menjajal keterampilan di bidang sablon, seperti membuat kartu nama dan stiker. Maka ketika ia tamat dari SMK dan susah mencari kerja, ia hanya dihadapkan pada satu pilihan utama: menjadi tukang sablon! Ya, tukang sablon, karena itu adalah bidang usaha satu-satunya yang dimengertinya kala itu. “Saya patungan 3 orang untuk membuat usaha sablon. Usaha ini dirintis dari nol, sejalan-jalannya saja,” ungkapnya.

Dalam perjalanannya, dua temannya itu memilih untuk membuka bisnis sendiri-sendiri. Riyadin menakhodai bisnis percetakan ini seorang diri. Ia mengaku, dengan tanpa pengalaman, tanpa modal, tanpa ilmu, dan tanpa network, bisnisnya itu sangat sulit untuk berkembang. “Koneksi saya kurang bagus, jadi cari order susah. Untuk menembus ke instansi-instansi, saya tidak kenal siapa-siapa. Ya akhirnya saya hanya kerjakan orderan kartu nama dari guru-guru dan teman-teman yang kenal saja,” tuturnya.

Namun hebatnya, Riyadin mampu mempertahankan bisnis sablonnya hingga saat ini, ketika ia sudah bertemu dengan bisnis lain yang lebih menjanjikan. Ya, pada 2008 ia mulai merintis bisnis lain di bidang susu kedelai yang diawalinya dari rumah. Latar belakangnya membuka bisnis ini pun sangat logis, “Orderan cetak itu tidak setiap hari ada, kadang seminggu sekali, bahkan sebulan sekali. Sementara kehidupan saya setiap hari terus berjalan. Bisnis percetakan ini tidak bisa dijadikan untuk harian. Karena itulah saya berpikir untuk membangun usaha susu kedelai, yang saya piker bisa untuk harian,” jelasnya.

Dengan modal sekitar Rp 6 juta, ia belanja peralatan dan bahan baku untuk membuat susu kedelai dari pasar Jatinegara. Malamnya, ia langsung produksi dengan hanya menggunakan blender. Sebanyak 250 cup susu kedelai pun berhasil ia buat dan langsung di pasarkan. Tak disangka, respon pasar bagus. Hanya dalam waktu singkat, susu kedelainya habis terjual.

Semangatnya kian membuncah, dari awal sehari ia hanya menghabiskan bahan baku kedelai sekitar 2,5 kg, perlahan menjadi semakin bertambah. Dan untuk kedelai, ia konsisten menggunakan kedelai impor dari Amerika, karena stok kedelai lokal masih sangat terbatas ketersediaannya. “Masyarakat ternyata langsung menerima produk saya. Dari awal produksi hanya 250 cup, pada tahun 2010 sudah berhasil ribuan cup setiap harinya. Buat saya, ini luar biasa sekali. Lompatannya cukup cepat,” ia bersyukur.

Kini, di bawah bendera CV Puspita, saban hari ia bisa menghabiskan beberapa kuintal kedelai untuk diproduksi menjadi susu kedelai. Riyadin memasarkan produknya dengan nama Sale (Sari Kedelai –red) dengan harga Rp 1.000 per cup. “Saya menggunakan jasa sales. Mereka menitipkannya ke warung-warung yang ada di kawasan Bekasi dan Jakarta. Dari saya jual Rp 600, mereka titip ke warung Rp 800 per cup, dan warung menjualnya ke konsumen Rp 1.000 per cup.”

Meski tidak ada angka yang pasti, tapi ia memperkirakan jika jumlah warung yang menjual produknya sudah ratusan atau ribuan warung yang tersebar di seantero Bekasi, dan Jakarta. Untuk bagian produksi, saat ini ia dibantu oleh 19 karyawan dan semua produk diproduksi full otomatis. “Kalau manual sudah berat ya. Dulu saat masih manual, saya pernah sampai 4.000 cup sehari, tapi itu kerjanya luar biasa berat. Sekarang sudah otomatis semua. Tapi saya konsisten untuk tidak menggunakan bahan pengawet, dan semua bahan baku semua asli,” ulasnya. Karena itulah, produknya tak bisa terlalu lama bertahan kalau tidak ditempatkan di mesin pendingin. “Kalau kena matahari langsung, 3 jam sudah rusak. Tapi kalau masuk ke kulkas, bisa tahan seminggu,” imbuhnya.

Ke depan, ia menargetkan untuk bisa upgrade teknologi agar daya tahan bisa lebih lama, meski pun tanpa pengawet. Ia juga menargetkan untuk bisa menguasai beberapa wilayah baru. Sementara ini, dengan penguasaan pasar di Bekasi dan sebagian Jakarta, ia sudah bisa menjual hingga puluhan ribu cup susu kedelai setiap hari. Tak aneh, meski hanya dijual Rp 1.000 per cup, bisnis yang dijalani Riyadin mampu mendatangkan omzet hingga ratusan juta setiap bulannya. “Saya masih fokus untuk mengembangkan bisnis ini agar menjadi lebih besar lagi.”

0 0

About Post Author

Redaksi

Editor
0 %
Happy
0 %
Sad
0 %
Excited
0 %
Angry
0 %
Surprise

1 thought on “Riyadin, Sukses dengan Bisnis Sari Kedelai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *