19 September 2020

Saat di Purwakarta, Jangan Lewatkan Kulineran Sate Maranggi

Foto: ist

Bagikan:

Topreneur.id – Siapa yang tidak tahu sate maranggi? Sate maranggi merupakan salah satu ikon kuliner khas Purwakarta. Karena ketenarannya, eksistensi sate ini terus menyebar ke berbagai wilayah di Tanah Air. Sate ini tidak hanya dijumpai di sekitar Purwakarta, tapi juga telah menjelajah ke berbagai kota besar seperti Jakarta.

Di Purwakarta, sebenarnya kuliner khasnya bukan hanya sate. Ada pula Soto Sadang yang cukup dikenal. Lalu, untuk kategori oleh-oleh, ada makanan khas bernama simping, makanan berbentuk pipih, bundar tipis berwarna putih dengan rasa gurih yang terbuat dari tepung beras. Selain itu, ada juga peuyeum bendul, gula aren Cikeris, manisan pala, teh hijau, opak, browyeum (brownies peuyeum), dan colenak yang makin digandrungi.

Pusat-pusat kuliner di Purwakarta juga semakin semarak, seiring dengan pertumbuhan destinasi wisata unggulan yang ada. Kuliner menjadi salah satu industri kreatif yang berkembang paling pesat di Purwakarta.

Penjaja sate maranggi, misalnya, saat ini dengan mudah bisa ditemukan di berbagai sudut kota. Pada 14 Desember 2012, bahkan sate maranggi dikukuhkan Kemenparekraf sebagai salah satu dari 30 Ikon Kuliner Tradisional Indonesia (IKTI).

Karena kekhasannya tersebut, sate maranggi juga telah dibranding oleh pakar periklanan Subiakto Priosoedarsono. Bahkan, saat Presiden Joko Widodo ke Washington DC, AS, Oktober 2015, pakar kuliner William Wongso memasak menu Sate Maranggi untuk acara di sana.

Salah satu pusat kuliner sate maranggi yang tersohor di Purwakarta adalah Sate Maranggi Haji Yetty di Cibungur. Pusat kuliner ini sudah ada sejak tahun 1990 yang lalu.

H. Yetty, sang pemilik rumah makan mengatakan jika awalnya dirinya melakukan usaha ini dengan coba-coba. Sebelumnya, sejak tahun 1980 orang tuanya adalah pedagang es kelapa, soto, dan gado-gado, bertempat di lokasi yang sama. “Dengan dibimbing orang tua, saya disarankan untuk membuka sate yang hanya dibumbui kecap. Saat itu usaha orang tua yang hanya es kelapa saja sudah ramai. Saya masuk dengan usaha sate, tidak terlalu repot mencari pelanggan baru,” katanya.   

Salah satu daya tarik yang menjadi ciri khas sate H Yetty adalah terletak pada bumbu dan sambalnya. Karena kedua hal tersebut, di weekday (Senin-Jumat) dirinya bisa menghabiskan hingga 2-3 kuintal daging. Sementara di weekend, diakuinya, daging yang dihabiskan bisa mencapai 4-6 kuintal.

Selain digandrungi karena keistimewaan rasa satenya, rumah makan ini juga menyajikan aneka kuliner lainnya seperti tutug oncom, tutut, ayam bakar, dan ikan bakar.  “Di Purwakarta ada banyak sate maranggi, semua memiliki karakteristik tersendiri. Termasuk saya yang memiliki karakter sendiri. Tutug oncom, tutut, dan lainnya hanya sebagai pelengkap dan kami sajikan bersama di sini.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *