20 September 2020

Sentra Anggrek: Sulap Halaman Rumah jadi Ladang Rupiah

Foto: Ist

Bagikan:

TOPRENEUR.ID – Menanam rupiah di halaman rumah! Ya, itulah yang dilakukan oleh sekelompok orang, para pecinta anggrek di kawasan Kampung Rawa, Kebon Jeruk. Dari areal halaman rumah, anggrek-anggrek itu berubah menjadi kucuran rupiah. Sejak tahun 1994, kawasan ini terus bermetamorfosa menjadi sentra anggrek di jantung ibu kota. Kini, anggrek made in Jakarta ini banyak diborong ke luar Jawa.

Sejarah bermula ketika pada 1994 ada beberapa orang yang memulai menanam anggrek di halaman rumah mereka di Kampung Rawa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Lambat laun, para penanam anggrek pun kian menyebar hingga menjadi puluhan orang. Dalam hal budidaya anggrek ini, mereka menggunakan metode yang sama. Memanfaatkan halaman rumah sebagai arena pembibitan.

Muas salah satunya. Pria ini mewarisi usaha orang tuanya yang lebih dulu menjadi petani  anggrek. Menurutnya, usahanya ini dimulai sekitar tahun 2000 dengan modal yang tidak terlalu besar. Ketika itu, ia hanya bermodalkan uang Rp 10 juta yang kemudian digunakan untuk membeli 1.000 anggrek beserta kelengkapannya. “Ya, awalnya saya membeli 1.000 anggrek dari daerah Bogor. Lalu, saya kembang biakkan sampai sekarang,” katanya.

Setelah 13 tahun berjalan, usahanya ternyata mampu bertahan di tengah persaingan yang cukup ketat. Bahkan, kini ia juga telah memiliki beberapa pelanggan tetap yang mendistribusikan anggreknya ke seluruh pelosok Tanah Air. “Kalau anggreknya sudah siap jual, ada beberapa pelanggan yang sudah siap membeli. Anggrek dari saya itu, mereka kirimkan lagi ke luar Jawa,” ucap Muas.

Diakuinya, para pelanggannya itu bisa membeli sekitar 300-400 pohon per sekali order. Soal harga, per pohonnya dibanderol antara Rp 15 ribu – Rp 20 ribu. Muas memang memiliki pelanggan yang loyal karena kekhasan anggrek yang dijualnya. Kini, di tangannya, sudah ada dua varian anggrek yang dijual. Antara lain, anggrek berwarna biru-ungu yang dinamai kiyoshi, dan anggrek berwarna putih-kuning bernama wangling. “Jadi, hanya pelanggan yang mencari anggrek kiyoshi dan wangling saja yang datang ke sini. Kalau mencari anggrek lain, silakan datang ke tempat lain,” tegasnya.

Dikatakan Muas, di sentra anggrek Kampung Rawa ini, ada sekitar 20 petani anggrek yang bermukim. Sebelumnya, bahkan jauh lebih banyak lagi, sebelum para petani anggrek di kawasan ini banyak yang menjual halaman rumahnya untuk dijadikan bangunan. Praktis, yang bertahan hingga kini hanya mereka yang benar-benar mencintai anggrek.

Namun, dengan semakin sedikitnya para petani anggrek, membuat petani yang bertahan kian dibanjiri berkah. Pasalnya, jumlah persaingan pastinya semakin menipis. “Benar, semakin sedikit petani anggrek, ya kami yang bertahan semakin untung. Karena para pelanggan anggrek yang biasa memesan pada petani yang kini gulung tikar, menjadi beralih ke petani anggrek yang tetap bertahan. Tak aneh, jika tingkat permintaan makin tinggi,” tukasnya.   

Namun, ke 20 petani anggrek itu, tidak menanam anggrek serupa. Mereka memiliki kekhasan dan karakteristiknya masing-masing. Karena itulah, masing-masing petani memiliki pangsa pasar dan pelanggannya tersendiri. Cara pemasarannya pun masih sederhana, hanya berbasis telepon. “Saya tidak khawatir kehilangan pelanggan. Karena anggrek yang saya jual ini khas. Para petani anggrek lainnya juga begitu. Mereka punya ciri khasnya,” ungkapnya.

Dari hasil pembibitan, di tempatnya saat ini sudah ada ribuan anggrek yang siap dibesarkan dan menjadi ladang rupiah. Untuk menjadi tanaman siap jual, harus ada beberapa proses yang dilalui dari mulai pembibitan sampai pembesaran dengan rentang waktu yang tidak sebentar. Tapi yang dilakukannya akan terbayar lunas, jika anggreknya banyak dipesan pasar. “Sebulan, saya bisa untung bersih antara Rp 3 juta – Rp 4 juta,” aku pria yang kini telah menanam anggrek di dua lokasi yang bersebelahan itu.

Petani anggrek lainnya adalah Iqbal, pria yang sudah menjadi petani anggrek sejak tahun 1997. Sebelum membudidayakan anggrek, Iqbal adalah penjual tanaman tanaman hias. Namun, karena persaingan yang terlalu ketat di usaha tanaman hias, membuat ia beralih menjadi seorang petani anggrek. “Di Jakarta, sentra tanaman hias makin banyak. Oleh sebab itu, permintaan terhadap tanaman hias semakin menurun. Saya pun akhirnya memilih anggrek, karena tanaman ini juga banyak disukai masyarakat,” sebutnya. Kini dalam sebulan, Iqbal mampu menjual antara 200-300 pohon anggrek dengan omzet sekitar Rp 7 juta hingga Rp 10 juta.

Pelanggan Iqbal bukan hanya datang dari kawasan Jabodetabek, dari luar kota pun ia sering menerimanya, seperti Sulawesi dan Sumatera. Diakuinya, mereka semua merupakan pelanggan tetapnya, yang umumnya rutin memesan anggrek tujuh kali dalam setahun. “Memang, penjualan terbanyak masih dari Jakarta dan sekitarnya. Tapi pembeli luar kota juga harus tetap dilayani dengan baik. Pasalnya, sekali order bisa langsung banyak,” tandasnya.

Baik Muas maupun Iqbal, mereka mengaku, dirinya tertarik dengan anggrek karena perawatannya yang mudah dan anggrek merupakan salah satu tanaman yang tahan terhadap cuaca. “Menanam anggrek ini memang susah-susah gampang. Tapi jika dibandingkan dengan pohon hias sejenis lainnya, anggrek masih lebih gampang. Perawatannya hanya disiram pagi-sore dan di pupuk saja. Harus sabar dan ulet intinya!”

Ke depan, Muas bahkan berencana akan terus memperluas lokasi penanaman anggreknya. Ia berharap agar Pemerintah Daerah turut berperan dalam pengembangan sentra anggrek di kawasan ini dan juga terus mendorong minat generasi muda yang kian luntur dalam hal budidaya anggrek. “Jangan hanya dijadikan sentra saja, tapi kalau bisa harus diberdayakan lebih baik. Sekarang ini, minat anak muda terhadap budidaya anggrek bisa dikatakan sudah tidak ada.  Dengan didukung pemerintah, mudah-mudahan jangkauan penjualan bisa semakin besar,” harapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *