Situs berita bisnis, UKM, entrepreneurship, inspirasi sukses, dan industri kreatif di Indonesia

Sentra Percetakan Kebayoran, Tersohor Sampai ke Luar Jawa

4 min read

Foto: ISTIMEWA

Read Time3 Minutes, 49 Seconds

TOPRENEUR.ID – Sejak tahun 1980-an, kawasan Jalan Baru, Kebayoran Lama, memang sudah dikenal sebagai sentra percetakan di selatan Jakarta. Di kawasan ini, awalnya hanya ada 5 gerai percetakan yang konsisten menjajakan jasanya. Belakangan, percetakan di lokasi ini kian menjamur dan dihuni oleh lebih dari 20 gerai. Kini, sentra ini pun dikenal luas oleh masyarakat, termasuk dari Pulau Sumatera dan Kalimantan.   

Kebutuhan akan jasa percetakan memang tak pernah mati. Karena itulah, bisnis jasa cetak selalu bertumbuh dari waktu ke waktu. Di kawasan Jalan Baru, Kebayoran Lama, salah satunya. Terletak di samping rel kereta api, beberapa gerai percetakan membentang di sepanjang itu. Dari waktu ke waktu, gerai yang menawarkan jasa cetak pun terus menjamur. Tak aneh, jika di kawasan itu, bukan hanya percetakan besar yang ada, gerai percetakan minimalis pun tumpah ruah.

Kini, sekitar 20 gerai percetakan ada di lokasi tersebut. Apri, pemilik CV Dila Print, yang sudah ada sejak tahun 1998 menuturkan, jika dirinya sudah mengenal kawasan tersebut sejak ia masih kecil. Ia tertarik untuk terjun dengan dunia percetakan, pasca lulus dari sekolah grafika. Namun, dirinya tidak langsung membuka usaha, sebelumnya ia bekerja di sebuah percetakan di kawasan Mampang Prapatan.

Menurut Apri, dirinya memilih untuk membuka Dila Print pada 1998 di lokasi tersebut, karena jaraknya yang bersebelahan dengan toko penyedia semua jenis kertas dan film. Keberadaan toko tersebut, juga telah memikat beberapa pengusaha cetak lain untuk menjaja jasanya di kawasan itu. “Ya, dengan adanya toko kertas dan film itu, pasokan kebutuhan cetak kami jadi lebih cepat dan mudah. Karena di bisnis ini, kecepatan (on time), adalah yang utama,” terangnya.

Selain itu, bergerak bisnis ini pun harus selalu mengikuti perkembangan teknologi, khususnya mesin cetak. Oleh sebab itu, karena tak ingin bisnisnya ketinggalan zaman, Apri selalu rajin mengikuti berbagai pameran percetakan. Diakuinya, dari hari ke hari, mesin cetak itu makin canggih. “Selain canggih, harga mesin tersebut mahal-mahal. Tapi karena tak mau kalah saing, saya pun nekat membelinya dengan ‘menyekolahkan’ sertifikat rumah orang tua. 8 tahun lalu, harga mesin masih Rp 280 juta,” sebut Apri.

Saat ini, untuk mendukung bisnisnya, setidaknya ia telah memiliki 12 mesin cetak termasuk membeli satu mesin offset printing merek Heidelberg buatan Jerman seharga Rp 4,5 miliar. Disebutkannya, keunggulan cetak offset dari digital ini diperuntukkan bagi order dalam jumlah besar. “Konsumen lebih cenderung akan memilih offset printing dari pada digital printing saat mencetak dalam jumlah besar. Selain bisa mencetak lebih cepat, pertimbangannya adalah offset printing juga terbilang lebih ekonomis.”

 
Dalam menjalankan bisnisnya, ia menerapkan konsep layanan satu atap atau proses cetak dari mulai pracetak (desain) hingga finishing dilakukan dalam satu tempat. Dengan layanan ini, proses cetak bisa lebih cepat dan ongkosnya pun bisa lebih murah.

“Ya, saya melayani konsumen dari proses pracetak, seperti mendesain bentuk dan naskah cetakan, dan  desain grafis, sampai ke pembuatan film separasi, dan pembuatan master aluminium plate. Selanjutnya, proses cetak, baik dicetak secara offset maupun digital printing,” tukasnya. Selain itu, ia juga melayani proses finishing, seperti menjilid, binding, laminating, pond, perforasi, dan lainnya.

Dengan dibantu oleh 30 karyawan, kini Dila Print biasa melayani order dari berbagai daerah, seperti dari Jawa Barat, Sumatera Barat, dan Kalimantan. “Kebanyakan sih, mereka cetak buku, poster kampanye, banner, baliho, spanduk, dan lain-lain. Kelebihannya, mereka tidak perlu datang ke sini, cukup kirim orderan melalui e-mail. Kalau sudah jadi, hasilnya kami kirimkan,” ucap pria 37 tahun ini.

Selain Apri, pengusaha yang menjaja jasa cetak lainnya adalah Tito. Tidak berbeda jauh dengan Apri, Tito Printing pun berdiri di kawasan tersebut karena dekatnya dengan toko penyedia kertas dan film. Tito mendirikan usahanya di tahun 2000. “Memang, toko kertas itu bagai magnit yang menarik banyak pengusaha percetakan untuk pindah ke sini. Banyak kok pengusaha percetakan yang di daerah lain tidak bagus, begitu dipindahkan ke sentra ini, seketika omzetnya membaik,” akunya. 

Tito juga menambahkan, jika bisnis percetakan prospeknya masih cukup bagus. Ia mencontohkan, bisnis ini bisa hidup dengan banyaknya kebutuhan masyarakat akan jasa cetak. Musim pernikahan, misalnya, ia bisa meraup rejeki dari hasil mencetak undangan. Di akhir tahun, percetakan pun diuntungkan dengan banyaknya orang yang mencetak kalender. Yang lebih dahsyat, ketika musim Pilkada, Pemilu/Pilpres tiba, banyak pasangan calon yang mencetak berbagai alat kampanye.

“Musim Pilkada itu bisa dikatakan masa panen lah. Karena sentra ini sudah dikenal dalam soal cetak mencetak, ya orang pada datang ke sini,” tuturnya.

Baik Apri maupun Tito, mereka bisa bertahan di bisnis ini karena menerapkan layanan satu atap, plus lokasi yang berdekatan dengan toko penyedia bahan baku. Apri menyebut, banyak usaha percetakan yang lokasinya jauh dari pusat bahan baku, akhirnya mereka tak bisa bertahan lama. “Tapi yang jelas, bagi saya, bisnis ini harus lurus dan tulus. Sebagai pimpinan, saya harus bisa menjadi teladan bagi semua karyawan. Itu kuncinya!”pungkas Apri.

0 0

About Post Author

Redaksi

Editor
0 %
Happy
0 %
Sad
0 %
Excited
0 %
Angry
0 %
Surprise

1 thought on “Sentra Percetakan Kebayoran, Tersohor Sampai ke Luar Jawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *