19 September 2020

Sri Yuliastuti: Produk Rendangnya Menembus Pasar Ekspor

Bagikan:

TOPRENEUR.id – Sebagai salah satu kuliner paling enak sejagat, popularitas rendang tak bisa diragukan lagi. Agar rendang semakin menjangkau pasar global, dibutuhkan para pelaku usaha yang tidak hanya memasarkan di pasar lokal tapi juga menargetkan pasar dunia. Salah satunya Sri Yuliastuti, lewat Rendang Uni Tutie yang dibuatnya, kini terus menyasar target market di kawasan global. 

Uni Tutie, demikian panggilannya, sudah sejak tahun 2016 menekuni usaha produksi rendang. Dirinya mulai berjualan rendang, sebetulnya sudah dimulainya sejak 2015 melalui media social yang ada. Ketika ada pesanan datang, Uni Tutie terus mempelajari selera pasar. Akhirnya, dirinya memutuskan untuk fokus dan benar-benar menjalankan usaha kuliner rendang. Maka ia pun segera mengurus berbagai perizinan terkait keperluan usahanya tersebut.

Nah, pada Februari 2016, Rendang Uni Tutie pun mulai menjalankan usahanya dengan kelengkapan izin yang sudah dikantonginya. Diakuinya, pasar rendang ini memang jauh lebih sedikit daripada bakso, mie ayam, dan sejenisnya. Tapi karena sejak awal niatnya ingin menjadi industri yang berorientasi ekspor, ia yakin jika potensinya sangatlah besar.

Tuti bercerita, jika usahanya dimulai dengan modal 2 ekor bebek atas order konsumennya via online. Lalu, merambah ke rendang ayam dan daging. Saat ini justru rendang daging yang paling diminati oleh konsumennya. Tak hanya daging, beberapa varian lainnya seperti rendang paru, rendang jengkol, rendang kacang merah, dan dendeng. “Dalam sehari kami mampu produksi hingga 20 kg untuk semua varian. Tapi kapasitas produksi kami dalam sehari itu bisa sampai 100 kg,” kata Tuti.

Agar proses menembus pasar ekspor semakin terbuka, sebisa mungkin dirinya memenuhi segala aturan termasuk kelengkapan sertifikasi. Misalnya, saat ini dirinya tengah mengurus sertifikasi HACCP yang difasilitasi oleh BSN.  

Tuti melihat perkembangan usaha yang dilakukannya berkembang cukup baik. Tahun demi tahun pertumbuhan usahanya juga baik, hal ini bisa dilihat, misalnya, dari jumlah order yang masuk setiap bulannya. “Bagi saya, ini sudah sangat luar biasa. Sebab, saya memulai usaha ini dari nol. Mengembangkannya juga sempat berdarah-darah juga. Sekarang produk ini sudah beredar di pasar lokal dan sebagian di pasar global, ini adalah sesuatu yang luar biasa,” katanya.

Di pasar luar negeri, produk Rendang Uni Tutie banyak dibawa sebagai oleh-oleh atau bekal bagi para traveller. Kemasannya yang praktis, mudah dibawa, dan tahan lama, membuat rendang ini digemari sebagai bekal dalam berwisata. “Kalau berkunjung ke Negara lain yang susah menemukan produk halal, kemasan rendang ini sangat berguna. Atau produk ini juga bisa dibawa untuk keperluan naik gunung atau bagi orang yang tidak mau ribet hanya untuk cari makanan,” jelasnya.

Selain banyak dimanfaatkan sebagai buah tangan, Tuti menyebut jika rendangnya juga sudah mulai memasuki pasar ritel modern. Beberapa ritel seperti Farmer Market, Sarinah, e-commerce Lemonilo juga turut menjual produk ini. “Kami juga tengah bernegosiasi untuk bisa menjual produk ini di ritel yang berpusat di Timur Tengah, Lulu Hypermarket.”

Dikemas dalam kemasan plastik yang memiliki ketahanan tinggi, produknya dijual dalam ukuran 250 gram dan 120 gram. Harganya dari Rp25 ribu hingga Rp90 ribu per pieces. 

Menurut Tuti, ia cukup beruntung sebab konsumen rendangnya di dalam negeri adalah kalangan menengah-atas. “Pasar kelas ini cukup efektif untuk pasar rendang. Sebab, kalau ini dilempar ke pasar tradisional, jelas tidak akan bisa. Selain di dalam negeri, untuk pasar luar negeri saya juga sudah mendapatkan buyer asal Malaysia yang siap menjualkan rendang di sana dan Filipina. Dia biasanya order sebanyak 150 pieces yang terdiri dari rendang daging, paru, dan dendeng. Selebihnya, produk rendang ini juga pernah dibawa ke Jepang, Taiwan, dan Hong Kong.”

Tuti melihat jika rendang ini perlu merangsek pasar luar negeri. Sebab rendang diketahui sebagai salah satu kuliner paling lezat di dunia, sehingga perlu diperkenalkan ke seluruh pelosok dunia. “Kita punya beragam makanan paling enak di dunia, salah satunya rendang. Sekarang ini tinggal bagaimana memasarkannya di pasar global. Untuk produksinya, para pelaku usaha rendang bisa berkolaborasi dalam memasok kebutuhan rendang ini,” katanya.

Ia meyakini jika ke depan pasar kuliner rendang di kancah global semakin terbuka, apalagi Kadin Indonesia juga memiliki komitmen untuk semakin mempopulerkan rendang di dunia. “Kalau umpamanya nanti harus memproduksi rendang massal, tentu pelaku rendang ini akan diajak berkolaborasi untuk sama-sama memproduksinya.

”Ke depan, wanita berusia 53 tahun ini akan tetap fokus menggarap pasar lokal sambil terus merambah pasar ekspor. Perubahan gaya hidup masyarakat yang hobi travelling semakin meyakinkan dirinya jika potensi bisnis rendang ini, ke depan, akan semakin bergairah.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *