Tarif Ojol Naik: Ancaman Kemiskinan Baru, Kata Pakar Unair

Redaksi

Tarif Ojol Naik: Ancaman Kemiskinan Baru, Kata Pakar Unair
Sumber: Kompas.com

Demo pengemudi ojek online (ojol) beberapa waktu lalu di berbagai wilayah Indonesia menyoroti isu kenaikan tarif. Pemerintah menanggapi dengan rencana kenaikan tarif ojol antara 8-15 persen, diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan para pengemudi.

Namun, rencana tersebut menuai kontroversi. Seorang pakar ekonomi memperingatkan potensi munculnya masyarakat miskin baru akibat kebijakan ini.

Potensi Munculnya Masyarakat Miskin Baru Akibat Kenaikan Tarif Ojol

Profesor Dr. Rossanto Dwi Handoyo, Ph.D., Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, mengungkapkan kekhawatirannya terkait rencana kenaikan tarif ojol. Ia menekankan perlunya kajian mendalam mengenai dampaknya terhadap jutaan pekerja informal digital dan konsumen.

Menurut Prof. Rossanto, belum tentu kenaikan tarif langsung berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan pengemudi. Transparansi pemerintah dalam menjelaskan tujuan dan mekanisme implementasi kebijakan sangat penting.

Kenaikan Tarif Ojol: Lebih dari Sekedar Kesejahteraan Pengemudi?

Prof. Rossanto mempertanyakan apakah kenaikan tarif benar-benar untuk kesejahteraan pengemudi atau justru membebani masyarakat. Ia menyarankan agar fokusnya bukan hanya pada kenaikan tarif, tetapi pada penetapan pendapatan minimum per transaksi yang dijamin bagi pengemudi.

Sistem yang tepat diperlukan agar kenaikan tarif efektif meningkatkan pendapatan pengemudi. Tanpa pengaturan yang baik, kenaikan tarif hanya akan membebani konsumen tanpa meningkatkan kesejahteraan pengemudi.

Analisis Dampak Ekonomi dan Solusi yang Berkelanjutan

Prof. Rossanto mengingatkan bahwa garis kemiskinan di Indonesia sekitar Rp 600.000 per kapita per bulan. Sebuah keluarga dengan empat anggota membutuhkan minimal Rp 2,4 juta per bulan untuk hidup layak.

Jika seorang pengemudi ojol sebagai tulang punggung keluarga hanya mendapatkan pendapatan di bawah angka tersebut, maka keluarga tersebut tergolong miskin. Ini menunjukkan pentingnya memastikan pendapatan pengemudi mencukupi kebutuhan dasar keluarga.

Ia menekankan pentingnya regulasi yang adil dalam ekosistem ekonomi digital. Digitalisasi yang tidak terkendali dapat memperlebar kesenjangan ekonomi, terutama bagi pekerja informal seperti pengemudi ojol.

Prof. Rossanto berharap pemerintah tidak hanya melihat kebijakan ini sebagai solusi jangka pendek. Diperlukan pembangunan ekosistem transportasi digital yang inklusif, adil, dan berkelanjutan.

Negara harus aktif mengatur agar tidak terjadi dominasi pihak tertentu. Tanpa intervensi negara, yang kuat akan semakin kuat, dan kesenjangan ekonomi akan semakin lebar.

Kesimpulannya, rencana kenaikan tarif ojol perlu dikaji secara menyeluruh dan komprehensif. Fokusnya harus pada peningkatan kesejahteraan pengemudi tanpa membebani konsumen dan menciptakan masyarakat miskin baru. Regulasi yang adil dan berkelanjutan sangat krusial dalam ekosistem ekonomi digital yang terus berkembang ini.

Also Read

Tags

Topreneur