Situs berita bisnis, UKM, entrepreneurship, inspirasi sukses, dan industri kreatif di Indonesia

Top! Demi Meraih Sukses, Wanita Cantik ini Tahan Banting Meski Bangkrut Berkali-kali

5 min read
Read Time5 Minutes, 23 Seconds

Topreneur.ID – Bangkrut berkali-kali, masuk rumah sakit juga berkali-kali akibat dikejar-kejar konsumen. Naik-turun ojek dan bajaj di tengah terik matahari untuk mencari bahan produknya. Di usianya yang masih muda, perjuangannya itu adalah jempolan. Dan, akhirnya dia pun menuai hasil yang ditanamnya!

Tak banyak wanita yang di usianya yang masih muda, mau bergulat untuk kesuksesan bisnisnya. Tapi Valentina Meiliyana membuktikan itu. Di usianya yang kala itu masih 14 tahun, ia berjuang atas kemauannya sendiri untuk mencari rupiah. Sekadar uang tambahan, saat itu dirinya sudah menghasilkan omzet hingga jutaan rupiah dari berjualan tas dan sandal di forum Kaskus.

Nyalinya dalam berbisnis semakin membara di usianya yang kelima belas tahun. Ia beralih bisnis dengan menjual produk fashion (baju –red). Di saat teman-teman seusianya menghabiskan waktu untuk sekolah dan bermain, tapi Valentina sibuk mengurusi bisnisnya, disamping tetap harus belajar. Dirinya juga tak ragu untuk berbelanja aneka bahan bakunya ke Tanah Abang. “Saya memulai bisnis ini dari nol atas inisiatif sendiri. Bukan modal dari orang tua atau karena orang tua bangkrut. Waktu itu saya putuskan untuk berjualan baju custom,” katanya.

Dengan masuk dunia bisnis di usianya yang masih muda, Valentina pun tak lepas dari jerat tantangan. Misalnya, ia mengaku kenyang ditipu dari bahan sampai harga. Tapi hal itulah yang kemudian memprosesnya untuk semakin kuat dan menjadikan insting bisnisnya kian tajam. Dia rela kehilangan masa bermain demi masa depan yang lebih baik. “Tak mudah juga bagi saya. Sebab, yang lain masih main, saya harus belajar sekaligus menjalankan bisnis. Ke Tanah Abang untuk beli bahan sendiri, sejujurnya tidak enak. Tapi saya harus melakukannya.”

Buah dari jerih payahnya terbalas ketika kucuran omzet dari usahanya terus mengalir. Dari bisnis fashionnya saat itu ia sudah memperoleh omzet hingga puluhan juta setiap bulannya. Seiring dengan waktu, bisnis yang ditekuninya pun merambah ke sepatu. Inilah awal keterlibatan Valentina di bisnis sepatu yang mengantarnya menjadi pembicara seputar entrepreneurship di berbagai forum atas kesuksesan yang diraihnya.

Foto: Instagram Valentina

Di bisnis sepatu, ia mengawalinya sebagai reseller. Diakuinya, waktu itu ia memiliki tiga supplier sepatu yang ketiganya bermasalah. Yang pertama, harga sepatunya murah tapi kualitas produknya jelek. Lalu supplier yang kedua, harganya mahal tapi sebanding dengan kualitasnya yang bagus. “Nah, yang ketiga ini harganya miring dan barangnya juga bagus. Tapi orangnya galak banget. Bagi saya sebagai pelaku usaha pemula, semua ini bermasalah. Akhirnya, saya putuskan untuk mencari supplier yang lain,” ulas dia.

Mencari supplier sepatu pun bukanlah urusan yang mudah. Oleh sebab demikian, Valentina harus rela berkeliling ke berbagai pelosok dari Jakarta, Depok sampai Bandung untuk mencari supplier yang cocok. Masalah kemudian adalah, ternyata para pembuat sepatu tidak bisa dipesan satuan, melainkan harus pesan partai alias dalam jumlah banyak.

“Waktu itu saya ada yang order untuk buat sepatu 12 pasang. Mereka tentu tidak bisa, karena jumlahnya terlalu sedikit. Sebagai pebisnis saya harus professional dong. Saya tetap ngotot, bagaimanapun caranya harus bisa buat sepatunya. Akhirnya, ada salah satu pengrajin sepatu yang mau dengan catatan harganya lebih mahal. Tapi semahal-mahalnya mereka, ternyata masih cukup murah juga dan hasilnya memuaskan. Mulai dari situlah bisnis sepatu saya semakin berkembang,” kata wanita berusia 22 tahun ini.

Sepatu besutan Valentina pun makin dikenal luas dan masuk ke jaringan selebritas. Banyak artis ibukota yang membeli sepatu darinya. Pada 2011 Valentina pun mulai banyak diliput oleh media. Kala itu dirinya sudah mampu menjual hingga ratusan pasang sepatu.

Namun ujian baginya rupanya masih belum selesai. Sebab, lagi-lagi Valentina harus berurusan dengan supplier yang tidak professional. Ia bercerita, pembuatan ratusan sepatu terpaksa delay yang membuatnya dikejar-kejar konsumen. “Perjalanan bisnis itu bukan sesuatu yang mudah. Saya sempat stress karena memikirkan bisnis. Banyak yang mengejar saya karena pesanan mereka terlambat. Akhirnya, saya memilih untuk membuka pabrik sendiri dan memutus kerjasama dengan supplier,” sebutnya.

Dengan modal lebih dari Rp100 juta, ia mengawali mimpi untuk perjalanan bisnis yang makin baik. Dana tersebut dipakai untuk membuat pabrik sepatu sendiri dengan mempekerjakan beberapa pembuat sepatu. Tapi hal itu ternyata tak seindah yang dibayangkan. Dalam perjalanannya, SDM (karyawannya –red) bermasalah. “Harusnya dalam sehari bisa buat 10 sepatu, misalnya, karena telat masuk kerja yang seharusnya jam 9.00 jadi jam 13.00, dalam sehari dia hanya mampu buat 2 sepatu. Dengan kondisi demikian, beberapa orderan dari konsumen, saya tidak bisa memenuhinya. Saya yang menjadi korban dan diomelin konsumen.”

Kondisi itu terus berlanjut dan berlarut-larut. Sampai pada suatu titik, dimana Valentina harus mengambil keputusan pahit. Pabrik yang dibangunnya dengan modal besar, terpaksa harus gulung tikar. “Saya menyerah. Capek. Sudahlah, lebih baik stop. Saya tutup pabrik. Itulah titik terendah saya. Yang pasti, sedih banget.”

Babak Kedua, Mulai dari Nol

Dengan banyaknya pengalaman pahit yang dilaluinya dalam bisnis, tak juga membuat Valentina benar-benar menyerah. Semangat entrepreneurshipnya masih tetap berkobar. Dalam kondisi bangkrut dan tidak ada modal, ia memilih jalan lain di bisnis Ovomaltine. Pelan tapi pasti, keran rezekinya kembali mengalir.

Menurut Valentina, bisnis ini memang keuntungannya sangat minim. Tapi ia harus melakukannya, karena ini adalah harapannya untuk kembali bangkit. “Sejujurnya kecil sekali untungnya. Saya pernah punya omzet sampai Rp52 juta tapi untungnya hanya Rp500 ribu. Kecil sekali, tapi dari situ saya jadi punya semangat lagi. Saya masih muda, masih punya banyak waktu untuk menjadi lebih baik. Saya sadar, jika teman kesuksesan itu adalah kegagalan. Jika saya gagal, berarti Tuhan sedang memproses saya untuk naik kelas. Meskipun untungnya kecil, saya lanjutkan bisnis ini,” terangnya.

Sampai kemudian Valentina akhirnya menemukan bisnis lain di bidang manajemen artis. Bisnis inilah yang menuntunnya kembali bersinar dan bertahan hingga sekarang. Dari bisnis ini pula ia bisa mengumpulkan modal untuk kembali bergerak ke babak kedua dari bisnis sepatunya. Dengan brand Valentina, saat ini ia mulai produksi sepatu yang jauh lebih berkualitas dengan konsep bisnis yang lebih meyakinkan.

Foto: Instagram

Sepatu yang dibuatnya tidak lagi dibuat secara custom, tapi berdasarkan hasil desainnya sendiri. Saat ini ia bisa memproduksi sekira 100 pasang dengan target penjualan yang ingin dicapai hingga 1.000 pasang setiap bulan. Harganya sebanding dengan kualitas yang ditampilkan. “Banderolnya mulai dari Rp300 ribu. Tidak mahal juga, tapi kualitasnya oke. Saya palai bahan terbaik untuk lapisan dalam dan luar. Saya tidak suka complain. Dari pada murah dan kena komplain, lebih baik agak mahal tapi top.”

Dalam waktu dekat, dirinya juga berencana untuk melakukan ekspansi bisnis dengan membuat tas khusus wanita. Ia berharap agar perjalanan bisnisnya di masa depan akan jauh lebih baik dari sebelumnya. “Sejujurnya persaingan sangat ketat. Tapi konsumen tetap akan melihat pada kualitas produk, lalu inovasi yang dihadirkan. Di era ini penataan website dan Instagram yang baik juga perlu dilakukan. Dan jika tidak aral melintang, saya ingin agar suatu saat sepatu saya ini bisa dijual mall,” demikian Valentina.

0 0

About Post Author

Redaksi

Editor
0 %
Happy
0 %
Sad
0 %
Excited
0 %
Angry
0 %
Surprise

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *