26 November 2020

Viral! Sayudi yang Lulusan SD Jadi Juragan Ratusan Warteg di Ibukota

Sayudi pemilik warteg Kharisma Bahari/Foto: ist

Bagikan:

Topreneur.id – Sayudi atau lebih banyak dikenal dengan sebutan Yudika, adalah pria asal Tegal kelahiran tahun 1973, yang kini menjadi juragan warteg di Jakarta.

Kisah perjalanannya untuk menjadi sukses seperti sekarang pun, tidak terjadi seketika. Pria yang hanya lulusan SD ini sebelum akhirnya  memutuskan untuk hijrah ke Jakarta, pernah mencicipi profesi sebagai petani. Sebagian dari hasil taninya lalu ia tabung, dan kemudian ia berkelana di Jakarta.

Di Jakarta nasib baik belum memihaknya. Dengan hanya ija zah SD tak banyak pekerjaan yang bisa dipilihnya, untuk hidup malahan ia lebih memilih untuk menjadi pedagang asongan di kawasan Pulogadung di usianya yang masih sangat muda.

“Saya memang hanya tamatan SD, dulu saya tidak mau sekolah, padahal kakak-kakak saya minimal SMA pendidikannya. Karena tak mau sekolah dan anggapan orang jelek, hal itu memicu saya untuk bisa maju dan membuktikan jika dengan ijazah SD pun bisa sukses.”

Saya ke Jakarta dan selama 14 tahun saya menjadi pedagang asongan rokok. Modalnya hanya Rp 100 ribu hasil tani di kampung,” cerita Yudika.

Setelah 14 tahun menjadi pedagang asongan, Yudika memutuskan untuk menikah dengan salah satu teman wanitanya ketika di SD dahulu. Tak banyak perubahan terjadi pada hidupnya pasca menikah, ia kembali ke Jakar ta dan melanjutkan profesinya sebagai pengasong.

“Nah, kira-kira setelah setahun berjal an,saya mencoba untuk buka usaha warteg bersama istri. ltu bukan warteg sendiri, saya hanya jadi karyawannya,” katanya.

Keuletan dan kerja kerasnya pelan- pelan membuahkan hasil, ia bertemu jalan hidup baru di warteg. Dengan modal yang sebagian berhutang, ia pun nekat membuka usaha warteg sendiri. Kala itu wartegnya pun tidak permanen melainkan kaki lima di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan.

Dari hanya satu cabang, lalu ia bisa membuka cabang lagi di kawasan Cipete. Terakhir, ia buka satu cabang lagi di tempat yang berdekatan.

“Jadilah saya punya 3 cabang saat itu. Tapi di kemudian hari ternyata dengan 3 cabang yang ada, penghasilan tak ada perubahan. Akhirnya, saya ubah konsepnya, dimana 2 cabang lainnya saya serahkan ke orang lain dan dia wajib setor bulanan.”

Dengan sistem setoran tetap per bulan, hasilnya cukup bagus. Mereka yang menunggu ja di punya semangat lebih, dan penghasilan mereka pun lebih besar dari yang disetorkan,” ujar Yudika

Dari pengalamannya mengelola warteg, ia pun menemukan ide besar lainnya. la membuat sebuah terobosan baru di bidang perwartegan, yakni kemitraan warteg dengan cara beli putus. Ide ini pun berangkat dari adanya permintaan orang-orang yang memintanya untuk dicarikan lokasi warteg brand Warteg Kharisma Bahari.

Dengan konsep baru ini ia memiliki komitmen untuk bisa menaikkan derajat warteg yang semula kumuh dan kotor menjadi lebih bersih dan sehat.

Kekuatan berita dari mulut ke mulut, akhirnya mengantarnya menjadi juragan warteg. Sudah ratusan warteg dibuatnya dengan konsep franchise atau kemitraan. Banyak orang yang mendatanginya untuk dibuatkan warteg seperti  orang lndramayu sampai Padang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *