Pengalaman perjalanan seorang profesor ke New York, Amerika Serikat, selama dua pekan di bulan Mei 2025, memberikan gambaran menarik tentang kehidupan dan budaya di kota tersebut. Kunjungan ini dilatarbelakangi oleh pernikahan putrinya yang berlangsung khusyuk dan lancar.
Selain momen bahagia tersebut, sang profesor juga menyempatkan diri untuk mengamati berbagai aspek kehidupan di New York, khususnya yang berkaitan dengan budaya membaca dan sistem pendidikan.
Toko Buku, Perpustakaan, dan Budaya Membaca di New York
Salah satu destinasi yang dikunjungi adalah Barnes & Noble, toko buku legendaris yang telah berdiri sejak 1917. Profesor tersebut terkesan dengan keramaian pengunjung yang terus-menerus.
Ia membandingkan hal tersebut dengan kondisi di Indonesia, dan menekankan perlunya peningkatan budaya membaca di dalam negeri.
New York Public Library (NYPL), dengan puluhan cabang dan lebih dari 50 juta koleksi buku, juga menjadi daya tarik tersendiri bagi warga lokal dan pengunjung.
Menariknya, majalah dan koran fisik masih banyak beredar di New York, berbeda dengan tren di Indonesia yang semakin beralih ke media digital.
Sistem Pendidikan yang Berkualitas Tinggi di New York
New York dikenal sebagai kota yang menawarkan pendidikan berkualitas tinggi bagi keluarga.
Hal ini menjadi salah satu faktor utama bagi diaspora Indonesia untuk memilih tinggal dan membesarkan anak-anak mereka di kota tersebut.
Subsidi pemerintah untuk biaya sekolah juga menjadi bukti komitmen kota terhadap akses pendidikan yang terjangkau. Contohnya, subsidi biaya sekolah berbayar di Chinatown yang turun drastis dari USD 55 per minggu menjadi hanya USD 5.
Berbagai Sistem Pendidikan dan Budaya Belajar yang Luar Biasa
Selain sistem sekolah umum, terdapat pula pilihan lain seperti homeschooling.
Profesor tersebut bertemu dengan seorang diaspora yang memilih homeschooling untuk anaknya yang cerdas dan memiliki kecepatan belajar di atas rata-rata. Anak tersebut bahkan mampu membaca 50 buku setiap minggunya di usia 7 tahun.
Hal ini menunjukkan fleksibilitas dan pilihan sistem pendidikan yang tersedia di New York, menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing anak.
Inspirasi dari Theodore Roosevelt: Idealism dan Pragmatisme
Kunjungan ke Natural History Museum New York memberikan inspirasi tambahan.
Profesor tersebut menemukan sebuah prasasti yang ditulis oleh Presiden Theodore Roosevelt (1901-1909), yang berpesan kepada generasi muda Amerika untuk “keep your eyes on the stars and keep your feet on the ground”.
Pesan tersebut menjadi motivasi bagi generasi muda untuk tetap idealis namun tetap pragmatis dalam menjalani kehidupan.
Secara keseluruhan, pengalaman di New York memberikan pembelajaran berharga tentang pentingnya budaya membaca, sistem pendidikan yang inklusif, serta keseimbangan antara idealisme dan pragmatisme. Hal-hal ini dapat menjadi inspirasi bagi pembangunan di Indonesia.
Penulis, Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI dan Adjunct Professor Griffith University Australia, berharap pengalamannya ini dapat menginspirasi pembaca.







